Wisata Pendakian Gunung Dempo Ditutup Sementara

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan Gunung Dempo menjadi latar dari Tebat atau Danau Gheban, dua objek wisata alam yang bisa dikunjungi di Pagaralam, Sumatera Selatan. (shutterstock.com)

    Pemandangan Gunung Dempo menjadi latar dari Tebat atau Danau Gheban, dua objek wisata alam yang bisa dikunjungi di Pagaralam, Sumatera Selatan. (shutterstock.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Jalur wisata pendakian Gunung Api Dempo (GAD) sementara ditutup. Pasalnya, dua pendaki Gunung Api Dempo (GAD) asal Kabupaten Bungo, Jambi dikabarkan hilang kontak sejak tanggal 15 Oktober 2019.

    Tim gabungan dari Basarnas, BPBD, Tagana dan para relawan masih terus melakukan pencarian. Hasilnya tim belum menemukan petunjuk keberadaan para korban. Untuk mengotimalkan upaya pencarian, saat ini jalur pendakian ditutup untuk umum. "Pendakian tutup sementara hingga batas waktu yang belum pasti," kata Arindi, ketua tim relawan, Sabtu, 26 Oktober 2019.

    Namun demikian para wisatawan tetap dapat menikmati pemandangan alam berupa hamparan kebun teh yang ada disekitar lereng gunung dempo. Tidak hanya itu, destinasi wisata lainnya di sekitat gunung dempo seperti area perkebunan kopi dan air terjun tetap terbuka bagi pelancong.

    Bahkan seiring tersebarnya kabar tersebut, minat wisatawan semakin tinggi untuk menghabiskan waktu di sekitar gunung. "Wisatawan tetap diperbolehkan untuk mengeksplorasi di sekitar lereng," ujarnya.

    Masih kata Arindi, ketua tim relawan kepada Tempo, mengatakan Informasi awal atas peristiwa ini diketahui setelah orang tua dari pendaki melapor ke Basarnas Kota Pagaralam. Berdasarkan Laporan tersebut Basarnas Kota Pagaralam mengumpulkan Tim Gabungan dari Relawan, BPBD,TAGANA ,dan Forpa.

    Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan dikenal dengan keindahan alam disekitar Gunung Dempo. Saat ini, wisatawan dapat juga menikmati hamparan kebun teh, kebun kopi dan kebun sayur. Bahkan saat ini terdapat destinasi wisata perkebunan kopi. Tempo/ Parliza Hendrawan

    Mereka melakukan penyisiran di jalur pendakian yang dibagi dalam tiga regu gabungan. "Di pelataran puncak Dempo baru kami temukan baju korban yang terbungkus dalam plastik," katanya.

    "Dari hari Senin begitu laporan masuk, kami langsung melakukan penyisiran," ujarnya. Arindi menjelaskan, dari keterangan orangtua korban, kedua pendaki ini putus kontak sejak hari Rabu sekitar pukul 18.00 Wib. Kedua pendaki asal Muara Bungo, Jambi masing-masing M Fikri (19 tahun) dan Jumadi (26 tahun) tiba di kota Pagaralam pada 13 Oktober lalu dan melakukan pendakian pada Kami, 15 Oktober.

    Sedangkan Lettu SAR Alparis. Zm, Danpos Basarnas Pagaralam, menambahkan hingga pencarian hari ke-4, tim gabungan belum menemukan titik terang. "Masih nihil belum ada perkembangan terbaru dari lapangan," katanya. Menurut Alparis, untuk segera menemukan keberadaan para korban, hari ini pihaknya menurunkan tiga tim yang berpengalaman dan mengetahui seluk beluk jalur pendakian.

    Mereka diturunkan dengan peralatan yang memadai melalui jalur Kampung 4. Dengan melihat situasi dan kondisi saat ini serta dukungan semua pihak, dia optimistis tim gabungan bisa mengetahui keberadaan para korban. "Untuk hari ini sendiri, kami turunkan tiga tim dengan menggunakan jalur kampung empat," kata Alparis.

    Sementara itu, PJ. Sekda kota Pagaralam, Samsul Bahri Burlian mengatakan untuk menghindari pengulangan peristiwa Pendaki diminta melapor dengan petugas di Kampung 4, Kelurahan Gunung Dempo. Hal itu penting agar pendaki tercatat resmi dan termonitor petugas. Sehingga bila pendakian melampaui waktu, dapat diambil langkah-langkah penyelamatan.

    Tim SAR gabungan mencari keberadaan dua pendaki gunung dempo asal dari Jambi. Hingga sepekan paska hilang kontak, tim baru menemukan pakaian korban. TEMPO/Parliza Hendrawan

    Selain itu dapat diberikan pengarahan tentang keselamatan, larangan perbuatan selama pendakian, pengecekan kelayakan perlengkapan dan perbekalan. "Disarankan untuk mengajak penunjuk jalan, penduduk lokal yang berpengalaman," katanya.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.