Desa Ekowisata Pancoh, Menyulap Plastik Jadi Barang Kerajinan

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kegiatan wisata mengubah sampah plastik menjadi berbagai barang kerajinan, seperti rangkaian bunga, taplak meja, gantungan jlbab, dan lain-lain di desa Pancoh, Sleman, Yogyakarta. Tempo/Dini Pramita

    Kegiatan wisata mengubah sampah plastik menjadi berbagai barang kerajinan, seperti rangkaian bunga, taplak meja, gantungan jlbab, dan lain-lain di desa Pancoh, Sleman, Yogyakarta. Tempo/Dini Pramita

    TEMPO.CO, Sleman - Desa di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ini tampil beda dalam kancah wisata di tanah air. Kawasan ini dengan bangga menyebut dirinya sebagai Desa Ekowisata Pancoh.

    Tentu penyebutan itu bukan tanpa alasan. Dengan semangat cinta lingkungan dan mengembangkan kreatifitas, warga desa ini berhasil menyulap limbah plastik menjadi barang kerajinan yang menarik.

    "Jadi sampah yang berasal dari homestay, dari turis, telah diolah menjadi kegiatan wisata yang menarik," kata Menuk, pengelola Desa Ekowisata Pancoh, Sleman, Yogyakarta, 30 Juni, di Sleman.

    Di tangan tiga ibu kreatif ini, sampah plastik bekas minuman kemasan dapat dibuat menjadi hiasan berbenrtuk bunga, gantungan jilbab, hingga wadah serbaguna. Bahkan, kantung plastik pun dapat dibuat menjadi rangkaian bunga cantik dengan tekstur unik.

    Kegiatan menyulap sampah plastik menjadi barang-barang unik tersebut lantas dikelola menjadi kegiatan wisata. "Mereka (wisatawan)  dapat bonus, apa yang dibuat akan jadi oleh-oleh untuk dibawa pulang," kata dia.

    Dengan model pengelolaan sampah plastik tersebut, Menuk menuturkan, masalah sampah yang biasa dialami oleh pengelola homestay ketika kebanjiran tamu, teratasi. Kini, pengelolaan sampah merupakan salah satu sendi desa ekowisata yang menitikberatkan pada kelestarian lingkungan.

    Jika pengelolaan sampah sudah dilakukan dengan baik, kata dia, keberlangsungan pariwisata akan lebih terjaga. "Yang untung masyarakat juga," kata dia.

    Kegiatan warga desa Pancoh itu mendapat dukungan dari Bank Sampah Pancoh. Mariyah, 40 tahun, Ketua Bank Sampah Pancoh, Sleman, Yogyakarta, menuturkan lembaganya menerima plastik dari para nasabah. Dia tak tahu pasti berapa jumlah sampah yang disetor para nasabah itu. Sebab, sampah rumah tangga sangat tak tentu jumlahnya.

    Dari Bank Sampah, limbah itu yang sudah dipilah berdasarkan jenisnya akan disetorkan kembali ke Bank Sampah Handayani. Sebagian berpindah tempat ke kelompok para ibu pemandu kegiatan merangkai bunga di Desa Ekowisata Pancoh.

    Mariyah lalu memperlihatkan susunan plastik-plastik bening yang ditempel di dinding. Bukan sembarang plastik. Di dalam plastik tersebut ada sampel berbagai jenis botol pet bekas minuman kemasan, botol beling, dan sebagainya.

    Menurut Mariyah, sampel tersebut menunjukkan jenis sampah apa saja yang memiliki nilai ekonomis dan diterima oleh bank sampah yang dikelolanya. Dia tak tahu pasti berapa jumlah sampah yang disetor oleh para nasabah, layaknya menyetor uang. Sebab, sampah rumah tangga sangat tak tentu jumlahnya. "Dalam setahun rata-rata nasabah mendapatkan Rp100-180 ribu," kata dia, di Sleman, 30 Juni 2018.

    Dari Bank Sampah ini, sampah yang sudah dipilah berdasarkan jenisnya akan disetorkan kembali ke Bank Sampah Handayani. Sebagian ada juga yang berpindah tempat ke kelompok para ibu pemandu kegiatan merangkai bunga di Desa Ekowisata Pancoh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gaji Gubernur dan Perbandingan Luas Jawa Tengah dengan Malaysia

    Dalam Debat Pilpres 2019 pertama pada 17 Januari 2019, Prabowo Subianto menyinggung besaran gaji gubernur dengan mengambil contoh Jawa Tengah.