Kaus Bahasa 'Walikan', Oleh-oleh Khas dari Malang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Soak Ngalam, salah satu toko penjual, sekaligus produsen, kaos bertema Malangan dengan bergambar lucu dan kata-kata yang jenaka khas Malang, seperti halnya Joger di Bali dan Dagadu di Yogyakarta. TEMPO/Abdi Purnomo

    Soak Ngalam, salah satu toko penjual, sekaligus produsen, kaos bertema Malangan dengan bergambar lucu dan kata-kata yang jenaka khas Malang, seperti halnya Joger di Bali dan Dagadu di Yogyakarta. TEMPO/Abdi Purnomo

    TEMPO.CO , Malang - Malam belum gelap betul. Putri Arum Nilawati menelepon ibunya di Kelurahan Sepinggan, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

    Putri Arum Nilawati bertanya selera model, warna, dan ukuran kaus yang mau dibeli di toko kaus Soak Ngalam di Jalan Kawi Atas 24, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Jawaban dari Sepinggan memantapkan Nilawati membeli dua kaus lengan panjang warna biru. Barang belanjaan Nilawati dibungkus rapi oleh Andini Chintiyasari, karyawan toko.

    “Ibu dan kakak saya pesan dibelikan untuk dikirim ke Sepinggan. Saya sudah tiga kali beli kaus Malangan di sini karena kos saya dekat dari sini dan toko Soak Ngalam ini sering saya lewati,” kata Nilawati, 22 tahun.

    Mahasiswi semester akhir Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Malang itu menyukai bahan katun kaus yang dibuat Soak Ngalam selain desain unik dengan gambar dan kata-kata jenaka.

    Sebenarnya, sebagai orang Balikpapan, semula dia tak begitu mengerti arti kata-kata yang tercetak di kaus. Kata-kata yang dipakai dari bahasa Indonesia atau campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa logat Jawa Timur-an.

    Salah satu ciri khas pembeda antara bahasa arek Surabaya dan arek Malang adalah penggunaan bahasa terbalik yang galib dipakai oleh arek-arek Malang. Bahasa terbalik Malangan sering disebut sebagai "boso walikan" alias "osob kiwalan". Nama toko Soak Ngalam merupakan contoh konkret. Soak Ngalam sama dengan kaos Malang.

    Penggunaan bahasa Malangan pula yang menjadi pembeda paling kentara antara produk Soak Ngalam dengan kaus produksi Joger (Bali), Dagadu (Yogyakarta), Iwak Bandeng (Semarang), dan Cak-Cuk (Surabaya).

    “Awalnya saya sulit mengerti bahasa walikan. Tapi makin lama di Malang, saya jadi ngerti juga walau tak bisa lancar mengucapkannya," ujar Nilawati. Ia berniat membeli kaus sebagai oleh-oleh untuk temannya.

    Kalau Nilawati mulai mengerti boso walikan, Ronny dan empat temannya sama sekali tak mengerti. Ronny bersama kawannya baru turun berlibur di Kota Batu mau ke Kota Malang. Persis menjelang gapura perbatasan Kabupaten dan Kota Malang, rombongan Ronny mampir di toko kedua Soak Ngalam di Jalan Raya Mulyoagung, Kelurahan Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Rabu pekan lalu.

    Mereka senang desain Soak Ngalam, tapi yang dibeli justru beberapa suvenir berbahan keramik yang harganya lebih murah dari kaus. Sebaliknya, sepasang suami-istri masuk dan kurang dari 15 menit keluar sambil menenteng kantong kertas berisi dua kaus Soak Ngalam. “Buat oleh-oleh teman kami di Kendal (Jawa Tengah), Mas,” kata si pria, singkat.

    Soak Ngalam merupakan salah satu produsen kaus Malangan. Tempo mencatat, ada tujuh usaha serupa di Kota Malang: Udeng Bodol, Malangku, Obama (Oblong Aseli Malang), Pari’an, Ngalam Ilakes (Malang Sekali), Kunam (Manuk), dan Walikan.

