Betetulak, Atraksi Religius di Kaki Gunung Rinjani

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan warga membawa Begibung berisi menu non bernyawa dan berdarah atau daging. TEMPO/Iskandar

    Ribuan warga membawa Begibung berisi menu non bernyawa dan berdarah atau daging. TEMPO/Iskandar

    TEMPO.CO, Jakarta - Desa Pengadangan sejak masa lalu dikenal sebagai desa budaya. Perpaduan religius dan mistik sangat kuat di desa itu. Berlokasi di kaki Gunung Rinjani, di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (dpl). Waktu tempuh pendakiannya memerlukan waktu setengah hari.

    Rabu 30 Oktober 2019, Desa Pengadangan riuh oleh warga. Selama empat jam, ribuan warga setempat menyelenggarakan kegiatan Pesona Budaya Pengadangan.

    Ada prosesi Betetulak -- dalam bahasa Sasak artinya kembali kepada Allah -- yang dilakukan oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat di perempatan desa. Mereka melakukan salawat dan doa memohon keselamatan dari musibah terbakarnya padang savana Rinjani. Desa Pengadangan merupakan salah satu jalan masuk ke pintu pendakian Timbanuh dan Batu Tepong. Di sana, ada pula air terjun Semporonan.

     

    Menurut pemerhati pariwisata, Ahyak Mudin yang ikut melakukan pembinaan kegiatan di Pengadangan di Kecamatan Pringgasela menjelaskan, bahwa Pesona Budaya Pengadangan ini diramaikan delapan jenis kesenian dalam kesempatan bersamaan dari delapan titik di desa. Salawatan kolosal oleh 3.000 orang. 

     

    Mereka yang berdatangan dari arah masjid adalah ratusan tokoh agama bertemu tokoh adat. Doa dua macam dengan bahasa Betetulak dan doa syariat. Sama saja cuman lagunya berbeda. ''Dilagukan seperti Bekekayak (berpantun) dalam bahasa Arab,'' katanya kepada Tempo.

     

    Ribuan warga membawa dulang berisi menu non bernyawa dan berdarah atau daging untuk acara Begibung. TEMPO/Ahyak Mudin

     

    Setelahnya, ribuan warga mensyukurinya dengan Begibung - makan bersama - menu non bernyawa dan berdarah atau daging -- namun boleh ikan laut -- dan sayur mayur saja. Ada 3.475 dulang (nampan) yang diangkat di atas kepala dari berbagai penjuru desa. Satu dulang untuk empat orang yang hadir guna makan bersama. Juga tidak boleh membawa berbau plastik. Untuk minumnya air menggunakan ceret tanah. 

     

    Kepala Desa Pengadangan Iskandar kepada TEMPO menjelaskan, penyelenggaraan dilakukan dalam rangka Maulid Nabi dan mempromosikan Pengadangan sebagai desa yang memiliki keunggulan berkesenian di Kabupaten Lombok Timur. Perhelatan ini juga menampilkan kegiatan kesenian selama sepekan, "Betetulak ini sebagai pembukaannya. Penutupnya, 12 Rabiul Awal," katanya.

     

    Desa Pengadangan adalah satu desa yang memiliki keunggulan dalam berkesenian Sasak. Mulai dari Slober yang tidak ditemukan di wilayah lain. Slober merupakan permainan musik tradisional yang menggunakan Keroncong (Klenang Nunggal) yang terbuat dari bambu dan besi.

     

    Permainan lainnya berupa Cungklik yang dibuat dari bambu, kemudian musik Kecimol, Cilokaq yang terdiri dari alat musik sederhana menggunakan jidur, gendang, seruling, gong preret. Di sana pula ada tradisi Rantok Sando, menumbuk padi sambil berbalas pantun yang dilakukan oleh empat orang, Bebunteran.

     

    Selama seminggu setelah Betetulak tersebut, setiap sore warga juga menyelenggarakan permainan rakyat Peresean, yaitu adu ketangkasan antar pemain yang disebut Pepadu. Dua pria saling memukul menggunakan tongkat kayu dan berbekal tameng kulit hewan.

     

    Warga juga menyelenggarakan pameran kerajinan tangan berupa perabot Preak untuk keperluan  rumah tangga, topi petani, aksesoris lainnya. Sendok nasi dan sayur yang terbuat dari kayu, cobek kayu kelapa, tas, hingga gantungan kunci.

