Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Kerajaan Sumedang Larang Cikal Bakal Kabupaten Sumedang, Bagaimana Sejarahnya?

image-gnews
Kendaraan melintasi terowongan kembar di jalur fungsional Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu 7 Mei 2022. Polres Sumedang membuka jalur fungsional Jalan Tol Cisumdawu hingga Minggu 8 Mei 2022 guna mencegah terjadinya kemacetan di jalur arteri Sumedang-Bandung pada arus balik Lebaran 2022. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Kendaraan melintasi terowongan kembar di jalur fungsional Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu 7 Mei 2022. Polres Sumedang membuka jalur fungsional Jalan Tol Cisumdawu hingga Minggu 8 Mei 2022 guna mencegah terjadinya kemacetan di jalur arteri Sumedang-Bandung pada arus balik Lebaran 2022. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Sumedang, yang terletak di Provinsi Jawa Barat, memiliki daya tariknya sendiri. Ibu kotanya berada di kecamatan Sumedang Utara, Sumedang, sekitar 45 km sebelah timur laut Kota Bandung.

Berbicara tentang Sumedang, pasti mengingatkan Anda dengan tahu-nya yang legendaris, bukan? Kabupaten ini punya 26 kecamatan, 7 kelurahan, dan 270 desa yang semuanya punya cerita tersendiri.

Salah satu hal yang tidak bisa dilupakan dalam kaitannya dengan Kabupaten Sumedang adalah Kerajaan Sumedang Larang yang menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Sumedang sekarang. Jejak sejarahnya yang luar biasa akan membuat Anda kagum, dengan segala kejayaan dan perubahan yang sudah dilalui.

Sejarah Kabupaten Sumedang

Sumedang, salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, menyimpan kisah berharga dari masa lalu yang begitu mengagumkan. Awalnya, daerah ini adalah bagian dari Kerajaan Sumedang Larang yang berada di bawah kekuasaan Raja Galuh.

Menurut Kitab Waruga Jagat 1117 Haf Sang Aji Putih atau dikenal Tajimalela yang dikutip dalam artikel jurnal berjudul “Sejarah Penyebaran Islam di Sumedang Melalui Pendekatan Budaya”, putra Prabu Guru Haji Aji Putih mendirikan kerajaan Mandala Hibar Buana di Tembong Agung, yang kemudian menjadi cikal bakal Sumedang Larang dengan ibu kotanya di kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Darmaraja. Kerajaan Sumedang Larang merupakan pecahan dari Kerajaan Sunda Galuh yang didirikan oleh Wretikandayun pada tahun 612 Masehi.

Perjalanan Kerajaan Sumedang bermula dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih sekitar tahun 1500, atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Setelah kepemimpinan Prabu Guru Aji Putih, tahta kerajaan diserahkan kepada putra sulungnya, Barata Tuntang Buanan atau lebih dikenal Tajimalela. Di masa Tajimalela, muncul nama "Sumedang" yang berasal dari rangkaian kata ingsung medal, ingsung madangan yang artinya "aku lahir, aku memberi penerangan". 

Perjalanan kepemimpinan kemudian berlanjut ke tangan putra Tajimalela, Lembu Agung, dan selanjutnya kepada Gajah Agung. Wilayah Sumedang Larang kemudian dibagi dua kepada putra-putra Pangeran Santri, bupati Islam pertama di Sumedang, yang menikah dengan Ratu Pucuk Umun. Putra sulungnya, Raden Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun, menjadi raja keenam Sumedang Larang, dan setelah wafatnya, tahta kerajaan diteruskan kepada putrinya, Ratu Sintawati atau Nyi Mas Patuakan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Nyi Mas Ratu Inten Dewata atau Ratu Pucuk Umun, putri sulung Ratu Sintawati, kemudian menjadi raja Sumedang Larang setelah menikah dengan Pangeran Koesoemadinata I atau Pangeran Santri. Dari pernikahan ini, lahir enam putra, di antaranya Raden Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun, yang menjadi raja selanjutnya Sumedang Larang.

Pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Sumedang Larang mengalami transformasi besar. Pada tanggal 18 November 1580, Prabu Geusan Ulun menyatakan berdirinya Kerajaan Sumedang Larang dan menyerahkan mahkota Binokasih, menandai kedaulatan baru. Namun, pada tahun 1607, kerajaan ini terbagi dua wilayah, masing-masing diberikan kepada dua putranya.

Pada tahun 1620, Pangeran Kusumadinata, penguasa Sumedang Larang, memutuskan untuk menyatakan penyerahan diri kepada Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung. Sejak saat itu, wilayah Sumedang Larang berubah menjadi Kabupaten Priangan di bawah kekuasaan Mataram, dan Pangeran Kusumadinata mendapat gelar Pangeran Rangga Gempol I sebagai bupati wedana untuk seluruh pasundan. Dengan demikian, Kerajaan Sumedang Larang tidak lagi berdaulat, tetapi menjadi bagian dari wilayah Mataram Islam.

Berdasarkan catatan sejarah yang disebutkan dalam Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, sebelum kemerdekaan Indonesia, wilayah Sumedang telah melalui berbagai periode penting. Termasuk di antaranya adalah zaman prasejarah, zaman kuno Sumedang, masa pemerintahan Kerajaan Sumedang Larang (1580 - 1620), periode di bawah pengaruh Mataram (1620-1677), masa kekuasaan Kompeni Belanda (1677 - 1799), era Pemerintah Hindia Belanda (1808 - 1942), dan periode Pendudukan Jepang (1942 - 1945).

