Banten akan Kembangkan Wisata Berbasis Mitigasi Bencana

Reporter:
Editor:

Yos Rizal

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pantai di area Tanjung Lesung Beach Hotel and Resort, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin, 1 April 2019. TEMPO/Bram Setiawan

    Suasana pantai di area Tanjung Lesung Beach Hotel and Resort, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin, 1 April 2019. TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Pandeglang -Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy meminta dukungan pemerintah pusat melalui Menteri Pariwisata agar kebijakan pembangunan pariwisata kawasan Anyer, Carita dan Tanjung Lesung pasca-tsunami Selat Sunda beberapa waktu lalu, bisa dikembangkan dengan pola pengembangan wisata berkelanjutan dan berbasis mitigasi bencana.

    Baca juga: Menteri Pariwisata Targetkan 1 Juta Wisatawan ke Tanjung Lesung 

    Menurut Andika, pariwisata berbasis migitasi bencana, merupakan salah satu program yang signifikan dalam gerakan rekonstruksi pariwisata pascabencana.

    “Karena itu, unsur-unsur pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata yang terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan atau yang lazim disebut Sapta Pesona perlu menjadi perhatian bersama,” kata Andika pada acara HUT Kabupaten Pandeglang ke-145 di Alun-alun Pandeglang, Senin.

    Menurut Andika, pemulihan Sapta Pesona pariwisata di kawasan Anyer-Carita dan Tanjung Lesung harus didukung dengan rekonstruksi amenitas dan aksesibilitas yang menjadi faktor penting yang harus dikelola dalam konteks pembangunan kepariwisataan yang berkesinambungan.

    Andika mengungkapkan, potensi wisata bahari di Provinsi Banten sangat tinggi dengan 82 jumlah pantai dan panjang garis pantai 509 kilomter, dengan khusus pantai di wilayah Selat Sunda mencapai 54 pantai dengan garis pantai sepanjang 97,6 kilometer.

    Menurut Andika, kegiatan pariwisata telah menjadi salah satu industri besar yang berkontribusi bagi ekonomi di Provinsi Banten.

    Terkait pengembangan pariwisata berbasis mitigasi bencana, kata Andika, Pemerintah Provinsi Banten berharap program sertifikasi kesiapsiagaan bencana bagi penyedia jasa industri pariwisata dan jasa lainnya bisa segera dilakukan dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten dan BPBD Kabupaten Serang serta Dinas Pariwisata.

    Adapun terkait dengan pengembangan wisata dengan pola berkelanjutan, Andika mengatakan, pembangunan pariwisata tersebut harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan pariwisatanya dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat.

    Sementara itu, Menteri Arief Yahya mengatakan, pascabencana pada Desember lalu, pariwisata di sekitar wilayah pesisir Selat Sunda sudah kembali aman. Penegasan tersebut, kata dia, didasari oleh hasil pengamatan dari Badan Geologi terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau pasca-tsunami Selat Sunda yang telah menunjukkan penurunan aktivitas dan tidak ada fenomena bertumbuh.

    “Radius amannya itu 2 kilometer dari kawah Anak Krakatau, bukan dari pesisir pantai. Dengan demikian kawasan wisata di Selat Sunda aman dikunjungi wisatawan," kata Arief.

    Artikel lain: Tiga Bulan Pasca Tsunami, Intip Kondisi Terbaru Tanjung Lesung 

    Lebih lanjut, Arief menuturkan, untuk mendongkrak sektor pariwisata pesisir Selat Sunda, pihaknya telah menyusun 49 kegiatan di daerah pariwisata terdampak bencana. Dari 49 kegiatan tersebut, kata Arief, 14 kegiatan terkait SDM, 19 kegiatan terkait pemasaran dan promosi, dan 16 kegiatan terkait destinasi.

    "Dari 49 kegiatan sudah kita laksanakan 16 kegiatan," kata Arief.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.