Senin, 25 Juni 2018

Sandiaga Uno Ingin Bantargebang Jadi Obyek Wisata, Ini 5 Faktanya

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunungan sampah yang biasanya berserakan dan menggunung kini hampir tak terlihat lagi di TPST Bantargebang.

    Gunungan sampah yang biasanya berserakan dan menggunung kini hampir tak terlihat lagi di TPST Bantargebang.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berencana menjadikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, menjadi obyek wisata edukasi. "Ini potensinya sangat besar," kata Sandi di TPST Bantargebang, Jumat, 9 Maret 2018.

    Sandiaga Uno mencontohkan, di sejumlah negara maju, sampah tak lagi menjadi momok. Sampah justru menjadi sumber penghidupan karena diolah dengan baik. Sampah, misalnya, bisa dijadikan energi dan pupuk organik. "Bantargebang bisa diolah dengan baik ke depan," ucap Sandi.

    Belum jelas bagaimana Sandiaga Uno akan mewujudkan hal itu. Namun, yang pasti, ini lima fakta mengenai TPST Bantargebang.

    1. Luas kawasan

    Kawasan pengolahan sampahnya seluas 110 hektare dan menampung produksi sampah Jakarta 7.000 ton per hari. Namun sebagian dari gunungan sampah di sana juga berasal dari Kota Bekasi. TPST diswakelola sejak Juli 2016.

    2. Kelengkapan prasarana

    Titik buang terbagi menjadi lima titik, yaitu zona I, II, dan V seluas 48 hektare, zona III seluas 20 hektare, zona IV seluas 6,5 hektare, serta zona Kepala Burung seluas 3 hektare. Sisanya merupakan jalan, kantor, tempat pengolahan kompos, dan rumah pembangkit listrik.

    3. Proses pembuangan dan pengolahan

    Sampah ditempatkan dengan puluhan ekskavator. Setidaknya ada empat gunungan sampah hasil penumpukan yang membentuk bagai piramida. Masing-masing gunungan sampai setinggi sekitar 25 meter.

    Semula digunakan teknik sanitary landfill, yakni sampah ditumpuk dan setiap mencapai tebal 3 meter dilapisi dengan tanah. Gunungan sampah yang mencapai batas tinggi maksimal lalu ditutup dengan geomembran agar tak terkontaminasi air hujan. Hal itu dilakukan agar gunungan sampah bisa menyusut.

    Belakangan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bekasi menyatakan sampah diolah tidak lagi menggunakan teknik sanitary landfill, melainkan ditimbun begitu saja secara terbuka (open dumping). Akibatnya, bau sampah yang ditimbulkan semakin luas dan bisa mencapai puluhan kilometer jika tertiup angin kencang.

    Kepala Unit Pelaksana Teknis TPST Bantargebang Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengakui, pengolahan sampah belum maksimal. Saat itu, dia menjanjikan sejumlah kekurangan tersebut dapat terselesaikan akhir tahun 2017.

    4. Dampak

    Sampah di TPST Bantargebang menebar dampak bau terhadap 17.776 keluarga di tiga kelurahan: Sumurbatu, Ciketing Udik, dan Cikiwul. Karena itu, pemerintah Jakarta membayar kompensasi bantuan langsung tunai sebesar Rp 900 ribu yang dibagikan kepada setiap keluarga terdampak per tiga bulan. Uang itu terdiri atas Rp 600 ribu yang dikirim langsung ke rekening warga di tiga kelurahan dan Rp 300 ribu lewat lembaga pemberdayaan masyarakat.

    5. Penataan lingkungan

    Berbagai tanaman tumbuh sepanjang jalan menuju lima lokasi titik buang setelah pintu gerbang. Hal yang sama dilakukan di sekitar danau. Di danau itu, ditanami ikan yang sekaligus digunakan sebagai indikator pencemaran.

    ADI WARSONO | WURAGIL

    Artikel lain: Dilanda Hujan Ekstrem, Kawasan Pantai Gunungkidul Aman bagi Turis


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.