Bali Incar Wisatawan dari 3 Negara Asia Ini di Masa New Normal

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pecalang meminta wisatawan mancanegara untuk mengenakan masker sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di wilayah Desa Adat Jimbaran, Badung, 18 Mei 2020. Dalam kesehariannya, Pecalang bersama petugas kemananan lainnya rutin melakukan patroli di wilayah desa adatnya masing-masing untuk memastikan situasi di wilayahnya kondusif sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

    Pecalang meminta wisatawan mancanegara untuk mengenakan masker sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di wilayah Desa Adat Jimbaran, Badung, 18 Mei 2020. Dalam kesehariannya, Pecalang bersama petugas kemananan lainnya rutin melakukan patroli di wilayah desa adatnya masing-masing untuk memastikan situasi di wilayahnya kondusif sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri pariwisata di Bali menargetkan bisa menjaring wisatawan dari negara-negara terdekat seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam, di masa new normal. Saat itu, pariwisata di bali dinyatakan siap dibuka untuk pasar internasional.

    Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau ASITA Bali, I Putu Winastra mengatakan, saat ini industri dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali sedang bersiap untuk menghadapi new normal dengan menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

    "Protokol tersebut akan diterapkan pada setiap sektor pariwisata, antara lain transportasi, akomodasi, restoran, dan seluruh objek wisata," kata Winastra dalam keterangan tertulis, Sabtu 6 Juni 2020. Protokol tersebut disiapkan berdasarkan 'customers journey' yang fokus terhadap tiga hal, yaitu kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

    Panduan itu mulai dari wisatawan harus menyiapkan berbagai persyaratan yang dipenuhi sebelum berangkat ke Bali, seperti surat pernyataan bebas Covid-19, itinerary, tanggal kedatangan, dan dokumen lain yang disyaratkan pemerintah. Juga protokol saat wisatawan tiba di bandara, saat melakukan aktivitas tur hingga kembali ke bandara untuk penerbangan kembali ke negara asal.

    Mengenai segmentasi pasar, Winastra menjelaskan, negara-negara terdekat seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam dapat menjadi andalan untuk menunjang pariwisata Bali saat nanti dibuka untuk pasar internasional. "Untuk awal memang fokus ke pasar domestik. Namun ketika pasar internasional dibuka, kami berharap kedatangan wisatawan dari negara-negara terdekat seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam," kata dia.

    Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif - Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf - Baparekraf) Nia Niscaya mengatakan, penting untuk menjaga kepercayaan terhadap citra Indonesia kepada pasar wisata internasional. Caranya, menyampaikan kebijakan serta informasi terkini mengenai destinasi wisata di Indonesia serta memfasilitasi industri pariwisata Thailand, Vietnam, dan Myanmar dengan Indonesia untuk mempertahankan hubungan kerja sama dalam menghadapi tatanan new normal pariwisata.

    "Indonesia perlu memberikan 'product update' kepada industri pariwisata di Thailand dan Indochina terkait apa yang sudah dikerjakan oleh Indonesia untuk mempersiapkan destinasi wisata guna menyambut kembali kunjungan wisatawan mancanegara," kata Nia. Kementerian Pariwisata, menurut dia, telah menyiapkan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata dalam program Cleanliness, Health, and Safety atau CHS.

    "Kami berharap pelaku industri pariwisata di Thailand, Vietnam, dan Myanmar mendapatkan gambaran terkait penerapan protokol new normal, dalam hal ini adalah protokol CHS di Indonesia, khususnya Bali," kata Nia Niscaya. Gambaran tersebut menjadi informasi penting bagi wisatawan dan berpengaruh pada penjualan produk wisata Indonesia di masa mendatang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.