     

    Berbagai kerajinan dipamerkan pada acara Betetulak, salah satunya cobek dari batang pohon kelapa. TEMPO/Iskandar

     

    Sedangkan kulinernya berupa makanan keripik pisang sale atau dari singkong dan yang lainnya saos tomat. Kesehariannya, Pengadangan merupakan desa penghasil sayur mayur dan salah satu pusat buah alpukat di Lombok. ''Ini ajang promosi desa dalam acara ini,'' ujar Iskandar.

     

    Salah seorang warga Haji Asipudin, menceritakan riwayat Betetulak. Ritual ini merupakan kearifan lokal yang sudah biasa dilakukan warga. Mengembalikan segala yang terjadi di alam ini kepada yang Maha Kuasa. "Tahun ini dilaksanakan agar api di Rinjani segera padam. Warga diajak berdoa bersama," ucapnya.

     

    Atraksi Pesona Budaya Pengadangan ini merupakan perpaduan kegiatan antara tokoh agama dan tokoh adat. "Agar bencana segera diakhiri dan kehidupan bisa sejahtera dan makmur,'' katanya kepada TEMPO.

     

    Rencananya, Ahad 3 Nopember 2019 mendatang, juga dilakukan acara Ngalu Ujan (memohon hujan yang dikenal sebagai salat Istisqa). Dilakukan di area sekitar mata air Dayan Desa - Alung Raden -- pusat peninggalan para bangsawan setempat.

     

    Dalam Ngalu Ujan semua masyarakat yang memiliki sawah akan memotong seekor ayam. ''Pemotongan dilakukan di Alung Raden,'' ujarnya menyebut titik pertemuan aliran air dari gunung. 

     

    Setelah dipotong, ayam tadi dilemparkan terlebih dahulu ke air dan setelah itu dilakukan pembakaran untuk dimakan bersama. Ini pengganti lauk yang sewaktu acara Betetulak sebelumnya, berpantang memotong dan memakan daging ternak.

     

    Di Desa Pengandangan terdapat 44 kiyai, mereka menerima anggota baru yang diangkat sesuai persetujuan kepala desa dan perantinya. Dengan syarat menguasai ilmu agama. TEMPO/Ahyak Mudin

     

    Asipudin mengatakan bahwa kegiatannya berlabel Adat Gama, perpaduan antara adat dan agama. ''Jelas adat tidak boleh bertentangan dengan agama,'' ucapnya pula. 

     

    Sebagai mana tradisinya, yang melakukan pemotongan adalah para tokoh agama yaitu pengulu desa yang disebut kiyai. Di desa tersebut terdapat 44 kiyai. Pada waktu yang sama, juga akan dilakukan pengangkatan seorang kiyai baru, yang tradisinya dilakukan pada setiap bulan Maulid. Pengangkatannya melalui persetujuan kepala desa dan pengulu desa, dengan syarat harus mampu di bidang agama. 

     

    Untuk pengukuhannya, dilakukan pada 12 Rabiul Awal atau 9 Nopember 2019, berupa pengajian di masjid. Pengukuhan itu disertai ritual mengangkat Klakat (wadah tempat makan) yang dibuat dari daun enau (aren) berisi nasi lauk dan sayur. 

     

    Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur Mugni menyatakan bersyukur bahwa penyelengaraan Pesona Budaya Pengadangan ini mengalami peningkatan dibanding tahun pertama, 2018. "Alhamdulillah luar biasa peningkatannya," ujar Mugni.

     

    Dalam Betetulak warga menampilkan permainan dan kesenian. Salah satunya gendang Beleq untuk menyambut tamu. TEMPO/Iskandar

     

    Mugni berharap atraksi budaya itu, menjadi salah satu kalender kegiatan Pesona Gumi Selaparang tingkat kabupaten Lombok Timur.

     

    Karenanya, Mugni mendorong penyelenggaraannya dihelat secara rutin. Menurutnya, Pesona Budaya Pengadangan itu menciptakan alam lestari, budaya kokoh, agama bergairah. ''Perpaduan ketiga hal itu,'' ucapnya.

     

    SUPRIYANTHO KHAFID

     

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H