Libur Panjang Pemilu 2019, Ini 5 Gawat Darurat Saat Liburan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung bermain pasir di tepi Pantai Ancol pada hari ketiga libur Idul Fitri, Jakarta, Ahad, 17 Juni 2018. Jumlah pengunjung di Taman Impian Jaya Ancol diprediksi akan terus meningkat mengingat cuti bersama Idul Fitri yang panjang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pengunjung bermain pasir di tepi Pantai Ancol pada hari ketiga libur Idul Fitri, Jakarta, Ahad, 17 Juni 2018. Jumlah pengunjung di Taman Impian Jaya Ancol diprediksi akan terus meningkat mengingat cuti bersama Idul Fitri yang panjang. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Indonesia banyak menjalani libur panjang pemilu. Banyak yang memutuskan mengambil cuti pada hari kejepit Kamis 18 April 2019. Mereka memilih untuk bablas libur sejak tanggal merah hari pencoblosan, Rabu 17 April 2019 lalu libur memperingati Wafat Isa Al Masih pada Jumat 19 April 2019 hingga hari Ahad 21 April 2019.

    Baca: Libur Panjang Pasca Pencoblosan, KAI Tambah 11 KA ke Tujuan Ini

    Waktu libur 5 hari memang cocok untuk keluarga menghilang dari kesibukan yang padat ibu kota. Banyak yang memilih untuk menenangkan diri dengan liburan bersama keluarga dan orang terkasih. Walau begitu, masyarakat juga penting untuk waspada bila terjadi hal gawat darurat saat liburan. Berikut adalah 4 hal yang perlu diwaspadai saat liburan menurut Dokter Umum dan Kepala Unit Emergency RS Pondok Indah, Felix Samuel, di Bogor pada 12 April 2019.

    1. Mabuk perjalanan
    Mabuk perjalanan sering dialami saat hendak berlibur ke berbagai daerah. Mabuk perjalanan bisa dialami oleh orang yang menggunakan angkutan darat, laut dan juga udara. "Ini salah satu gangguan kesehatan yang paling sering terjadi saat berada di perjalanan," kata Felix.

    Gejala dari motion sickness alias mabuk perjalanan ini meliputi pusing, mual, muntah, lemas dan tidak nafsu makan. Felix mengatakan masalah mabuk perjalanan dipicu karena karena ada gangguan pada pusat keseimbangan. “Ketika terjadi ketidaksinkronan antara apa yang dilihat oleh mata, apa yang dirasakan oleh otot dan sendi, dan apa yang terjadi di telinga dalam," katanya.

    Ia mengambil contoh ketika orang bermain telepon genggam di dalam mobil. Mata terfokus pada layar sedangkan telinga kita menyadari bahwa tubuh bergerak bersama lingkungan. "Hal ini akan menyebabkan pusing yang memicu motion sickness”, kata Felix.

    2. Diare akut
    Mencoba kuliner saat liburan menjadi salah satu kegiatan wajib yang dilakukan para wisatawan. Sayang, karena banyak hal, para wisatawan itu terkadang mengalami diare akut. Diare akut adalah perubahan konsistensi tinja yang terjadi secara tiba-tiba akibat kandungan air di dalam tinja melebihi normal. Hal ini menyebabkan peningkatan frekuensi buang air lebih dari tiga kali sehari. Gejala dari diare akut ini yaitu buang air besar cair, mual, muntah, nyeri pada perut dan bila sudah sangat parah akan memunculkan demam.

    Menurut Felix, penyebab diare yang paling sering adalah bakteri dan virus. "Sebaiknya, orang yang sedang diare banyak-banyak minum air. Obat diare tidak begitu direkomendasikan karena justru bisa memperburuk keadaan,” katanya.

    3. Tersedak
    Tersedak juga bisa terjadi pada wisatawan saat liburan. Hal gawat darurat ini adalah keadaan di mana terjadi sumbatan jalan napas akibat benda asing seperti makanan, minuman, plastik, dan lainnya. Gejala yang ditimbulkan biasanya susah bicara, sesak napas, batuk, kulit dan bibir kebiruan, pucat, hingga tidak sadarkan diri.

    4. Tenggelam
    Pantai dan kolam renang adalah tujuan wisata favorit masyarakat Indonesia yang memiliki cuaca panas. Sayang, saat kegiatan wisata itu, tetap saja ada hal gawat darurat yang bisa terjadi. Salah satunya tenggelam.

    Tenggelam adalah gangguan pernapasan akibat berada di dalam atau di bawah permukaan air. Gejalanya berupa gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, tidak bernapas, dan tidak sadar.

    Baca: Sidak Usai Libur Panjang, Bupati Bogor Temukan ASN Tak di Ruangan

    Untuk mencegah tenggelam, penting sekali masyarakat belajar berenang. Selain itu perlu pula pengawasan khusus terutama pada anak-anak. Menggunakan pelampung atau waspada dengan pagar pembatas juga perlu ditingkatkan. Terakhir penting sekali adanya alarm peringatan dini dalam kejadian bencana tsunami dan banjir di lokasi wisata.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.