    Namun, tidak semuanya memproduksi sendiri barang dagangan. Ada yang menjual produk kaus dari luar Malang, utamanya dari Yogyakarta, Bali, dan Solo. Beberapa di antaranya tidak mempunyai toko permanen, tapi melayani pembeli dengan sistem pemesanan secara online.

    Harga produk Soak Ngalam mulai dari harga Rp 65.000 sampai Rp 80.000 per kaos, Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per jaket, Rp 45.000 sampai Rp 70.000 per tas, serta Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per aksesori. Harga kaus anak-anak lebih murah Rp 10.000 dibanding kaus untuk segmen remaja dan orang dewasa.

    Harga kaus tergantung pada desain dan bahan kain. Untuk kaus berdesain glow in the dark, yang bisa “menyala” di malam hari atau di tempat gelap, Rp 75.000 per kaus. Sedangkan desain biasa Rp 65.000 per kaus.

    Menurut Andini Chintiyasari, pengelola Soak Malang, pembeli produk Soak Ngalam mayoritas turis domestik seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang. Turis domestik memang segmen utama pasar Soak Ngalam. Turis asing pun suka membeli di Soak Ngalam mayoritas berasal dari Belanda, Australia, Korea, dan Jepang.

    Orang-orang tua Malang yang tinggal di Jakarta dan kota lain yang mudik Lebaran suka membeli kaus di Soak Ngalam karena ingin bernostalgia, mengenang kebiasaan mereka dulu yang bercakap-cakap dengan boso walikan.

    Omzet penjualan kaus Soak Ngalam meningkat di hari-hari libur tertentu, seperti Lebaran, tahun baru, dan Natal. Di hari-hari biasa omzet penjualan antara Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta per hari dari 12 sampai 15 kaus seharga Rp 65.000 yang terjual.

    Di masa Lebaran, misalnya, omzet bisa meningkat antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta per hari. Pada masa Lebaran tahun lalu, omzet harian antara Rp 4 juta sampai Rp 6 juta. “Biasanya di hari pertama Lebaran sepi pembeli dan kami pun ikut libur. Pembeli mulai ramai di hari kedua ke atas, ya pas masa arus balik (H+7),” kata Andini.

    Toko Soak Ngalam didirikan pengusaha garmen asal Malang, Tjandra Purnama Edhi, pada 17 Desember 2009 di Jalan Kawi Atas pada November 2011. Lalu dibuka toko baru di Sengkaling, tepatnya di kiri jalan raya menuju kota wisata Batu atau di samping Hotel Universitas Muhammadiyah Malang.

    Menurut Tommy, pendirian Soak Ngalam dilatari kegelisahan belum adanya toko resmi khusus yang menjual kaus berbahasa terbalik. Boso walikan merupakan aset budaya khas Malang yang terancam punah dan penuturnya makin sedikit.

    Selain pesaing, tantangan terbesar yang juga dihadapi Soak Ngalam adalah persepsi masyarakat tentang oleh-oleh khas Malang. Selama ini Malang identik dengan kaus-kaus jersey klub sepak bola Arema Indonesia dan suporternya, Aremania. Puluhan industri kreatif pembuat kaus Arema bertebaran di seantero Kota Malang, dan mayoritas merupakan industri kecil kelas rumahan.

    Saking populernya klub Arema, kaus-kaus beratribut Arema dan Aremania pun laris manis dijadikan oleh-oleh oleh turis. Apalagi sejumlah pembuat kaus juga menggunakan bahasa walikan meski tetap saja gambar kepala singa yang paling menonjol, dengan tulisan besar Ongis Nade alias Singo Edan, Arema, dan Aremania.

    Soak Ngalam ingin menjadi oleh-oleh alternatif yang memperkaya keanekaragamana oleh-oleh khas Malang sehingga nantinya Malang tak melulu identik dengan apel malang, oskab (bakso), keripik tempe, serta kaus Arema dan Aremania.

    ABDI PURMONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.