Jumat, 23 Februari 2018

Mengenal Arsitektur dan Lingkungan Gereja Santa Lidwina Sleman

Reporter:

Pito Agustin Rudiana (Kontributor)

Editor:

Tulus Wijanarko

Rabu, 14 Februari 2018 08:00 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mengenal Arsitektur dan Lingkungan Gereja Santa Lidwina Sleman

    Suasana Gereja Santa Lidwina, sehari setelah terjadinya penyerangan di Sleman, Yogyakarta, 12 Februari 2018. Umat dan warga gotong royong membersihkan gereja dari bekas ceceran darah dan juga peralatan yang rusak. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Sleman - Sekilas Arsitektur bangunan Gereja St Lidwina yang terletak di Dusun Bedog, Desa Trihanggo,  Sleman, itu tiada beda dengan gereja Katolik lainnya. Pintu utamanya menghadap ke barat, dan bagian sangtuari terletak di ujung timur. Sangtuari itulah bagian depan yang memuat altar dan sedilia atau kursi imam.

    Bangunan Gereja Santa Lidwina dibuat tinggi bukan tanpa maksud. Filosofinya adalah bahwa saat orang masuk ke tempat ibadah, dirinya akan merasa ‘kecil’ di hadapat Illahi.

    Perhatian luas masyarakat sempat tertuju ke Gerea Santa Lidwina ini karena diserang pelaku teror bersenjata pedang pada 11 Februari 2018 lalu. Sejumlah kerusakan terjadi akibat serangan itu, dan beberapa luka parah.

    Dari sisi arsitektur bangunan gereja ini cukup unik, karena dibangun dengan beberapa keterbatasan. Salah satu keunikan adalah atap gereja Santa Lidwina yang dibuat miring. Pilihan itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan atap kebanyakan rumah di perkampungan itu.

    Bangunan ini juga tanpa alat pendingin udara, namun tak terasa hawa panas karena arsitekturnya memungkinkan hal itu.

    Seluruh aspek itu dilakukan karena, “Gereja itu dibangun di atas lahan kecil dengan dana yang terbatas,” kata arsitek pembangunan Gereja Santa Lidwina Dionesius Anas Rahmat Alexander saat ditemui di gereja tersebut, Selasa, 13 Februari 2018.Ruangan bagian dalam bangunan induk Gereja Santa Lidwina di Sleman, Yogyakarta, yang dipasangi ventilasi di bagian dinding bawah dan atas, Selasa, 13 Februari 2018. Tempo/Pito Agustin Rudiana

    Ketua Gereja Santa Lidwina Yohanes Mateus Soekatno menisahkan gereja itu bermula dari kapel yang dibangun di atas lahan seluas 100 meter persegi pada 1979. Semula status tanahnya adlaah hak guna bangunan, lalu menjadi milik gereja setelah melalui proses tukar guling.

    Karena jemaat yang beribadah di sana semakin banyak, laldu dibangun gereja di samping kapel tersebut, pada 2004. Lokasinya persis di sebelah timur kapel yang berupa lahan dengan cekungan mirip jurang. Luasnya sekitar 700 meter persegi.

    Kalau tak dibangun gereja, akan merepotkan mereka yang beribadat. “Kalau pakai kipas angin, ibu-ibu yang sepuh masuk angin, baunya (minyak) PPO. Kalau tanpa kipas angin, sumuk, kepet-kepet (kipas-kipas),” kata Anas.

    Dengan dana Rp 700 juta dimulailah pembanunan itu. Panitia juga melakukan penggalangan dana. “Kami juga memanfaatkan sisa-sisa material bangunan,” kata Anas yang juga menjabat sebagai Sekretaris Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DI Yogyakarta.

    Untuk campuran dinding bangunan menggunakan sisa-sisa pecahan batu alam yang didapatkan dari Muntilan. Daun-daun pintu gereja yang terbuat dari kayu jati lama pun menggunakan bekas daun pintu dari Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela di Jalan Kemetiran, Kota Yogyakarta.

