Wisata Sejarah ke Terowongan Limbah Pabrik Gula Banyumas, Berani?

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menyusuri lorong blothong atau saluran pembuangan limbah di pabrik gula bekas peninggalan Belanda di Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sumber: Satelitpost.com

    Pengunjung menyusuri lorong blothong atau saluran pembuangan limbah di pabrik gula bekas peninggalan Belanda di Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sumber: Satelitpost.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Wisata sejarah tak selalu dilakukan dengan pergi ke museum atau candi. Kali ini, wisata sejarah yang ditawarkan masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, adalah menyusuri terowongan limbah pabrik gula bekas peninggalan Belanda. Penduduk setempat menamakannya wisata Lorong Blothong.

    Baca: Wisata Sejarah, Nisan Makam Raja Utuh tapi Jasadnya Dicuri

    Wisata lorong blothong mengajak pengunjung masuk ke saluran pembuangan limbah pabrik gula yang sudah disesuaikan untuk kebutuhan wisata. Terowongan 'lorong blothong' memiliki panjang 80 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 1,5 meter. Terowongan ini dibangun Belanda pada tahun 1839.

    Cukup membayar tiket Rp 3.000, wisatawan bisa menjelajahi bangunan pabrik gula yang kini menjadi sumber pendapatan masyarakat sekitar. "Wisata ke terowongan pabrik gula ini bermula dari bercita-cita masyarakat yang ingin mengubah pola hidup serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi," kata Sumadi, Ketua Umum Paguyuban Wisata Jengkongan 'Lorong Blothong'.

    Penduduk Dusun Kalibagor bergotong royong membersihkan terowongan pabrik gula yang sudah ditumbuhi belukar dan kotor. Menurut Sumadi, masih ada terowongan lain sepanjang 300 meter yang belum dibersihkan.

    Kini terowongan pabrik gula itu tak lagi kotor, pengap, dan gelap. Wisata sejarah 'Lorong Blothong' membuat saluran limbah menjadi penuh lampu berwarna-warni dan tak lagi pengap.

    Baca juga: Rute ke Museum History of Java dari Jalan Malioboro Yogyakarta

    Menurut para orang tua dulu, Sumadi menceritakan, limbah pengolahan gula dibuang ke Sungai Serayu melalui terowongan tersebut. Saat itu masyarakat tidak protes karena juga bekerja di Pabrik Gula Kalibagor tersebut.

    TERAS.ID | SATELITPOST.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.