Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Asal Usul Nasi Liwet, Sempat Jadi Makanan untuk Ritual Tolak Bala

image-gnews
Nasi liwet bisa menjadi ide buka puasa/Foto: Doc. Frisian Flag
Nasi liwet bisa menjadi ide buka puasa/Foto: Doc. Frisian Flag
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat di Indonesia memiliki banyak sekali makanan tradisional atau kuliner khas di setiap daerah. Salah satu makanan tradisional di Indonesia yang hingga saat ini masih banyak dikonsumsi yakni nasi liwet. Hidangan berupa nasi berbumbu harum itu banyak ditemui di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. 

Di Jawa Barat, ada nasi liwet Sunda yang disajikan beralas daun pisang dan dimakan scara bersama-sama. Biasanya nasi liwet disajikan dengan aneka lauk seperti ikan hingga petai. Sedangkan, di Jawa Tengah ciri khas dari nasi liwet Solo yakni nasi dengan bumbu gurih dan disiram dengan kuah sayur labu siam. 

Namun, hidangan nasi liwet juga terkadang terdiri dari nasi gurih yang disajikan bersama sayur lodeh labu siam, ayam suwir, telur kukus, dan dimakan dengan krupuk rambak. Selain itu, masakan ini biasanya disajikan dengan lauk pauk seperti ayam suwir, tahu tempe dan sambal. Setiap daerah memiliki nasi liwet khasnya tersendiri. Misalnya, nasi liwet Sunda tentu beda rasanya dengan nasi liwet Solo. Simak sejarah nasi liwet berikut.

Nasi liwet tertulis dalam Serat Centhini

Nasi liwet menjadi salah satu masakan tradisional yang cara pembuatannya tertulis dalam Serat Centhini. Serat Centhini sendiri merupakan salah satu karya sastra terbesar dengan penggunaan aksara Jawa dalam penulisannya di dunia.

Karya ini termasuk dalam kesusastraan Jawa Baru yang juga sering disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga dan ditulis pada 1814-1823 M silam. 

Serat Centhini sendiri menjadi karya sastra Jawa yang di dalamnya terdapat informasi mengenai sejarah kehidupan di Pulau Jawa, ilmu pendidikan, arsitektur, ilmu alam, filsafat, agama, makanan, adat istiadat, dan lain-lain. Gaya penyampaian dalam penulisan resep nasi liwet sendiri berbentuk tembang atau suluk. 

Dalam Naskah Centhini, penulisannya dikelompokkan menurut jenis tembangnya. Hal ini dimaksudkan agar ilmu pengetahuan serta kebudayaan Jawa tidak punah. Makanan nasi liwet asli Solo sendiri ada di dalam tulisannya pada 1819 M.

Nasi liwet mulanya dibuat oleh penduduk saat Pulau Jawa mengalami bencana alam gempa bumi besar, sehingga pembuatannya pada saat itu dikaitkan dengan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Jawa.

Nasi liwet saat itu dianggap sebagai penolak bala saat terjadi bencana. Bahkan, saat proses pembuatannya, dilakukan pembacaan lantunan doa-doa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dan terhindar dari segala bencana.

Nasi liwet disebut-sebut pertama dibuat oleh masyarakat biasa di Desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Menu nasi liwet atau sego liwet ini biasa dimasak oleh masyarakat Desa Menuran untuk disajikan pada saat acara syukuran.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pihak keluarga yang mengadakan acara syukuran tersebut dapat mencapai hal-hal yang mereka inginkan sekaligus diberikan keselamatan. 

Makanan tradisional nasi liwet yang mulanya dibuat di Desa Menuran pun sudah dimulai sejak 1582 M silam, yakni saat Kerajaan Mataram Islam berdiri. Saat itu, masyarakat Jawa meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW menyukai nasi samin yang salah satu bahannya yaknk minyak samin. Minyak samin sendiri terbuat dari lemak susu sapi.

Akhirnya, masyarakat mulai merefleksikan kecintaan sekaligus memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan membuat nasi gurih atau sego gurih yang dimasak dengan santan untuk menggantikan minyak samin.

Lalu, pada 1934, warga Desa Menuran mulai mengenalkan nasi liwet ala Menuran di wilayah Solo dan Surakarta, sehingga banyak orang mulai mencicipinya. Kelezatan nasi liwet ini pun semakin meluas, terutama di kalangan masyarakat biasa.

Bahkan, nasi liwet saat itu tidak hanya menjadi makanan sehari-hari di kalangan masyarakat biasa, tetapi juga menjadi hidangan favorit kaum ningrat Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta.

