Lombok Jadi Tuan Rumah South East Biospher Reserve Network

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meninjau KEK Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 17 Mei 2019. Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo meninjau KEK Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 17 Mei 2019. Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Mataram - Lombok, Nusa Tenggara Barat ditetapkan sebagai tuan rumah 13rd South East Biospher Reserve Network yang jadwal penyelenggaraannya akan ditetapkan kemudian. Penetapan NTB sebagai tuan rumah ajang pertemuan cagar biosfer diputuskan dalam sidang hari pertama The 31st session of The Man and The Biosphere Programme International Coordinating Council di Paris, Prancis, Senin 17 Juni 2019.

    Baca: Lebaran Topat di Lombok, Ziarah Naik Cidomo Lalu Bejamjam

    "Ini adalah kepercayaan kedua yang diberikan UNESCO kepada Lombok NTB," kata Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalillah dalam keterangan tertulis. Sebelum ditunjuk menjadi tuan rumah 13rd South East Biospher Reserve Network, Lombok bakal kedatangan ribuan tamu dari 84 negara yang akan menghadiri The 6th Asia Pasifik Geopark Network (APGN) Symposium pada 1 - 7 September 2019.

    Mengenai tempat penyelenggaraan 13rd South East Biospher Reserve Network, Sitti Rohmi menjelaskan Lombok dipercaya sebagai tuan rumah setelah menyisihkan proposal dari sejumlah negara yang juga memiliki cagar biosfer. Saat ini, terdapat 686 cagar biosfer di 122 negara di seluruh dunia.

    Ihwal agenda 13rd South East Biospher Reserve Network, Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi NTB, Najamuddin Amy mengatakan penetapan dalam sidang The 31st session of The Man and The Biosphere Programme International Coordinating Council di Paris, Prancis, baru menetapkan tempatnya. "Kepastian tanggal dan bulan serta berapa hari acara tersebut akan berlangsung akan dibahas di sesi berbeda," katanya.

    Sejak 2018, kawasan Rinjani di Pulau Lombok telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark Network dan telah menjadi cagar biosfer. Sidang tahun ini juga menetapkan Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora di Pulau Sumbawa sebagai cagar biosfer baru UNESCO.

    Baca juga: Pemerintah NTB Promosi MotoGP Mandalika Sampai ke Paris

    Cagar biosfer ini dianggap penting karena menjadi laboratorium untuk pembangunan berkelanjutan dengan memberdayakan komunitas lokal. Ada tiga karakteristik utama dari cagar biosfer, yakni fungsi konservasi, fungsi pembangunan, dan pemasok kebutuhan pokok. "Cagar biosfer menjadi perangkat untuk mencegah ancaman berkurang atau punahnya spesies-spesies yang menjadi khazanah kekayaan bumi," ucap dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.