Senin, 22 Oktober 2018

Kenapa Pariwisata di Jawa Timur Kurang Menarik?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang joki memacu sapi kerapan dengan tangan kosong, pada Eksebisi Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan dan Penyiksaan, di Stadion Soenarto Hadiwidjojo, Pamekasan, Madura, Jatim, Minggu (12/2). ANTARA/Saiful Bahri

    Seorang joki memacu sapi kerapan dengan tangan kosong, pada Eksebisi Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan dan Penyiksaan, di Stadion Soenarto Hadiwidjojo, Pamekasan, Madura, Jatim, Minggu (12/2). ANTARA/Saiful Bahri

    TEMPO.CO, Surabaya - Jawa Timur memiliki banyak ikon tujuan wisata yang tak asing di kancah internasional. Sebut saja Karapan Sapi Madura, Gunung Bromo, Pegunungan Ijen, dan berbagai wisata budaya serta alam yang lain.

    Sayangnya, menurut Direktur Promosi Konvensi, Insentif, Event, dan Minat Khusus Kementerian Pariwisata Rizki Handayani jumlah turis yang datang ke obyek wisata tadi belum signifikan. Kenapa?

    "Pengemasannya masih kurang menarik," kata Rizki di Surabaya, Sabtu, 29 November 2014. Dia menyarankan pemerintah Provinsi Jawa Timur meningkatkan daya tarik destinasi wisata, sehingga wisatawan mau tinggal lebih lama.

    Rizki mencontohkan, Kota Surabaya memiliki wisata sejarah yang menarik. Namun, ia menilai museum Tugu Pahlawan kurang berhasil memaksimalkan sisi sejarahnya. "Kontennya kurang berhasil memunculkan nuansa perjuangan," katanya.

    Begitu pula dengan Pulau Madura. Karapan Sapi, kata Rizki, telah terkenal di kalangan wisatawan Eropa. Keberadaan jembatan Suramadu seharusnya mempermudah akses dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke sana. "Tinggal bagaimana mengemasnya, sehingga setiap kunjungan wisatawan bisa pas dengan even karapan sapi," ujarnya.

    Kemudahan infrastruktur diharapkan mempercepat pengembangan tujuan wisata di Jawa Timur. Selain jembatan Suramadu, terminal penumpang Gapura Surya Nusantara bisa mendorong peningkatan jumlah penumpang yang tinggal lebih lama dan melakukan transaksi. "Dengan menginap dan berbelanja, banyak multiplier effect yang bisa dihasilkan terhadap perekonomian," jelas Rizki.

    Kementerian merinci, rata-rata para penumpang kapal pesiar mengabiskan uang sekitar US$ 100-160 untuk berbelanja di titik persinggahan. Dihitung dari jumlah penumpang yang turun dan mengambil paket tur, yang berkisar antara 50-70 persen. Bahkan di Surabaya, hanya sekitar 30 persen saja yang memilih berkeliling di lokasi wisata terdekat. "Sedangkan kalau di Bali, satu orang wisatawan itu bisa belanja US$ 700."

    Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kunjungan kapal pesiar ke Indonesia meningkat. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, pada 2014 terdapat 350 kapal pesiar yang bersandar di pelabuhan nusantara.

    Kunjungan kapal terbanyak ialah di Tanjung Benoa Bali, menyusul pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dan pelabuhan-pelabuhan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pada 2013, jumlah destinasi wisata yang semula sebanyak 113 meningkat menjadi 135 titik pada 2014.

    Sementara itu, untuk ship calls tahun 2013 sebanyak 309 lantas meningkat menjadi 395 ship calls pada tahun ini. "Kalau dari sisi jumlah penumpang yang turun kapal tahun 2013 sebesar 159.579 orang. Tahun ini meningkat menjadi 216.660 orang," tutupnya.

    ARTIKA RACHMI FARMITA

    Topik terhangat: 

    Golkar Pecah |Interpelasi Jokowi | Ritual Seks Kemukus | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Kata Ruhut Soal Saling Sindir Jokowi-SBY
    Pollycarpus Bebas, Allan Nairn Beberkan Data TPF
    Ahok Idolakan Arsenal Karena Warna Kausnya
    Alex Asmasoebrata Bangga Berbesankan Muchdi  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.