Hidangan nasi liwet dari Desa Menuran mulai dikenal di kalangan istana sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana ke IX (Raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1861-1893) atau sekitar abad ke-19. Biasanya, nasi liwet disajikan pada acara-acara besar di keraton, misalnya saat Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

MUTIARA ROUDHATUL JANNAH | MEUTIA MURTI DEWI

Pilihan Editor: Resep Membuat Nasi Liwet Khas Solo

 

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


World Water Forum, Indonesia Siapkan Masakan Khas Nusantara

25 hari lalu

Mantan Presiden Hungaria Janos Ader (ketiga kanan) dan istrinya Anita Herczegh (keempat kanan) mendapat penyambutan tari Bali setibanya di Terminal VVIP I Bandara I Gusti Ngurah Rai di Kabupaten Badung, Bali, Sabtu 18 Mei 2024. ANTARA FOTO/Media Center World Water Forum 2024/Nyoman Hendra Wibowo
World Water Forum, Indonesia Siapkan Masakan Khas Nusantara

Para kepala negara dan delegasi World Water Forum (WWF) ke-10 akan dijamu pada sambutan makan malam dengan jamuan masakan tradisional khas Nusantara


Resep dan Cara Membuat Kue Mangkuak, Hidangan Khas Minangkabau yang Mulai Langka

36 hari lalu

Kue Mangkuak khas Minang. Shutterstock
Resep dan Cara Membuat Kue Mangkuak, Hidangan Khas Minangkabau yang Mulai Langka

Sejumlah makanan tradisional khas Minangkabau mulai langka. Salah satunya Kue Mangkuak dengan cita rasa legit gula saka dan wangi kelapa.


5 Tradisi Unik Lebaran di Sumatera Barat, Malamang hingga Tradisi Bakajang

8 April 2024

Peserta malamang pada FBIM 2019, Palangka Raya, Selasa 18 Juni 2019.ANTARA/Muhammad Arif Hidayat
5 Tradisi Unik Lebaran di Sumatera Barat, Malamang hingga Tradisi Bakajang

Keunikan tradisi Idul Fitri atau lebaran di Sumatera Barat tak kalah dengan daerah lainnya. Di sini ada Malamang, Kabau SIrah, hingga Bakajang.


Mau Berbuka Apa Hari Ini? Simak Resep Nasi Liwet Sunda yang Gurih Kaya Rempah-rempah

31 Maret 2024

Nasi liwetan Sunda. Foto: Dahlia Rera
Mau Berbuka Apa Hari Ini? Simak Resep Nasi Liwet Sunda yang Gurih Kaya Rempah-rempah

Nasi liwet biasanya disajikan dengan alas daun pisang berukuran panjang dan biasanya dimakan secara beramai-ramai.


Nasi Liwet Solo, Menu Sahur Praktis yang Dapat Dicoba

29 Maret 2024

Nasi liwet bisa menjadi ide buka puasa/Foto: Doc. Frisian Flag
Nasi Liwet Solo, Menu Sahur Praktis yang Dapat Dicoba

Salah satu menu yang dapat dicoba adalah menu nasi liwet Solo apabila ingin menjadikannya sebagai menu sahur, dapat dicoba.


3 Rekomendasi Nasi Liwet Teranyar di Daerah Solo

29 Maret 2024

Pedagang membagikan nasi liwet kepada warga saat Syukuran Pedagang di Pasar Kadipolo, Solo, Jawa Tengah, Rabu, 10 Juni 2020. Dalam acara tersebut, para pedagang juga berdoa agar pandemi COVID-19 segera berakhir. ANTARA/Mohammad Ayudha
3 Rekomendasi Nasi Liwet Teranyar di Daerah Solo

Untuk kulineran di Solo, silakan mampir ke penjual nasi liwet khas Solo yang biasa ditemukan di daerah Gajahan, Kedung Lumbu, dan Kratonan.


Cara Melestarikan Kuliner Tradisional Menurut Sejarawan

11 Februari 2024

Ilustrasi Makanan tradisional madumongso. ANTARA/Siswowidodo
Cara Melestarikan Kuliner Tradisional Menurut Sejarawan

Melestarikan kuliner tradisional Indonesia bisa dimulai dari rumah, misalnya dengan menanam tanaman rempah di lingkungan rumah.


5 Kuliner Khas Pangandaran, Jangan Lewatkan Pindang Gunung

3 November 2023

Kreasi nasi liwet pete/Foto: Cookpad/Mama Al
5 Kuliner Khas Pangandaran, Jangan Lewatkan Pindang Gunung

Selain menawarkan wisata pantai, Pangandaran juga memiliki beragam jenis makanan yang memanjakan lidah.


Meriah Car Free Day di Sudirman-Thamrin Hari Ini, Ada Perayaan Maulid Nabi dan 100 Abad Pondok Gontor

22 Oktober 2023

Arak-arakan santri alumni Pondok Modern Gontor saat ikuti Car Free Day dalam acara
Meriah Car Free Day di Sudirman-Thamrin Hari Ini, Ada Perayaan Maulid Nabi dan 100 Abad Pondok Gontor

Suasana car free day di Sudirman-Thamrin hari ini terlihat meriah karena ada perayaan Mualid Nabi dan 100 tahun Pondok Modern Gontor.


Peringati Maulid Nabi, Ustad Maulana Beri Siraman Rohani di Pegadaian

18 Oktober 2023

Peringati Maulid Nabi, Ustad Maulana Beri Siraman Rohani di Pegadaian

PT Pegadaian melalui Unit Usaha Syariah bersama Rohani Islam (ROHIS) Kantor Pusat menggelar acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H