Kisah Arsitektur Between Two Gates di Kotagede Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu pintu gerbang rumah-rumah penduduk di dalam lingkungan Between Two Gates di Kampung Alun-alun, Kotagede, Yogyakarta. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Salah satu pintu gerbang rumah-rumah penduduk di dalam lingkungan Between Two Gates di Kampung Alun-alun, Kotagede, Yogyakarta. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Rumah-rumah lama di Kotagede, Yogyakarta, mempunyai keunikan. Sebagian rumah dibangun dalam satu pekarangan dengan satu pintu gerbang. Semacam cluster.

    Baca: Wisata Sejarah, Kisah Benteng Setebal 1 Meter Jebol Ditendang

    Tembok-tembok rumah sekaligus menjadi pagar lingkungan dalam satu pekarangan. Ada pula rumah-rumah dalam satu pekarangan yang mempunyai dua pintu gerbang yang berada di Kampung Alun-alun di Kelurahan Purbayan, Kotagede. Masyarakat menyebutnya sebagai perumahan Between Two Gates.

    Kenapa disebut Between Two Gates? Sebabnya, rumah-rumah itu dibangun berbanjar dari timur ke barat dan saling berhadapan utara dan selatan. Deretan rumah-rumah itu dipisahkan jalan kecil seperti lorong yang menghubungkan dua gerbang yang masing-massing di ujung timur dan barat.

    Ada sembilan rumah yang dibangun. Uniknya, satu kepemilikan rumah terbagi di sisi utara dan selatan yang saling berhadapan. Artinya, setiap rumah yang berhadapan adalah milik satu orang. Rumah induk berada di sisi utara menghadap selatan.

    Masyarakat setempat meyakini bangunan tak boleh menyamai bangunan keraton yang menghadap ke utara, melainkan menghadap ke selatan atau menghadap keraton. Namun hasil sejumlah penelitian menyebutkan ada alasan fungsional mengapa rumah menghadap selatan.

    Baca juga: Akhir Pekan, Ajak Anak Bertani dan Beternak di Desa Wisata Gamol

    "Sisi selatan itu pantai (pantai selatan), utara itu gunung (Merapi). Manfaatnya, kalau malam bisa menyimpan angin sehingga tidak panas," kata pemandu Jelajah Pusaka Kotagede, Lutfi Eviyani, Minggu 21 April 2019.

    Suasana rumah-rumah kuno penduduk di dalam lingkungan Between Two Gates di Kampung Alun-alun, Kotagede, Yogyakarta. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Sementara bangunan yang berseberangan dengan rumah induk adalah area publik atau berupa pendapa. Untuk akses jalan, setiap penduduk yang tinggal di sana mesti merelakan sebagian lahannya selebar sekitar 1,5 meter.

    Dengan kata lain, bangunan setiap pemilik dibelah jalan untuk akses keluar masuk. "Istilahnya itu tanah rukun. Merelakan tanah di tengah-tengah jalan untuk menjadi milik bersama," kata pemandu lainnya di Jelajah Pusaka Kotagede, David Nugroho.

    Setiap bangunan rumah di Between Two Gates menunjukkan kerukunan dan keguyuban antar penduduk. Pertama, mereka bisa menggunakan pendapa sebagai tempat untuk mengadakan pengajian atau aktivitas bersama lainnya. Penduduk yang rumahnya lebih sempit bisa meminjam pendapa tetangganya.

    Baca juga: Wisata Sejarah, Teka-teki Letak Kerajaan Mataram di Kotagede

    Kedua, bangunan-bangunan induk yang berimpitan dengan bangunan tetangga satu dan lainnya dipisahkan pintu yang saling berhubungan di bangunan belakang. Semisal ada tamu dan kehabisan gula atau teh, mereka bisa meminta gula atau teh dari tetangga sebelah lewat pintu belakang tanpa mempermalukan diri di hadapan tamu. "Mereka memegang prinsip tetangga itu keluarga terdekat. Kabar baik dan buruk, tetangga paling tahu lebih dulu," kata Lutfi.

    Bentuk keguyuban juga ditandai dengan dibuatnya tempat duduk dari beton di samping atau depan rumah. Bentuknya biasanya berundak di depan rumah. Tempat duduk-duduk itu disebut tadhah bokong atau tempat bokong. "Ini tempat ngobrol, chit-chat sama tetangga sehabis menyapu halaman," ucap Lutfi.

    Ada pula pilar penyangga yang disebut bahu danyang karena bentuknya seperti bahu orang yang tengah menyangga beban di atasnya. Bahu danyang berupa kayu yang menghubungkan dinding atau tiang penyangga dengan atap rumah.

    Arsitektur rumah adat Jawa dengan kayu penyangga yang disebut Bahu Danyang. Sudut khas ini masih lestari di rumah-rumah kuno di Kotagede, Yogyakarta. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Lutfi menjelaskan, bahu danyang hanya terdapat di rumah joglo yang ada di Kotagede. Ada yang mengatakan untuk tolak bala. "Tapi hasil kajian arsitek hanya untuk penyangga bangunan saja. Semakin rumit ukirannya, semakin tinggi status sosialnya," tutur Lutfi.

    Sementara desain rumah induk berupa teras di sisi depan, ruang lapang dengan empat pilar di sisi tengah, dan tiga ruang senthong yang disebut senthong kiwo, senthong tengen, dan senthong tengah.

    Artikel lainnya: Ketahui Akses ke Bandara NYIA dengan Kereta Api

    Dulu, senthong tengah dikosongkan sebagai tempat sesembahan Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Kini biasanya digunakan untuk salat. Senthong kiwo dan tengen digunakan untuk menyimpan senjata pusaka. Namun sekarang digunakan sebagai ruang tidur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.