Merebak Virus Corona, Wuhan Menjadi Kota yang Sunyi

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Stasiun Hankou yang ditutup saat Kota Wuhan diisolasi, di Provinsi Hubei, Cina, 23 Januari 2020. Pemerintah Cina memutuskan menutup seluruh akses ke dan dari Kota Wuhan demi meredam penyebaran virus Corona yang mengakibatkan pneumonia. China Daily via REUTERS

    Suasana Stasiun Hankou yang ditutup saat Kota Wuhan diisolasi, di Provinsi Hubei, Cina, 23 Januari 2020. Pemerintah Cina memutuskan menutup seluruh akses ke dan dari Kota Wuhan demi meredam penyebaran virus Corona yang mengakibatkan pneumonia. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, JakartaVirus corona yang merebak, mengancam masyarakat Cina teridentifikasi bermula dari Wuhan. Akibatnya, kota itu memberlakukan penghentian aktivitas transportasi. Penghentian transportasi itu akibat jumlah korban meninggal terus bertambah, seperti dikutip dari laporan CNN, pada 22 Januari 2020.

    Virus corona yang menyebar itu membuat aktivitas Wuhan menurun. Bahkan kota itu tampak sangat sunyi. Bandara dan stasiun kereta pun ditutup.

    Semua layanan transportasi umum harus dihentikan sementara waktu. Upaya itu untuk menangkal penularan virus yang berkembang di tengah aktivitas masyarakat.

    Sebelum keadaan seperti sekarang ini, Wuhan termasuk kota yang ramai. Kota itu termasuk pusat industri dan komersial di Cina, yang sekaligus menjadikannya sebagai pusat aktivitas transportasi.

    Lonely Planet merangkum beberapa tempat wisata yang terkenal di Wuhan. Di antaranya Kuil Guiyuan yang kerap memikat kunjungan wisatawan yang datang ke Wuhan. Kuil itu termasuk destinasi yang ramai dikunjungi pelancong.

    Seorang petugas keamanan memeriksa suhu penumpang setelah semakin menyebarnya virus corona di pintu tol pada malam menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di Xianning, provinsi Hubei, Cina 24 Januari 2020. Perbatasan Wuhan dijaga ketat petugas untuk mencetak semakin menyebaranya virus corona. REUTERS/Martin Pollard

    Kemudian, Yellow Crane Tower, yang telah dipugar kembali. Menara itu pertama kali dibangun pada tahun 223 Masehi. Bangunan itu memiliki lima lantai, ubin kuning adalah pembuatan ulang pada tahun 1980-an untuk menggantikan ubin di menara Qing yang terbakar pada 1884.

    Ada pula Museum Provinsi Hubei yang memiliki koleksi barang-barang perunggu, persenjataan, dan alat musik, termasuk lonceng perunggu. Pertunjukan lonceng berpadu tiga kali sehari, pukul 10.30, 14.00 siang dan 15.00, waktu setempat selama satu pekan. Koleksi lain di museum itu termasuk fosil paleolitik, peninggalan neolitik tembikar.

    Museum Seni Hubei memiliki dua lantai untuk memamerkan koleksi yang sifatnya sementara -- koleksinya terus berubah sesuai dengan karya seniman yang dipamerkan. Museum ini berfokus pada seni Cina modern. Ada pula lantai 3 yang memajang koleksi permanen, yang menjelaskan perkembangan seni di Hubei pada abad ke-20.

    Kuil Changchun, adalah kuil ajaran Tao di Wuhan, yang mengalami pemugaran. Bangunan aslinya berdiri pada Dinasti Han. Aula Kemurnian Tertinggi atau Tàiqng Diàn adalah pusatnya, yang berisi patung Laotzu berjanggut putih. Ada restoran vegetarian yang terkenal di sebelah kuil ini.

    Pengunjung melihat aksi seorang peserta saat bergaya di atas udara dnegan sepeda yan ditungganginya jelang terjatuh ke dalam danau di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 24 Juli 2016. Wuhan merupakan salah satu destinasi wisata, namun akibat merebaknya virus corona, kota itu jadi sunyi. (Wang He/Getty Images)

    Kemudian, Hankou Bund adalah area terbuka di Wuhan. Sebuah tempat berkumpul penduduk setempat untuk bersantai. Ada beberapa rumah teh dan bar. Ada pula bangunan bersejarah, mahyong papan catur. Sebagian besar orang berada di taman ini saat matahari terbit dan terbenam.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.