Persiapan Menjelang Penerapan Travel Bubble 3B: Batam, Bintan dan Bali

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menparekraf Sandiaga Uno (kedua kanan) meninjau lokasi pemeriksaan GeNose C19 saat hari pertama beroperasinya layanan tersebut di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat, 9 April 2021. Bandara Ngurah Rai resmi membuka layanan GeNose C19 untuk memudahkan penumpang pesawat. ANTARA/Fikri Yusuf

    Menparekraf Sandiaga Uno (kedua kanan) meninjau lokasi pemeriksaan GeNose C19 saat hari pertama beroperasinya layanan tersebut di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat, 9 April 2021. Bandara Ngurah Rai resmi membuka layanan GeNose C19 untuk memudahkan penumpang pesawat. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah terus mematangkan persiapan menjelang rencana penerapan Travel Corridor Arrangement (TCA) atau travel bubble di Bali, Batam dan Bintan (3B). Pembukaan perbatasan itu akan menjadi pilot project dari datangnya kembali wisatawan mancanegara ke wilayah Indonesia.

    Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif R. Kurleni Ukar menjelaskan penerapan TCA di koridor 3B memerlukan kolaborasi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga stakeholder pariwisata lainnya. “Menjelang penerapan TCA di 3B tersebut kami memonitor dan mengevaluasi setiap waktu," ujarnya, Selasa, 13 April 2021 

    Di Batam, lokasi travel bubble adalah Nongsa, sedangkan di Bintan adalah Nongsa. Adapun di Bali, wilayah Ubud, Sanur dan Nusa Dua disiapkan untuk menerima wisatawan mancanegara kembali.

    Kurleni mengatakan pihaknya telah menginisiasi terbentuknya kelompok kerja untuk melaporkan secara rutin perkembangan terkait kesiapan dari hulu-hilir, baik di sektor parekraf atau sektor pendukung menjelang penerapan TCA. "Untuk Bali, monitoring kami lakukan dua pekan sekali. Batam-Bintan satu pekan sekali,” katanya.

    Salah satu faktor penting dalam rencana penerapan TCA adalah vaksinasi. Karena itu, kata Kurleni, akselerasi vaksinasi di wilayah 3B tidak hanya vaksinasi bagi pelaku parekraf saja tetapi juga masyarakat di zona tersebut sehingga risiko penularan di zona itu bisa ditekan serendah mungkin.

    “Sertifikasi CHSE juga akan terus dilakukan di 3B. Baik pada usaha pariwisata, produk, dan destinasinya," kata Kurleni. Sertifikat yang menunjukkan penerapan protokol kesehatan itu menjadi poin penting dalam kebangkitan pariwisata.

    Kurleni pun mengatakan bahwa monitoring dan evaluasi akan memantau semua hal terkait prakondisi, baik rute aman, zona aman, transportasi end to end, rumah sakit rujukan hingga SOP mitigasi. "Semua sedang kita siapkan bersama kementerian dan lembaga, pemerintah daerah dan industri terkait,” ujarnya.

    Adapun terkait waktu penerapan travel bubble, Gubernur Kepulauan Riau mengusulkan pada 21 April untuk Batam dan Bintan. Sedangkan Bali direncanakan pada Juni atau Juli mendatang jika situasi kondusif. “Namun hal itu tetap mempertimbangkan apakah vaksinasi dapat terselesaikan, Covid-19 sudah terkendali serta respon dari pemerintah Singapura. Mereka menyiapkan beberapa skenario yaitu pada 21 April, kemudian 1 Mei, atau di 1 Juni 2021” kata Kurleni.

    Baca juga: Batam dan Bintan akan Dibuka untuk Turis Asing, Punya Laboratorium PCR Sendiri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.