Nikita Willy di Alam Liar Namibia, Inilah 10 Destinasi Topnya

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nikita Willy di perkampungan Suku Himba. Foto: @nikitawillyofficial94

    Nikita Willy di perkampungan Suku Himba. Foto: @nikitawillyofficial94

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam postingannya dua hari lalu, Nikita Willy menginap di kawasan Serra Cafema. Secara geografis, Serra Cafema berada di Afrika Selatan di perbatasan dengan Namibia. Dari kamp perkemahan itu, ia bisa menikmati pepohonan di sela-sela gurun, di tepi Sungau Kunene di wilayah Namibia.

    Di sana, ia bertemu dengan Suku Himba, suku nomaden yang rumahnya terbuat dari kayu yang dibungkus dengan tanah liat. Tempat menginap Nikita mungkin yang paling “mewah” di tengah padang pasir yang serba minim fasilitas. Tidur dengan kemah berkelambu, tanpa pagar – dan dilengkapi kolam renang dan listrik tenaga matahari. Sejauh mata memandang adalah gurun yang sunyi.

    Namun camp yang digunakan Nikita, bukan sembarang camp. Seturut situs wilderness-safaris.co, camp yang ditinggali Nikita dikelola Marienfluss Conservancy, yang dikelola suku Himba, sebagai eco-tourism yang melibatkan suku lokal dan menjamin keberlangsungan tradisi, budaya, dan alam. Nikita juga pelesiran ke Skeleton Coast dan berbagai tempat eksotik lainnya di Namibia. Berikut destinasi di Namibia yang direkomendasikan Lonely Planet.

    Taman Nasional Etosha

    Taman Nasional Etosha, yang mencakup lebih dari 20.000 km persegi, adalah salah satu tempat pengamatan satwa liar Afrika dan salah satu yang terbaik di dunia. Tidak seperti taman lain di Afrika, di Etosha, wisatawan tak perlu berkeliling mencari hewan liar. Justru mereka yang menghampiri Anda.

    Anda cukup memarkir mobil di dekat kubangan air, untuk bertemu singa, gajah, wild the beast, badak, dan berbagai hewan liar dalam jumlah ribuan. Pada musim hujan, Taman Nasional Ethosa berubah menjadi laguna dangkal dengan Flamingo dan pelican di atasnya. Padang rumput pun tumbuh subur, sebaliknya, begitu musim kemarau semuanya menjadi padang pasir kembali. 

    Nikita Willy saat berada di Sossusvlei, gurun mati dengan penginapan khas alam liar Afrika. Foto: @nikitawillyofficial94

    Sesriem dan Sossusvlei

    Sossusvlei merupakan wilayah terisolasi dengan bukit-bukit pasir. Ia merupakan bagian dari lautan pasir seluas 32.000 km persegi, dengan aksesoris bukit pasir setinggi 325 m. Sossusvlei ekosistem tertua dan paling kering di dunia. Pemandangan yang menakjubkan itu berubah-ubah, seiring angin yang mengembus bukit-bukit pasir. Sesriem merupakan kota terpencil, gerbang menuju Sossusvlei, lokasi Anda menemukan penginapan, pompa bensin, dan air. Suplai air berasal dari ngarai, yang disimpan penduduk dalam tong yang terbuat dari kulit sapi. 

    Fish River Canyon

    Fish River Canyon mungkin tempat paling liar di Afrika yang tak ada padanannya. Canyon ini berkomposisi ngarai sepanjang 160 km selebar 27 km. Kedalamannya mencapai 550 m. Anda bisa melakukan pendakian atau memilih panjat tebing untuk menaklukkannya.

    Lüderitz

    Lüderitz oase gurun pasir. Dataran subur itu dijepit gurun Namibia yang tandus dan pantai Atlantik Selatan yang berangin. Sebagai pelengkap keindahan geografis Lüderitz, kunjungilah gedung art nouveau Jerman. Sebuah peninggalan kolonial Jerman yang hampir tidak tersentuh oleh abad ke-21. Lüderitz bagi orang Jerman saat itu dibangun untuk mengenang desa kecil Bavaria lengkap dengan gereja, toko roti, dan kafe. 

    Walhasil Lüderitz bukan saja kemewahan di tengah gurun, namun juga keunikan. Atraksi lain yang bisa ditemui di tempat itu berupa garis pantai berbatu di Lüderitz Peninsula, yang dihinggapi flamingo dalam jumlah kolosal dan koloni penguin.

