Yogyakarta International Airport Dekat Pantai Selatan, Amankah?

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat komersial maskapai Citilink mendarat di landasan Yogyakarta International Airport (YIA) saat

    Pesawat komersial maskapai Citilink mendarat di landasan Yogyakarta International Airport (YIA) saat "Proving Flight" di Kulon Progo, DI Yogyakarta, Kamis 2 Mei 2018. Uji coba perdana pesawat komersial dengan rute penerbangan CKG-YIA-CKG tersebut menjadi salah satu bagian persiapan operasional YIA. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Yogyakarta International Airport siap beroperasi. Sejumlah pesawat telah melakukan uji coba lepas landas dan mendarat di bandar udara yang terletak di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta ini.

    Baca: Naik Kereta ke Yogyakarta International Airport Diskon 50 Persen

    Pada Sabtu, 4 Mei 2019, Wakil Presiden Jusuf Kalla mencoba penerbangan domestik dari Lapangan Udara Halim Perdanakusuma ke Yogyakarta International Airport. "Tadi saya merasakan pendaratan yang aman, lancar, dan mulus. Terasa kalau landas pacu bandara ini bagus," kata Jusuf Kalla. Kunjungan Jusuf Kalla bersama rombongan Kementerian Perhubungan saat itu sekaligus memastikan kesiapan operasional bandara tersebut.

    Landas pacu Yogyakarta International Airport berjarak sekitar 400 meter dari bibir pantai Selatan Jawa yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Posisi ini dianggap terlalu dekat dengan garis pantai dan khawatir berpotensi terkena tsunami.

    Mengutip akun Instagram Angkasa Pura I, pengelola Bandara Yogyakarta International Airport itu menyatakan telah mempertimbangkan potensi bencana di wilayah pantai selatan sebelum membangun. Landasan pacu pesawat atau runway dibangun pada ketinggian 7,8 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berjarak 1kilometer dari pantai.

    Bandara New Yogyakarta International Airport atau NYIA di Kulon Progo, Yogyakarta. Sumber: Angkasa Pura I

    Begitu juga dengan apron dan terminal yang masing-masing dibangun dengan ketinggian 8 dan 9 mdpl. Bangunan terminal Yogyakarta International Airport juga dirancang mampu bertahan ketika ada ancaman gempa hingga 8,8 skala magnitudo.

    Sebelumnya, peneliti tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT, Widjo Kongko mengingatkan potensi tsunami yang bakal menghantam Bandara Yogyakarta International Airport setinggi 10 sampai 15 meter di bibir pantai. "Bandara Kulon Progo belum siap operasi dan tidak aman karena aspek mitigasi tsunami belum dibangun. Jadi tak siap menghadapi potensi tsunami," kata Widjo Kongko, Minggu 7 April 2019.

    Baca juga: Mengapa Bandara Kulon Progo Tak Pakai Nama Pahlawan?

    Aspek mitigasi tsunami yang dia maksud adalah sabuk hijau atau bakau dan gumuk pasir sebagai benteng penahan potensi tsunami. Jumlah pohon cemara udang tak seberapa banyak di pinggir pantai dan tidak ada tanaman bakau. Hanya tambak-tambak udang yang berdiri di sekitar area bandara berpagar kawat menghadap ke bibir pantai.

    PT Angkasa Pura I melibatkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG untuk memasang sistem Automatic Weather Stations untuk mendeteksi cuaca ekstrem. Peralatan tersebut sudah dipasang dan akan ada personel BMKG yang berjaga di bandara saat alat tersebut beroperasi.

    Hanya saja, menurut Widjo Kongko, Automatic Weather Stations tidaklah cukup karena alat itu tidak berhubungan dengan tsunami. Untuk mendeteksi potensi tsunami, diperlukan buoy dan radar.

    Project Manager Bandara Yogyakarta International Airport PT Angkasa Pura I, Taochid Purnama Hadi mengatakan perihal aspek mitigasi tsunami, seperti gumuk pasir dan sabuk hijau bukan tanggung jawab Angkasa Pura I. "Meski begitu, kami siap bekerja sama untuk hal tersebut," kata dia.

    Artikel terkait:
    Penerbangan ke Bandara Adisutjipto Akan Dialihkan ke Bandara NYIA

    Taochid merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 98 tahun 2017 tentang Pecepatan Pembangunan dan Pengoperasian Bandar Udara Baru di Kabupaten Kulon Progo Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada Pasal 16 huruf e peraturan itu menyebutkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Bupati Kulon Progo, dan Bupati Purworejo yang semestinya membangun dan memelihara sistem peringatan dini bencana tsunami dan penghalang tsunami.

    RINI KUSTIANI | SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.