Bisnis Transportasi Cina Jatuh di Saat Peak Season

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria melihat sejumlah jadwal pesawat yang dibatalkan sebuah bandara di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 23 Januari 2020. Beberapa maskapai memilih membatalkan sejumlah jadwal penerbangan dari dan ke Wuhan sebagai antisipasi merespons pemberitahuan larangan perjalanan dari otoritas Wuhan mengenai dampak wabah Virus Corona. cnsphoto via REUTERS

    Seorang pria melihat sejumlah jadwal pesawat yang dibatalkan sebuah bandara di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 23 Januari 2020. Beberapa maskapai memilih membatalkan sejumlah jadwal penerbangan dari dan ke Wuhan sebagai antisipasi merespons pemberitahuan larangan perjalanan dari otoritas Wuhan mengenai dampak wabah Virus Corona. cnsphoto via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Bisnis transportasi Cina anjlok. Baik perjalanan udara, darat dan kereta api. Bisnis tersebut jatuh justru selama musim puncak Tahun Baru Imlek. Pasalnya, meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran virus corona mendorong orang untuk tetap tinggal di rumah.

    Menurut Liu Xiaoming, Wakil Menteri Transportasi Cina jumlah penumpang kemungkinan turun 45 persen secara tahunan selama musim liburan yang berlangsung selama 40 hari yang berakhir pada 18 Februari.

    Antara 25 Januari-14 Februari 2020, maskapai penerbangan di Cina mengangkut rata-rata 470.000 orang per hari, hanya seperempat dari volume tahun lalu.

    "Jumlah penumpang dari 15-23 Februari 2020 diperkirakan hanya sepersepuluh dari periode puncak musim liburan sebelumnya," kata Li Jian, wakil kepala Administrasi Penerbangan Sipil Cina, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (17/2).

    Epidemi ini telah mengguncang industri transportasi Cina, bahkan setelah Beijing memberlakukan isolasi di sejumlah besar kawasan di negara itu. Diikuti dengan larangan bepergian dari atau ke Cina yang dikeluarkan oleh lebih dari 50 negara.

    Merebaknya penularan virus ini juga terjadi bersamaan dengan periode tersibuk sepanjang tahun, ketika ratusan juta penduduk Cina diperkirakan melakukan sekitar 3 miliar perjalanan.

    Namun, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Transportasi Cina pada 3 Februari, jumlah perjalanan yang dilakukan di Cina selama libur Tahun Baru Imlek turun 73 persen menjadi sekitar 190 juta.

    Jika dijabarkan, mereka yang bepergian dengan kereta api turun 67 persen, jumlah penumpang pesawat turun 57 persen, sementara perjalanan melalui darat dan air turun lebih dari 70 persen.

    Seorang penumpang maskapai China Eastern tujuan Shanghai China menunjukan tiket pesawat sebelum boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu 5 Februari 2020. China Eastern merupakan pesawat terakhir yang melakukan penerbangan setelah pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan memutuskan mulai tanggal 5 Februari 2020 jam 00.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan, menunda penerbangan dari dan menuju daratan Cina terkait terus berkembangnya kasus penyebaran Novel Coronavirus. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    Menurut penelitian Citigroup Inc., maskapai penerbangan lokal, China Southern Airlines Co telah membatalkan sekitar 45 persen penerbangan pada akhir Januari dan awal Februari -- tingkat tertinggi di antara maskapai top nasional. Berikutnya adalah Air China Ltd dan China Eastern Airlines Corp.

    Di sisi lain, industri angkutan truk juga ikut lumpuh. Menurut G7 Network, penyedia sistem pelacak lokasi pada kendaraan, mengatakan beberapa volume kargo menyusut hingga 1 persen dari level puncak tahun lalu.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.