    Luderitz perkampungan Jerman era kolonial. Foto: Roger de la Harpe Getty Images

    Grootberg Lodge

    Berlokasi di Damaraland, Grootberg Lodge adalah kemewahan di alam liar Namibia. Terletak di lokasi yang hijau, Grootberg Lodge merupakan resort untuk menginap bersama keluarga. Di lokasi itu, Anda bisa ke lembah untuk menyaksikan badak hitam. Meskipun berada di lokasi resort yang mewah, pemandangan liar Afrika terbentang di depan Anda.

    Swakopmund

    Terjepit di antara pantai Lautan Atlantik dan Gurun Namibia, Swakopmund merupakan kota pemberhentian atau stasiun bagi musafir yang menerabas Gurun Namibia. Swakopmund merupakan petilasan kolonial, yang berpenghuni hingga kini. Dari stasiun pemberhentian itu, Anda bisa melanjutkan ke Skeleton Coast dan Gurun Namibia. Seperti Lüderitz di pantai selatan, dengan arsitektur Jerman berbentuk rumah-rumah kayu, Swakopmund merupakan tempat yang nyaman untuk berjalan-jalan menikmati keteduhan di tengah gurun. Di sini Anda benar-benar merasa di kota kecil di Jerman, namun dengan warga Namibia yang ramah.

    Skeleton Coast

    Sewibawa namanya, Skeleton Coast merupakan padang pasir berpantai yang tak ramah. Bangkai-bangkai kapal kandas di pantainya, dengan tulang belulang manusia dan hewan terkubur di pantainya. Pantai ini membuat kandas ratusan kapal sejak zaman penjelajahan. 

    Skeleton Coach kuburan bagi kapal yang terdampar. Foto: @stephanievanvan

    Para pelaut Portugis pada awal masa penjelajahan menyebutnya sebagai Areias do Inferno (Pasir Neraka), karena begitu kapal terdampar di pantai, nasib para kru seperti disegel. Kawasan Pantai Tengkorak ini membentang dari Sandwich Harbour, selatan Swakopmund, ke Sungai Kunene, dan sekitar 20.000 km persegi bukit pasir dan dataran kerikil. Wilayah ini membentuk wilayah tanpa air yang paling tidak ramah di dunia -- di gurun tertua di dunia.

    Kaokoveld

    Fotografer alam liar dimahkotai di Kaokoveld. Tak berlebihan, wilayah Kaokoveld merupakan tempat religious fotografer alam liar Afrika. Di sini repositori pegunungan gurun yang luas, ini adalah salah satu daerah yang paling tidak berkembang di Namibia atau Namibia paling purba. Kaokoveld juga merupakan rumah leluhur orang-orang Himba, sebuah kelompok suku yang kaya budaya yang mempertahankan penampilan dan gaya berpakaian mereka.

    Kaokoveld sebagian besar tidak memiliki jalan dan hanya dilintasi oleh jalur berpasir, yang dibuat Pasukan Pertahanan Afrika Selatan (SADF) beberapa dekade yang lalu. Di hutan belantara yang keras dengan kondisi kering dan gersang ini, satwa liar dipaksa untuk beradaptasi dengan cara yang ajaib: salah satunya gajah gurun. 

    Cagar Alam Okonjima

    Cagar Alam Okonjima seluas 200 km persegi adalah pusat dari salah satu program konservasi paling mengesankan di Namibia. Sebagai rumah dari AfriCat Foundation, ia melindungi cheetah dan karnivora lainnya dari konflik manusia-satwa liar. Okonjima memberi satwa ruang gerak yang terjaga dari populasi manusia. Selain akomodasi yang sangat baik dan program edukasi mengenai alam liar AfrikaOkonjima menawarkan kesempatan untuk melacak macan liar, cheetah, anjing liar Afrika, dan singa. Ada juga jalan

    Cagar Alam Okonjima merupakan suaka kucing-kucing besar dari konflik dengan manusia. Foto: @wanderingwheatleys

    Cape Cross

    Cape Cross merupakan koloni pembiakan anjing laut berbulu, yang paling terkenal di sepanjang pantai Namibia. Cagar alam ini merupakan tempat konservasi bagi anjing laut. Sekitar 100.000 anjing laut tinggal di wilayah pantai berbatu itu. Inilah konservasi hewan liar yang dipenuhi dengkingan dan gonggongan yang terus menerus. Keindahan ini hanya tergamggu oleh bau tumpukan kotoran anjing laut. Cape Cross merupakan tempat berkumpulnya ikan, yang menjadi rumah ideal bagi anjing laut, untuk memastikan pangan mereka tercukupi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?