Wisata Sejarah, Nisan Makam Raja Utuh tapi Jasadnya Dicuri

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah abdi dalem Keraton Surakarta menuju Masjid Agung Kotagede, Yogyakarta, untuk berdoa bersama sebelum memualai tradisi sadranan atau membersihkan Makam Raja-raja Mataram di Kotagede menjelang Ramadan, Minggu, 21 April 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    Sejumlah abdi dalem Keraton Surakarta menuju Masjid Agung Kotagede, Yogyakarta, untuk berdoa bersama sebelum memualai tradisi sadranan atau membersihkan Makam Raja-raja Mataram di Kotagede menjelang Ramadan, Minggu, 21 April 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Makam raja-raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta menjadi destinasi wisata sejarah yang banyak diminati. Dalam sehari, tercatat lebih dari 5.000 peziarah yang datang ke makam raja-raja Mataram itu.

    Baca: Wisata Sejarah, Teka-teki Letak Kerajaan Mataram di Kotagede

    Di sana terdapat makam Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Raja Panembahan Senopati, dan makam Sultan Hamengku Buwono II. Raja Pajang Sultan Hadiwijaya adalah penerus trah Kesultanan Demak.

    Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan setelah berhasil membunuh musuh Kerajaan Pajang, Aryo Penangsang. Ki Ageng Pemanaham kemudian membangun wilayah Alas Mentaok yang menjadi tempat cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram, yaitu Kotagede di Yogyakarta.

    Ki Ageng Pamanaham memiliki anak bernama Danang Sutawijaya. Dia kemudian menjadi Raja Mataram I dengan gelar Panembahan Senopati. "Panembahan Senopati menganggap Sultan Hadiwijaya seperti ayah angkatnya," kata juru kunci Makam Raja-raja Mataram Kotagede, Mas Lurah Endri Wisastro saat ditemui Tempo di Kantor Sekretariatan Makam Kotagede, Sabtu 27 April 2019.

    Baca juga: Wisata Sejarah, Kisah Benteng Setebal 1 Meter Jebol Ditendang

    Ketika Sultan Hadiwijaya wafat, jasadnya dimakamkan di Dusun Butuh, Purwodadi, Jawa Tengah. Lantaran Panembahan Senopati menganggap Sultan Hadiwijaya seperti ayah angkatnya dan menghormati karena telah memberikan lahan untuk mendirikan Kerajaan Mataram, maka dia memindahkan jenazahnya ke Makam Kotagede sama dengan tempat Ki Ageng Pemanahan dimakamkan.

    Suasana halaman Makam Raja-raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta, Sabtu, 27 April 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

    "Dipindahkan dengan dicuri. Jenazahnya tidak diambil dari atas melewati batu nisan, tapi dari samping," kata Endri. Tujuannya ada dua, Panembahan Senopati menghormati Sultan Hadiwijaya sehingga tak ingin mengobrak-abrik makamnya. Kedua, Panembahan Senopati ingin Kerajaan Pajang tunduk pada Kerajaan Mataram. "Jadi ada alasan politisnya."

    Lantas apakah Kerjaan Pajang mau tunduk kepada Kerajaan Mataram? "Kerajaan Pajang kan lebih tua daripada Mataram. Otomatis tak mau tunduk," kata Endri. Hingga kini, nisan di makam Sultan Hadiwijaya di Dusun Butuh, Purwodadi, Jawa Tengah, masih utuh. Masyarakat di sana meyakini jenazah Raja Pajang Sultan Hadiwijaya masih bersemayam di dalamnya.

    Artikel lainnya:
    Etika Pakai Toilet di Pesawat Terbang, Penumpang Pria Wajib Tahu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.