FAA Umumkan Aturan Baru, Penumpang Pesawat Nakal Terancam Penjara

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penumpang pesawat terbang diperiksa oleh petugas Transportation Security Administration (TSA) setelah melalui pemindai seluruh badan, di Bandara Internasional Los Angeles, di Los Angeles, California, Amerika serikat, Kamis (20/2). REUTERS/Kevork Djansezian

    Seorang penumpang pesawat terbang diperiksa oleh petugas Transportation Security Administration (TSA) setelah melalui pemindai seluruh badan, di Bandara Internasional Los Angeles, di Los Angeles, California, Amerika serikat, Kamis (20/2). REUTERS/Kevork Djansezian

    TEMPO.CO, Jakarta - Federal Aviation Administration atau lembaga regulator penerbangan Amerika Serikat (FAA) mengumumkan konsekuensi yang lebih ketat untuk penumpang pesawat nakal di pesawat mengingat meningkatnya jumlah insiden setelah kerusuhan US Capitol yang mematikan pekan lalu.

    "Seorang penumpang yang menyerang, mengancam, mengintimidasi, atau mengganggu anggota awak maskapai akan menghadapi denda hingga US$ 35 ribu (Rp 491 juta) serta penjara," kata FAA dalam pengumumannya, Rabu, 13 Januari 2021. Perintah itu juga akan berlaku bagi mereka yang menolak memakai masker, yang saat ini dibutuhkan maskapai penerbangan karena pandemi Covid-19. Arahan baru itu akan diberlakukan hingga 30 Maret.

    "Terbang adalah moda transportasi teraman dan saya menandatangani perintah ini agar tetap seperti itu," kata Administrator FAA Steve Dickson dalam sebuah pernyataan.

    Sebelumnya, FAA mengatakan penumpang yang tidak patuh diberi peringatan, ditawarkan konseling atau menghadapi hukuman sipil. Semakin banyak pemain industri dan politikus, termasuk calon Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer, telah meminta mereka yang terlibat dalam kerusuhan pro-Trump di Capitol untuk dimasukkan dalam daftar larangan terbang.

    Selain itu, Alaska Airlines melarang 14 penumpang yang menolak untuk memakai masker dalam penerbangan dari Bandara Internasional Dulles ke Bandara Internasional Seattle-Tacoma.

    FAA mengatakan tidak memiliki otoritas pengaturan atas daftar larangan terbang, tetapi telah memulai lebih dari 1.300 tindakan penegakan hukum terhadap penumpang yang tidak patuh selama 10 tahun terakhir. Tindakan itu juga dilakukan di tengah ketegangan di ibu kota negara menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden.

    Para pejabat telah memperingatkan orang-orang untuk tidak datang ke Washington D.C. untuk acara tersebut dan Airbnb telah membatalkan semua reservasi untuk minggu itu serta berjanji untuk menghapus pengguna yang diidentifikasi terkait dengan kelompok pembenci atau kerusuhan US Capitol.

    Layanan Taman Nasional juga telah membatalkan sementara tur di Monumen Washington dan mengatakan mungkin menutup akses publik ke jalan raya, area parkir dan toilet di National Mall dan di Taman Memorial.

    Delta Air Lines juga tidak akan mengizinkan penumpang pesawat yang terbang ke area Washington D.C. dalam penerbangan mereka menjelang pelantikan, kata CEO maskapai Ed Bastian kepada CNBC, Kamis. "Kami semua dalam siaga tinggi berdasarkan kejadian selama beberapa minggu terakhir di Washington," katanya.

    Baca juga: Pria Pembawa Bendera Konfederasi di Kerusuhan US Capitol Ditangkap

    TRAVEL AND LEISURE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.