Melalui perjalanan sejarah yang tidak singkat melewati berbagai masa DPRD Daerah Tingkat II Sumedang, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973, Tanggal 8 Oktober 1973, menetapkan 22 April 1578 sebagai Hari Jadi Sumedang

KEMDIKBUD | SUMEDANGKAB.GO.ID | UINSGD.AC.ID
Pilihan editor: Puting Beliung Dahsyat, Cerita Penjabat Gubernur Jawa Barat Lihat Atap Rumah Melayang 

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Gempa Dini Hari Goyang Sumedang Selatan, Sumber dari Sesar Lokal

19 hari lalu

Seismograf gempa bumi. ANTARA/Shutterstock/pri
Gempa Dini Hari Goyang Sumedang Selatan, Sumber dari Sesar Lokal

Getaran gempa dirasakan di wilayah Sumedang bagian selatan dan Cimalaka.


Gempa Kembali Mengguncang Sumedang dengan Intensitas II-III MMI, Dekat Gempa Merusak 2023

33 hari lalu

Seismograf gempa bumi. ANTARA/Shutterstock/pri
Gempa Kembali Mengguncang Sumedang dengan Intensitas II-III MMI, Dekat Gempa Merusak 2023

Gempa tektonik kembali mengguncang wilayah Kabupaten Sumedang dengan kekuatan bermagnitudo 2,8. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat waktu kejadiannya pada Kamis, 23 Mei 2024, pada pukul 15.27 WIB.


Gempa Mengguncang Kuat Sumedang, Sumber Dekat Gempa Merusak 2023

38 hari lalu

Gempa mengguncang Sumedang pada Sabtu dini hari, 18 Mei 2024 pukul 02.54 WIB. (BMKG)
Gempa Mengguncang Kuat Sumedang, Sumber Dekat Gempa Merusak 2023

Gempa dirasakan di wilayah Sumedang utara dan selatan dengan skala intensitas gempa III - IV MMI.


Pj Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin Sebut Kopi Asal Sumedang Mendunia Gegara Ini

39 hari lalu

Barista Ryan Wibawa mendemonstrasikan pembuatan kopi di depan Pj Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin di Gedung Sate Bandung, Kamis (16/5/2024). ANTARA/Dokumentasi Pribadi
Pj Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin Sebut Kopi Asal Sumedang Mendunia Gegara Ini

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin menyebut kopi asal Sumedang mendunia gegara ini. Apa itu?


3 Fakta Cut Nyak Dhien di Sumedang, Mengajar Agama dan Disebut Ibu Suci

54 hari lalu

Sejumlah siswa meliha foto pahlawan Cut Nyak Dhien saat bermain di sekolah yang terbengkalai di SDN 01 Pondok Cina, Depok, Jawa Barat, 27 Agustus 2015. Tempo/M IQBAL ICHSAN
3 Fakta Cut Nyak Dhien di Sumedang, Mengajar Agama dan Disebut Ibu Suci

Cut Nyak Dhien sangat dihormati masyarakat Sumedang dan dijuluki ibu perbu atau ibu suci. Ia dimakamkan di tempat terhormat bangsawan Sumedang.


Kisah Cut Nyak Dhien Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional 60 Tahun Lalu, Rakyat Aceh Menunggu 8 Tahun

54 hari lalu

Cut Nyak Dien. peeepl.com
Kisah Cut Nyak Dhien Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional 60 Tahun Lalu, Rakyat Aceh Menunggu 8 Tahun

Perlu waktu bertahun-tahun hingga akhirnya pemerintah menetapkan Cut Nyak Dhien sebagai pahlawan nasional.


Selain Tahu Sumedang, Inilah 5 Kuliner Sumedang Lain yang Menggugah Selera

23 April 2024

Soto Bongko khas Sumedang. antaranews.com
Selain Tahu Sumedang, Inilah 5 Kuliner Sumedang Lain yang Menggugah Selera

Berbicara tentang kuliner di Sumedang, ternyata tidak hanya memiliki tahu umedang yang khas, tetapi terdapat pula berbagai kelezatan kuliner tradisional lain.


Ragam 5 Destinasi Wisata Menarik di Kabupaten Sumedang

22 April 2024

Sejumlah wisatawan melewati bebatuan di danau biru Situ Cilembang, Desa Hariang, Kecamatan Buah Dua, Sumedang, Jawa Barat, 20 Februari 2016. Danau berair biru dan sangat jernih ini mulai dikenal dan ramai diperbincangkan di media sosial baru-baru ini. TEMPO/Prima Mulia
Ragam 5 Destinasi Wisata Menarik di Kabupaten Sumedang

Kabupaten Sumedang menyediakan berbagai kebutuhan wisata, terutama dengan keunggulan panorama alamnya yang indah.


Ketersediaan Air Bersih di Cirebon Raya Rendah, Peneliti BRIN Usulkan Optimalisasi Waduk Jatigede

1 April 2024

Warga memanggul air bersih di dasar Waduk Jatigede yang kembali muncul dampak dari menyusutnya volume air waduk akibat kemarau panjang di Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, 3 Oktober 2023.  Waduk Jatigede difungsikan untuk menambah volume tampungan air guna mendukung 90.000 hektare jaringan irigasi, pemasok air baku, dan pengaman banjir di area seluas 14.000 hektare. TEMPO/Prima mulia
Ketersediaan Air Bersih di Cirebon Raya Rendah, Peneliti BRIN Usulkan Optimalisasi Waduk Jatigede

Peneliti BRIN merekomendasi optimalisasi Waduk Jatigede untuk mengatasi rendahnya tingkat akses air bersih di wilayah Cirebon Raya.


Pegadaian Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak Puting Beliung

29 Februari 2024

Pegadaian Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak Puting Beliung

Pegadaian menyalurkan bantuan untuk masyarakat terdampak bencana puting beliung yang melanda Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung, Sumedang, pada Selasa 27 Februari 2024.