Singapura, Tuan Rumah Kongres Jajanan Kaki Lima  

Reporter

Jumat, 15 Maret 2013 15:38 WIB

Pedagang kaki lima di halaman Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Membayangkan jajanan kaki lima dari seluruh penjuru dunia berkumpul, tentu sudah membuat air liur menetes. Di Marina Bay, Singapura, tepatnya di Pit Building dan Paddock F1, semuanya akan terwujud pada 31 Mei-9 Juni 2013.

"Makan adalah budaya," ujar KF Seetoh, pencetus ide The World Street Food Congress, dalam keterangan pers di Eat & Eat Gandaria City, Kamis, 14 Maret 2013. "Di sana, semua orang bisa makan, berpikir, berbagi, dan membuka jaringan."

Selama 10 hari, pengunjung bisa mengikuti World Street Food Jamboree, World Street Food Dialogues, dan World Street Food Award. Tercatat ada 40 kaki lima pilihan dari 10 negara yang akan bergabung di Marina Bay, termasuk empat dari Indonesia.

"Pilihan dari Indonesia jatuh ke kerak telor, masakan kawanua, dan soto tangkar," ujar Arie Parikesit, pendiri Kelana Rasa. "Satu lagi belum dipilih."

Arie bersama pakar kuliner Bondan Winarno, pemilik jaringan Eat & Eat Iwan Tjandra, dan William Wongso, menuturkan mereka cukup kesulitan untuk menentukan wakil dari Nusantara. Sebab, di Kongres itu, para wakil tidak hanya menyajikan masakan saja. Mereka juga berjualan. "Sehingga cita rasa, kualitas, dan tentunya nama Indonesia menjadi taruhannya."

Kata Bondan, keikutsertaan Indonesia di kongres ini hanya sebuah pembukaan untuk mengenalkan masakan Nusantara ke internasional. Sebab, jika empat masakan itu berhasil, akan lebih banyak orang mengenal dan merasakan jajanan Indonesia.

Untuk memilih empat perwakilan jajan kaki lima ini, ada sejumlah kriteria. Pertama, si penjual harus berangkat dari jalanan. Artinya, benar-benar berawal dari gerobak atau pikulan. Dengan demikian, jajanan yang dijual memiliki sejarah. "Ada hype dan story telling dari makanan dan penjualnya," kata Bondan.

Masakan pun harus mewakili Indonesia dengan keotentikannya. Dan terakhir, jajan mesti mempunyai rasa dan penampilan yang sesuai dengan cita rasa masyarakat global, khususnya Singapura sebagai tempat penyelenggara.

Seetoh menambahkan, kongres yang pertama kali ini diadakan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat pedagang kaki lima. Rata-rata pedagang kaki lima bukan profesional dalam mengelola usaha hingga menjadi bisnis besar. "Mereka awam soal kebersihan hingga manajemen usaha," kata Seetoh. "Padahal, peluangnya sangat besar."

Pengelola jejaring budaya makan Asia, Makan Sutra, ini sudah memimpikan kongres jajanan kaki lima sejak 15 tahun lalu. Ia pun mendedikasikan waktu selama dua tahun terakhir untuk berkeliling dunia, mengajak penjual jajanan jalanan terbaik agar mau terlibat dalam acara urusan lidah dan perut terbesar ini. "Semuanya untuk menyelamatkan, menjadikan profesional, dan membuka peluang jajanan kaki lima," ujarnya.

Bondan sendiri menyatakan jajanan jalanan tak boleh mati. Namun, diperlukan ada campur tangan semua orang agar makanan ini tidak terpinggirkan atau punah. "Jajanan kaki lima itu perlu diubah dan diangkat derajatnya," kata dia.

DIANING SARI

Berita lainnya:


Berita terkait

Solo Indonesia Culinary Festival 2024, Ada Pembagian 1.000 Porsi Soto hingga Edukasi Kuliner

3 hari lalu

Solo Indonesia Culinary Festival 2024, Ada Pembagian 1.000 Porsi Soto hingga Edukasi Kuliner

Festival kuliner ini diharapkan jadi ajang promosi potensi kuliner daerah sekaligus memperkuat branding Solo sebagai Food Smart City.

Baca Selengkapnya

Chef Juna dan Renatta Kenalkan Dua Kuliner Khas Tanah Morotai

4 hari lalu

Chef Juna dan Renatta Kenalkan Dua Kuliner Khas Tanah Morotai

Chef Juna dan Chef Renatta kenalkan Siput Popaco dan Sayur Lilin dari Morotai

Baca Selengkapnya

Membawa Kuliner Sichuan ke Jakarta

6 hari lalu

Membawa Kuliner Sichuan ke Jakarta

Menikmati kuliner hotpot dan bbq dari Sichuan, Cina

Baca Selengkapnya

Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Perjuangkan Pembuatan Produk Kuliner Khas Nusantara untuk Ekspor

7 hari lalu

Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Perjuangkan Pembuatan Produk Kuliner Khas Nusantara untuk Ekspor

PPJI berharap ke depan ada produk-produk kuliner jenis lainnya yang bisa diekspor seperti halnya rendang.

Baca Selengkapnya

Ikan Arsik dan Mie Gomak Khas Danau Toba Jadi Incaran Wisatawan

13 hari lalu

Ikan Arsik dan Mie Gomak Khas Danau Toba Jadi Incaran Wisatawan

Ada dua masakan khas masyarakat sekitar Danau Toba yang menjadi incaran pelancong dari berbagai penjuru

Baca Selengkapnya

Solo Indonesia Culinary Festival 2024 Bakal Digelar di Stadion Manahan Solo, Catat Tanggalnya!

16 hari lalu

Solo Indonesia Culinary Festival 2024 Bakal Digelar di Stadion Manahan Solo, Catat Tanggalnya!

Bagi penggemar kuliner masakan khas Indonesia jangan sampai melewatkan acara Solo Indonesia Culinary Festival atau SICF 2024

Baca Selengkapnya

Datang ke Semarang Jangan Lupa Beli 10 Oleh-oleh Khas Ini

26 hari lalu

Datang ke Semarang Jangan Lupa Beli 10 Oleh-oleh Khas Ini

Selain terkenal destinasi wisatanya, Semarang memiliki ikon oleh-oleh khas seperti wingko dan lumpia. Apa lagi?

Baca Selengkapnya

10 Makanan Paling Aneh di Dunia, Ada Keju Busuk hingga Sup Kura-kura

27 hari lalu

10 Makanan Paling Aneh di Dunia, Ada Keju Busuk hingga Sup Kura-kura

Berikut ini deretan makanan paling aneh di dunia, di antaranya keju busuk asal Italia, Casu Marzu, dan fermentasi daging hiu.

Baca Selengkapnya

Jadi Nasabah KUR BRI Sejak Tahun 2000, Sate Klathak Pak Pong Ramai Diminati

28 hari lalu

Jadi Nasabah KUR BRI Sejak Tahun 2000, Sate Klathak Pak Pong Ramai Diminati

Di akhir pekan dan di hari libur panjang dapat menyembelih 40-50 ekor kambing sehari dengan omzet sekitar Rp35-50 juta per bulan.

Baca Selengkapnya

Singgah ke Cirebon saat Libur Lebaran, Jangan Lupa Cicip Tiga Kuliner Lezat dan Bersejarah Ini

29 hari lalu

Singgah ke Cirebon saat Libur Lebaran, Jangan Lupa Cicip Tiga Kuliner Lezat dan Bersejarah Ini

Cirebon memiliki sejumlah kuliner yang bersejarah dan memiliki cita rasa yang lezat.

Baca Selengkapnya