    “Saat itu, Gereja Kemetiran dibongkar. Lalu dibangun baru dengan material baru,” kata Anas.

    Daun-daun pintu itu masih terlihat kokoh. Bagian dindingnya berhias ukiran kotak-kotak. Ketinggian daun pintu utama mencapai 2,4 meter. Siang itu pintu dibuka lebar. Bongkaran keramik Gereja Kemetiran digunakan untuk menambal bangunan baru gereja.

    Lantaran tanah yang digunakan berupa cekungan, Anas pun memutar otak agar lahan bisa digunakan tanpa perlu membutuhkan tanah urug yang membutuhkan biaya tinggi. Akhirnya dibuat desain berupa semi basement.

    “Jadi tak perlu banyak tanah urug,” kata Anas. Bangunan basement setinggi tiga meter yang berada di bawah bangunan gereja dipergunakan untuk lahan parkir dan kegiatan lain.

    Untuk menghubungkan basement dengan bangunan induk di atasnya dibuat empat pintu dengan anak tangga penghubung, baik menuju basement maupun menuju bangunan induk. “Biar aksesnya mudah, tidak menggerombol di satu titik. Juga antisipasi evakuasi,” kata Anas.

    Sedangkan bangunan gereja dibuat setinggi 10 meter dari altar dan plafon setinggi 5 meter. Untuk memperlancar sirkulasi udara dibuat ventilasi berupa lubang-lubang berbentuk kotak berukuran 15 centimeter x 15 sentimeter yang disusun memanjang di dinding bawah di atas lantai.

    Sedangkan pada dinding bagian atas dipasangi jendela-jendela kayu berventilasi yang juga mengitari dinding. Pembuatan ventilasi di sisi bawah dan atas dinding itu untuk mengikuti sifat udara yang mengalir dari tempat bertekanan rendah ke tempat bertekanan tinggi.

    Hawa dingin mengalir dari bawah masuk ke ventilasi bawah, lalu naik ke tempat yang panas dan ke luar lewat ventilasi atas. “Ini desain perhawaan alami,” kata Anas. Jadi tanpa alat pendingin udara, rung dalam gereja tetap sejuk.

    Sementara atap bangunan dibuat dengan kemiringan yang curam. Begitu pula tritisan atau atap tambahan yang dipasang pada dinding luar, tepatnya di bawah jendela ventilasi. Tritisan pun dibuat dengan kemiringan yang sama.

    Menurut Anas, atap dan tritisan berbentuk pelana itu mengadopsi atap-atap rumah yang ada di perkampungan dengan masyarakatnya yang vernakuler, yaitu dengan latar belakang beragam, seperti petani, pedagang, pekerja.

    Mengingat gereja itu pun berdiri di antara perkampungan penduduk. Di sisi barat terdapat Pasar Jambon, sisi utara ada perkampungan, sisi selatan ada persawahan, dan sisi timur mulai bermunculan rumah-rumah penduduk.

    “Jadi bagaimana bikin gereja yang megah, tetapi tidak beda dengan rumah-rumah perkampungan sekitarnya,” kata Anas.

    Atap pelana dipilih juga untuk menyesuaikan dengan daerah beriklim tropis. Ciri iklim semacam ini adalah kelembapan dan curah hujan yang tinggi.

    Pembangunan gereja itu selesai dalam kurun setahun. Peresmiannya dilakukan oleh Uskup Agung Semarang, MGR Ignatius Suharyo pada 31 Agustus 2005 lalu.

    PITO AGUSTIN RUDIANA (Sleman)

    Artikel lain: Ritual yang Dilakukan Sebelum Wisata Mistis


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Pentingnya Memilah Sampah Sesuai Jenisnya

    Pilahlah sampah sesuai jenisnya, sampah organik, anorganik, dan sampah lainnya.