Kabupaten Manggarai akan Kembangkan Wisata Budaya dan Religi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan bersantai di bawah pohon saat berlibur di Pantai Koka di Desa Wolowiro, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, 6 Oktober 2015. TEMPO/Subekti

    Wisatawan bersantai di bawah pohon saat berlibur di Pantai Koka di Desa Wolowiro, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, 6 Oktober 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Manggarai di Nusa Tenggara Timur memiliki ragam potensi alam dan budaya yang kaya sebagai daya tarik wisata. Pemerintah setempat pun berencana mengembangkan wisata budaya dan religi.

    Bupati Manggarai Heribertus G. L. Nabit mengatakan kekayaan budaya di wilayahnya bisa menarik wisatawan sebab merupakan ikon inkulturasi antara budaya Manggarai dan salah satu sentra agama Katolik di Pulau Flores. "Secara budaya, tiga kabupaten yang ada di Manggarai Raya ini mempunyai akar budaya yang sama yaitu budaya Manggarai dan pusat kebudayaan Manggarai itu sendiri adanya di Kabupaten Manggarai," kata dia, Rabu, 14 April 2021.

    Beberapa upacara dan warisan dari leluhur masyarakat Manggarai pun sudah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional seperti tari Caci dan upacara Penti.

    Tari Caci adalah perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai. Sedangkan upacara Penti adalah upacara yang pada prinsipnya bertujuan untuk memohon keselamatan atau mengungkapkan rasa syukur kepada Mori Jari Dedek (Tuhan Pencipta) dan kepada arwah nenek moyang atas semua hasil yang diperoleh dan dinikmati juga sebagai tanda Celung Cekeng Wali Ntuang musim yang berganti dan tahun yang beralih).

    Ada pula warisan budaya Manggarai yang sudah tersohor hingga ditetapkan sebagai warisan budaya dunia UNESCO, yaitu kampung adat Waerebo.

    Heribertus pun menyebut bahwa sejumlah kampung adat di Ruteng, ibu kota Manggarai berpotensi juga jadi destinasi wisata budaya. "Ruteng itu unik, karena ada kampung-kampung adat di dalam kota, yang mempunyai tatanan adat sendiri, sehingga sangat mungkin dikembangkan sebagai tujuan wisata dalam kota," ujarnya.

    Selain rencana itu, Heribertus mengatakan pihaknya mengajak Badan Pelaksanaan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BPOLBF) untuk bersama-sama menggarap tiga destinasi wisata di kabupaten tersebut. "Kita usulkan untuk digarap bersama tiga destinasi di daerah ini, yakni penataan Wae Rebo, penyusunan grand desain Pantai Mules dan penataan kawasan Gua Liang Bua," kata dia.

    Menanggapi hal tersebut, Direktur Destinasi Pariwisata BPOLBF, Konstan Mardinandus mengatakan pihaknya menerima masukan dan mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai. "Terimakasih kepada bapak Bupati, semua masukannya kami terima dan akan kami sisir lagi potensi yang bisa digarap dalam tahun ini," ujarnya.

    Baca juga: Keunikan Kampung Tradisional Sasak Desa Sade Siap Sambut Turis MotoGP Mandalika


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.