Senin, 22 Oktober 2018

Nasi Blawong, Makanan Sakral Sultan Yogyakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak dan menantu Sri Sultan Hamengkubuwono X berfoto bersama (ki-ka) KPH Yudonegoro, GKR Bendara (putri bungsu), KPH Wiranegara, GKR Pembayun (putri sulung), GKR Hayu (putri keempat), KPH Notonegoro, GKR Condrokirono (putri kedua), GKR Maduretno (putri ketiga), dan KPH Purbodiningrat di Bangsal Kesatriyan, kompleks Keraton Yogyakarta, (22/10). TEMPO/Suryo Wibowo.

    Anak-anak dan menantu Sri Sultan Hamengkubuwono X berfoto bersama (ki-ka) KPH Yudonegoro, GKR Bendara (putri bungsu), KPH Wiranegara, GKR Pembayun (putri sulung), GKR Hayu (putri keempat), KPH Notonegoro, GKR Condrokirono (putri kedua), GKR Maduretno (putri ketiga), dan KPH Purbodiningrat di Bangsal Kesatriyan, kompleks Keraton Yogyakarta, (22/10). TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Keluarga Keraton Kasultanan Yogyakarta punya makanan spesial yang hanya disajikan pada acara peringatan tingalan Dalem, atau ulang tahun Sultan. Makanan itu bernama nasi blawong.

    Menurut istri almarhum Gusti Bendara Pangeran Haryo Jokokusumo (adik bungsu Sultan Hamengku Buwono X), Raden Ayu Nuraida, nasi blawong disajikan pada acara ulang tahun Sultan sejak zaman Hamengku Buwono I sampai sekarang.

    Nuraida yang juga menulis buku 100 resep masakan keraton berjudul "Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta" menjelaskan, nama nasi blawong berasal dari tempat penyajiannya, yakni piring besar berwarna biru. Warna biru dalam Bahasa Belanda adalah blaw. Lidah Jawa pun keseleo dengan menyebutnya blawong.

    Rupa nasi blawong berwarna merah, meskipun beras yang digunakan adalah beras putih. Warna kemerahan berasal dari aneka rempah yang dipakai saat menanak.

    Sebagai lauk-pauknya, nasi ini didampingi ayam goreng bacem, telur pindang, serta masakan daging sapi yang dipotong seukuran dadu dan diolah dengan bumbu kecap. Olahan daging ini bernama daging lombok kethok.

    Rasa nasi blawong ini gurih. "Yang membuat gurih itu karena pakai bawang merah utuh," ujar Nuraida kepada Pito Agustin Rudiana dari Tempo, 10 November 2014 lalu. Saking spesialnya, nasi blawong hampir tidak dapat ditemukan di tengah masyarakat. "Bagi kalangan Keraton, nasi blawong dianggap sakral."

    Topik: #KULINER

    TIM TEMPO

    Berita terkait:
    Kelas-kelas Kuliner di Solo
    Jakarta Ibu Kota Negara, Medan Ibu Kota Kuliner
    Di Solo, Sekat Sosial Hilang Lewat Perut
    Makanan Indonesia adalah...?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.