Oleh-oleh dari Bukit Menoreh di Yogyakarta International Airport

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin 6 Mei 2019. Saat ini Bandara YIA mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin 6 Mei 2019. Saat ini Bandara YIA mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Yogyakarta International Airport atau YIA resmi beroperasi pada Senin, 6 Mei 2019. Bandara baru ini dilengkapi sedikitnya lima titik gerai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai etalase produk buatan masyarakat Yogyakarta, mulai dari cinderamata, pakaian, hingga kuliner khas.

    Baca: Naik Kereta ke Yogyakarta International Airport Diskon 50 Persen

    Beroperasinya Yogyakarta International Airport juga diikuti dengan penyelesaian pembangunan infrastruktur baru bernama Bedah Bukit Menoreh. Proyek wisata ini ditargetkan selesai pada 2023. Jalur Bedah Bukit Menoreh sepanjang 61 kilometer merupakan penghubung bandara baru Kulon Progo ke Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

    Jalur Bedah Menoreh ini akan menjadi tempat berbagai sentra cinderamata dan transit wisatawan dari bandara sebelum sampai Candi Borobudur. Sejumlah koperasi di Yogyakarta bersiap agar dapat bersaing memasok produk-produk unik pengisi gerai UMKM di Yogyakarta International Airport atau menjadi pelaku wisata di sepanjang jalur Bedah Menoreh.

    Salah satunya koperasi yang tengah bersiap adalah Koperasi Griya Jati Rasa. Koperasi ini memiliki sejumlah kelompok binaan dengan anggota mayoritas perempuan di wilayah Kabupaten Kulon Progo maupun Bantul.

    Sejak 2017, Koperasi Griya Jati Rasa mendapat sokongan dari Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat, Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), mendampingi anggotanya membuat produk cinderamata dengan sasaran wisatawan mancanegara. "Kami berharap jalur Bedah Menoreh membuka peluang masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya," ujar Ketua Pengurus Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa, Beny Susanto kepada Tempo, Senin 6 Mei 2019.

    Baca juga: Yogyakarta International Airport Dekat Pantai Selatan, Amankah?

    Berbagai produk yang dibuat anggota koperasi itu, antara lain Teh Ki Suko dari Kebun Teh Bukit Menoreh Kulon Progo, Kopi Moka dari Kebun Kopi Menoreh Kulon Progo, Kerajinan Kayu dari Dusun Jaranan Bantul, dan Batik Tulis dari Dusun Imogiri. "Produk ini dibuat dengan standar higienitas dan layak jual agar bisa menjadi oleh-oleh wisatawan," ujarnya.

    Beny Susanto mencontohkan, Teh Ki Suko merupakan teh kesehatan yang proses penanaman, perawatan, hingga pengolahan dilakukan secara organik dan bebas pestisida. Teh ini dibuat dari teh hijau kemudian diolah menjadi dua varian yakni Yellow Premium dan Green Premium.

    Berbagai oleh-oleh produksi masyarakat Yogyakarta siap dipasok untuk wisatawan di Bandara Yogyakarta International Airport. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Ada pula Kopi Moka Bukit Menoreh hasil para petani di Kulon Progo. Seorang petani kopi, Marwiyah mengatakan kopi buatannya sudah ada sejak 2007 silam. "Cita rasanya masih sama seperti dulu, hanya kemasannya sekarang dibuat lebih menarik," kata dia.

    Berbagai oleh-oleh produksi masyarakat Yogyakarta siap dipasok untuk wisatawan di Bandara Yogyakarta International Airport. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Untuk kerajinan kayu, ada beragam kalung, gelang dan atribut berbahan kayu yang mengangkat karakter dunia pewayangan dengan sentuhan akhir yang halus. Kerajinan kayu ini berasal dari Dusun Jaranan, Bantul.

    Berbagai oleh-oleh produksi masyarakat Yogyakarta siap dipasok untuk wisatawan di Bandara Yogyakarta International Airport. TEMPO | Pribadi Wicaksono


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.