Makan Siang Wong Ndeso Gunungkidul Yogyakarta: Thiwul Ikan Asin

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Makanan tradisional thiwul ikan asin di rumah makan Pawon Purba di Gunungkidul, Yogyakarta. Antara

    Makanan tradisional thiwul ikan asin di rumah makan Pawon Purba di Gunungkidul, Yogyakarta. Antara

    TEMPO.CO, Gunungkidul - Mudik Lebaran menjadi kesempatan untuk mencicipi aneka penganan khas daerah. Wawasan cita rasa akan bertambah selain dari menu andalan saat Hari Raya Idul Fitri, seperti ketupat, opor ayam, dan aneka kue.

    Baca: Tip Mengemas Oleh-oleh Gurita Segar dari Pantai Gunungkidul

    Bagi yang menghabiskan libur Lebaran ke daerah Gunungkidul, Yogyakarta, cobalah salah satu makanan tradisional masyarakat setempat, yakni thiwul ikan asin. "Ini adalah makan siangnya 'wong ndeso". Setelah pulang dari sawah atau mencari rumput buat pakan ternak, mereka makan thiwul ikan asin," kata pengelola warung Pawon Purba, Aris Budiyono, di Gunungkidulm Yogyakarta.

    Hidangan tradisional ini sengaja disajikan supaya pemudik dan wisatawan bisa bernostalgia dengan kampung halaman. Generasi milenial juga perlu tahu makan khas dari Gunungkidul ini yang begitu lezat. Thiwul ikan asin berupa nasi thiwul hangat yang disajikan dengan sambal bawang dan ikan asin.

    Selain thiwul ikan asin, Sekretaris Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis di Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Sugeng Handoko mengatakan inovasi kuliner yang dikembangkan adalah aneka olahan cokelat.

    Baca juga: Sarapan Kaya Serat, Nasi Uleng Plus Pecel di Gunungkidul

    Ada minuman cokelat chocomix, bakpia cokelat, dodol cokelat, pisang salut cokelat, permen cokelat, cokelat batangan, dan lainnya. Wisatawan juga bisa melihat dan terlibat dalam proses pembuatannya. "Semua bisa didapat di pusat oleh-oleh desa kami di Griya Cokelat Nglanggeran," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.