Minggu, 18 Februari 2018

Nafal Quryanto dan 9 Fakta Mengenai Kegiatan Traveler Sepeda

Reporter:

Egi Adyatama

Editor:

Tulus Wijanarko

Kamis, 7 Desember 2017 16:47 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nafal Quryanto dan 9 Fakta Mengenai Kegiatan Traveler Sepeda

    Ilustrasi traveler sepeda alias bikepacker

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang traveler sepeda asal Bogor, Jawa Barat, bernama Nafal Quryanto dilaporkan tewas saat berkelana menembus perbatasan Nepal. Nafal diduga mengalami kecelakaan saat melintas di Uttarakhand, India, yang berbatasan dengan Nepal. 

    "Kami mendengar kabar dari KBRI di India kemarin, ada seorang WNI yang ditemukan di jurang bernama Nafal," kata Wahyu Indarto, kakak ipar Nafal, saat dikonfirmasi Tempo, Kamis, 7 Desember 2017.

    Nafal  memulai perjalanannya dari Bogor pada akhir Juni 2017. Menggunakan kapal, ia masuk ke Singapura dan mulai menggowes sepedanya menembus beberapa negara. Menurut Wahyu, Nepal adalah tujuan akhir pria berusia 28 tahun itu.Akun Facebook Nafal Quryanto. (facebook)

    Traveler sepeda atau bikepacker alias melancong jarak jauh dengan sepeda memang berkembang pesat di tanah air beberapa tahun terakhir. "Bikepacker" adalah istilah yang dimodifikasi dari bike (sepeda) dan backpacker, orang yang bertamasya menggunakan ransel dan umumnya berdana minim. Bedanya, bikepacker mengandalkan sepeda dalam perjalanan jauhnya. Kegiatannya disebut bikepacking

    Terkait traveler sepeda ini ada beberapa fakta dan tip yang perlu diperhatikan.

    1. Touring. Menurut Bambang Hertadi Mas alias Paimo, traveler sepeda bisa disebut tengah touring jika menempuh jarak minimal 5000 kilometer. Paimo selama ini dikenal telah menjelajahi lima benua dengan sepdanya. Namun menurut Deviano Oktavianus, salah seroang pesepeda, mereka yang menempuh jarak 500-1.500 km sudah bisa disebut touring.

    2. Komunitas. Menurut Budi Chandra, salah seorang traveler sepeda, di Indonesia sudah ada komunitas bikepacker yang didirkan Muhammad Firdaus sejak 2009. Anggota komunita ini, menurut Firdausmencapai ribuan orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Komunitas ini juga mengilhami terbentuknya komunitas serupa di Malaysia.

    3. Hemat. Karena menjelajah selama berbulan-bulan, para traveler sepeda melengkapi diri dengan pengaman kaki, topi, dan kaus khusus. Biasanya para pelancong bersepda ini berhemat dalam setiap perjalanan. Budi misalnya pernah melancong Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, dan Indonesia selama dua bulan dan hanya habis dana Rp 2,5 juta. Duit itu untuk keperluan makan saja, karena untuk penginapan ia biasa menumpang di mana-mana. Makan pun menunya selalu sederhana. Sementara Deviano Oktavianus yang menempuh jarak Jakarta-Sabang sepanjang 3.052 km selama 38 hari menghabiskan dana Rp 4 juta.

    4. Pengalaman. Sebelum melakukan perjalanan jauh, disarankan untuk memperbanyak pengalaman. Selain itu, yang tak kalah penting adalah mempersiapkan perlengkapan, mulai dari sepeda hingga peralatan "tempur", seperti alat masak, pakaian, alat mandi, tas, jas hujan, matras, tenda, tempat tidur gantung atau hammock, dan bahan masakan. Perlengkapan itu umumnya berbobot sekitar 20-50 kilogram.

    5. Busana. Untuk pakaian, kata Firdaus, banyak bikepacker sengaja mengenakan kaus jelek agar tak tampil mencolok di jalan. "Kami sebisa mungkin tidak terlihat modis, karena ada sejumlah jalan yang rawan kejahatan," kata dia. Selain itu, mereka juga membawa kaus berbahan jersey yang mudah kering. Kaus jenis itu jadi andalan para bikepacker karena mencegah mereka dari serangan masuk angin.

    6. Adat-istiadat. Kenali adat dan kebiasaan setempat. Devin memberikan contoh bahwa di Aceh pantang melambaikan tangan menggunakan tangan kiri, karena berarti menantang.

    7. Bahan Sepeda. Untuk sepeda, yang dianjurkan adalah jenis sepeda touring yang berbahan besi. Sepeda berbahan aluminium tidak disarankan karena cenderung tidak seimbang jika diberi beban terlalu banyak. Biasanya, ransel besar diletakkan para bikepacker di bagian boncengan belakang, dan tas kecil dipasang di samping kanan-kiri roda depan.

    8. Rumah Singgah. Di kalangan komunitas Bikepacker Indonesia juga terdapat program rumah singgah untuk menekan pengeluaran. Dengan program itu, antar-anggota komunitas bisa saling bantu menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat menginap pesepeda yang sedang tur. Rumah Firdaus di Cibubur, misalnya, beberapa kali menjadi tempat menginap para bikepacker. Pertukaran informasi soal rumah singgah itu berlangsung di grup Facebook mereka. Tak jarang, yang memanfaatkan program ini adalah para bikepacker dari luar negeri.

    9. Sepeda Solo. Demi keselamatan, Firdaus menyarankan pesepeda yang mengayuh sendirian untuk bergabung dalam rombongan tertentu dan tidak mengaku berasal dari daerah yang jauh. Taktik ini, kata Firdaus, bisa menghindarkan bikepacker dari kejahatan di jalanan.

    EGI ADYATAMA | RULLY KESUMA

    Berita Lain:
    Tip Mempersiapkan Dana Liburan bagi Anda yang Bergaji Rp 5-7 Juta Per Bulan
    Lewat Tol Soroja, Kawasan Wisata Bandung Selatan Ini Jadi Lebih Dekat 
    100 Ton Ikan Mati, Bau Tak Sedap Merebak dari Danau Maninjau
    Agenda Tahun Baru Bangka Belitung: Jazz on the Bridge
    Libur Akhir Tahun, 5 Tip Cermat Memilih Agen Perjalanan


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Diet: Makanan Penurun Berat Badan

    Makanan yang kaya serat, protein dan vitamin cocok bagi orang yang sedang diet.