Taman Nasional Boleh Buka Kembali, Asal Siap Protokol Kesehatan

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rusa timor (cervus timorensis) beraktivitas di savana Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat 5 Juni 2020. Ditutupnya pariwisata di TN Baluran pada masa Pandemi COVID-19, berdampak pada perilaku satwa yang biasanya beraktivitas di dalam hutan saat ini mudah dijumpai di padang savana karena tidak adanya wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    Rusa timor (cervus timorensis) beraktivitas di savana Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat 5 Juni 2020. Ditutupnya pariwisata di TN Baluran pada masa Pandemi COVID-19, berdampak pada perilaku satwa yang biasanya beraktivitas di dalam hutan saat ini mudah dijumpai di padang savana karena tidak adanya wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi pecinta alam dan pendaki gunung, wabah virus corona membuat mereka menghentikan aktivitas wisata alam. Gunung-gunung yang merupakan jalur wisata pendakian, ditutup untuk mencegah penyebaran wabah.

    Kabar baiknya, seiring melambatnya wabah, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengatakan, 29 taman nasional dan taman wisata alam sudah dapat dibuka kembali secara bertahap.

    Hal tersebut didasarkan pada hasil kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama pemerintah daerah melalui Unit Pelaksana Teknis Kerja Kementerian.

    “Secara bertahap sudah dapat dibuka dari proyeksi waktu saat ini sampai dengan kira-kira pertengahan Juli,” kata Siti Nurbaya dalam jumpa Pers yang diadakan pada Senin, 22 Juni 2020.

    Baca: HIS Travel: Wisata Alam Bakal Jadi Tren Usai Pandemi

    Beberapa daerah yang sudah membuka wisata alamnya secara bertahap antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan, dan Bali.

    “Yang paling penting dari persiapan ini adalah langkah-langkah protokoler Covid-19 dan itu mutlak dilakukan,” ujar Siti.

    Sementara itu, beberapa taman nasional yang akan dibuka antara lain Taman Nasional Gede pangrango, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan juga Taman Nasional Gunung Rinjani.

    Siti juga menjelaskan, secara prinsip, taman nasional memiliki jadwal untuk menutup taman nasional, selain karena darurat kesehatan, taman nasional juga rutin ditutup tiap tahunnya. Penutupan itu berfungsi untuk memulihkan kondisinya.

    Sejak virus corona mewabah, Kementerian LHK memerintahkan Dirjen Konservasi untuk menutup seluruh Kawasan konservasi dari aktivitas pariwisata guna mencegah penularan Covid-19 di Kawasan konservasi serta penularan antara satwa dan manusia. “Yang pasti yang kami lakukan adalah menjaga keamanan kawasan dari perambahan,” ujar Siti.

    Pendaki berfoto di puncak Gunung Kerinci, Jambi, 25 Desember 2015. Ratusan pendaki dari dalam dan luar negeri telah berdatangan ke Kabupaten Kerinci guna melakukan pendakian ke Gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia tersebut dalam rangka memanfaatkan libur natal dan tahun baru. ANTARA/Wahdi Septiawan

    Siti juga mengatakan, setelah pengumuman tersebut dan setelah ada pedoman dari Menteri Kesehatan dan Menteri Pariwisata, pihaknya segera memberi perintah pada seluruh jajaran Kementerian LHK, untuk membuka secara bertahap taman nasional atau wisata alam. 

    Syarat lainnya, destinasi wisata alam dan taman nasional tersebut, mampu mendukung ketentuan protokol Covid-19.

    MUHAMMAD AMINULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.