Chand Baori, Jeniusnya Nenek Moyang Bangsa India Melawan Kemarau

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sumur Chand Baori disebut juga kolam, memiliki fungsi sebagai penampungan air sekaligus untuk keprluan ritual. Foto: Doron/Wikimedia

    Sumur Chand Baori disebut juga kolam, memiliki fungsi sebagai penampungan air sekaligus untuk keprluan ritual. Foto: Doron/Wikimedia

    TEMPO.CO, Jakarta - Negara bagian Rajasthan dan Gujarat di India Utara, merupakan wilayah yang memiliki iklim tak ramah. Curah hujan di pinggiran Gurun Thar itu memang rendah. Tanah yang berpasir dan lumpur, cepat sekali menyerap air hujan seberapapun derasnya.

    Tapi penguasa di wilayah Rajasthan dan Gujarat adalah manusia yang cerdik. Mereka membangun kolam-kolam yang dalam – sehingga disebut pula sumur – untuk menampung air bagi kebutuhan rakyatnya.

    Namun, bangunan-bangunan dari abad pertengahan yang arsitektur dan fungsinya luar biasa itu terkubur. Hingga suatu saat, pada tahun 1864, pengelana Prancis Louis Rousselet menemukannya. Ia terkesima dan menggambarkan dalam buku catatannya sebagai kolam air yang luas, ditutupi dengan bunga teratai, di mana ribuan burung air bermain. Ia menulis pula, di pinggiran kolam warga mandi dikelilingi hutan yang hijau.

    Rousselet seolah-olah bukan menggambarkan kolam kuno berukuran kolosal, melainkan sebuah danau. Dari deskripsi Rousselet, sumur atau kolam itu memang luar biasa. Ia mampu menangani masalah air di wilayah paling kering di India itu. Di tepi gurun Thar, hujan bisa mengguyur sangat deras, namun genangan air secepat kilat pula menghilang. Sumur konvensional tak bisa digali sangat dalam.

    Chand Baori salah satu dari stepwells yang digunakan sejak abad pertengahan, untuk menghadapi musim kemarau yang panjang di wilayah Gujarat dan Rajashtan. Foto: Jatin Chhabra/Atlas Obscura

    Dengan musim panas bersuhu di atas 40 derajat, tanah berlumpur pun tidak bisa menampung air. Warga membutuhkan solusi praktis, agar rute perdagangan di India Utara itu tak kehilangan pamor dan mati. Lalu, pada tahun 550 Masehi, stepwells (sumur berundak) pertama dibangun, namun yang paling terkenal dibangun pada abad pertengahan.

    Pembangunan yang diprakarsai oleh para penguasa Gujarat dan Rajashtan saat itu, diperkirakan mencapai 3.000 lebih stepwell. Meskipun banyak yang hancur dan ditimbun di beberapa titik di zaman kuno, atau dipenuhi dengan sampah pada era modern, namun ratusan sumur luar biasa itu masih ada. Di New Delhi saja, ada lebih dari 30 stepwell.

    Chand Baori di Abhaneri, dekat Jaipur, Rajasthan, merupakan stepwells terbesar yang tersisa. Secara visual, Chand Baori memiliki struktur empat sisi yang dalam dengan kuil besar di satu sisi. Di dalamnya 3.500 tangga bertingkat (Escher-esqeu) berbaris menuruni tiga sisi lainnya, setinggi 13 lantai dengan kedalaman 30 meter. Konstruksi berasal dari abad ke-10, dan didedikasikan untuk Harshat Mata, dewi kegembiraan dan kebahagiaan.

    Air memainkan peran khusus dalam mitologi Hindu, sebagai batas antara langit dan bumi yang dikenal sebagai tirtha. Sebagai tirtha buatan manusia, stepwells fungsinya tidak hanya menjadi sumber air minum, tetapi juga tempat-tempat suci yang sejuk untuk mandi, doa, dan meditasi.

    Chand Baori memiliki dua bentuk, tanpa atap atau setengah tertutup. Namun kesemuanya selalu diiringi kuil pemujaan. Foto: Max Cortesi/Atlas Obscura

    Sumur disebut dengan banyak nama. Dalam Hindu mereka dinamai baori, baoli, baudi, bawdi, atau bavadi. Dalam bahasa Gujarat, mereka biasa disebut vav.

    Arsitektur sumur bervariasi berdasarkan jenis dan lokasi, dan kapan sumur itu dibangun. Dua tipe yang umum adalah step pond, dengan bagian atas terbuka lebar dan menyempit pada dasar sumur. Kedua, menggunakan poros sempit dengan permukaan tidak lebar, bahkan terlindung sebagian atau sepenuhnya. Berbentuk silinder dengan tangga yang melingkar ke bawah.

    Di sekitar stepwells biasanya dibangun kuil dan area peristirahatan dengan ukiran indah. Pada masa jayanya, banyak dari sumur-sumur itu dicat dalam warna-warna cerah berbasis kapur, dan sekarang jejak warna kuno menempel di sudut-sudut gelap.

    Penggunaan dan perawatannya menurun, ketika Inggris menguasai India pada tahun 1750-an – setelah mengalahkan Kesultanan Mughal – sumur-sumur itu banyak yang ditutup. Pemerintah kolonial merasa khawatir dengan kondisi kebersihan sumur untuk mandi dan sumber air minum. Ketidakbersihan=bisa saja menciptakan wabah penyakit – yang pada zaman itu kerap sulit diatasi.

    Stepwells banyak ditutup oleh pemerintah kolonial Inggris, Chand Baori merupakan salah satu yang tersisa dari 3.000 lebih yang pernah dibangun. Foto: Alena Getman/Flickr.com

    Pemerintah kolonial Inggris memasang pompa dan pipa untuk mengalirkan air dan akhirnya melarang penggunaan stepwell di beberapa tempat. Sumur-sumur yang tersisa saat ini dalam kondisi dilestarikan, namun anak-anak kecil menggunakannya untuk berenang dan menyelam. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.