Minggu, 22 September 2019

Festival Pamalayu, Mengartikan Ulang Ekspedisi Pamalayu

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati arca yang berasal dari Candi Singasari, Malang, di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, 15 September 2017. Arca dari Candi Singasari yang menjadi kolkesi Museum Leiden, antara lain arca Bhairawa, Mahakala, Nandiswara, Nandi, Ganesha, dan Durga Mahisasuramardini. ANTARA/Ismar Patrizki

    Pengunjung mengamati arca yang berasal dari Candi Singasari, Malang, di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, 15 September 2017. Arca dari Candi Singasari yang menjadi kolkesi Museum Leiden, antara lain arca Bhairawa, Mahakala, Nandiswara, Nandi, Ganesha, dan Durga Mahisasuramardini. ANTARA/Ismar Patrizki

    TEMPO.CO, Jakarta - Festival Pamalayu telah diluncurkan dengan mengadakan sesi bincang dalam ngobrol@tempo bertema 'Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya'. Peluncuran yang diadakan di Museum Nasional, Jakarta Pusat itu, membahas tentang ekspedisi Pamalayu dalam sejarah Dharmasraya.

    Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan dalam arti sederhana ekspedisi berarti pindah tempat untuk membuka hubungan. "Tentu dalam hubungan itu ada manisnya, ada pahitnya. Kita tidak bisa menutup mata dengan kenyataan-kenyataan seperti itu," katanya saat sesi bincang dalam ngobrol@tempo bertema 'Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya', Kamis, 22 Agustus 2019.

    Adapun Pamalayu merupakan sebuah ekspedisi pada abad ke-13, atau 22 Agustus 1286. Ekspedisi itu dilakukan oleh Kerajaan Singasari untuk menjalin persahabatan dengan Malayu-Dharmasraya di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Ekspedisi itu sebagai bentuk bala bantuan untuk mencegah invasi Kekaisaran Mongol yang dipimpin Kubilai Khan.

    Setelah 733 tahun berlalu setelah ekspedisi itu, menurut Hilmar perlu disimak kembali latar belakang sejarah tersebut. "Sekarang memang ada kebutuhan untuk memperbaharui penulisan sejarah nasional kita," ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa upaya untuk menata penulisan sejarah nasional kali pertama dilakukan secara utuh pada 1974. "Dalam bentuk 6 jilid, kemudian diperbaharui beberapa kali sampai tahun 1980-an. Dulu timnya dipimpin oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto," tuturnya.

    Meski demikian, Hilmar mafhum para kalangan sejarawan masih menganggap bahwa penyusunan sejarah nasional itu belum sempurna. Maka, ia menambahkan bahwa dalam semangat mengingat kembali hubungan yang terjadi pada masa lampau, perlu memahami lagi sejarah nasional.

    "Istilah-istilah yang digunakan pada masa lalu dalam penulisan sejarah kita juga sudah waktunya ditinjau kembali. Apa itu ekspedisi sebetulnya maksudnya?" ujar Hilmar.

    Ia mencontohkan saat masa kolonial, Belanda yang menamai ekspedisi, dalam hal ini terkait Pamalayu. "Kalau Belanda menamainya ekspedisi, tentu karena perspektif mereka adalah yang ada di Jawa pergi ke tempat lain untuk melakukan penaklukan," katanya.

    Padahal, Hilmar menegaskan Kerajaan Singasari pada masa lampau tidak punya kemampuan dominan untuk menguasai pihak lain. Ia mencontohkan, selain peninggalan patung, ada pula hubungan pernikahan, serta berbagai kontribusi lain yang diberikan. Hal tersebut, kata dia, menandakan bahwa dalam historiografi yang disebut ekspedisi itu sesungguhnya adalah perjumpaan di antara dua kekuatan yang setara.

    "Dasar interaksinya tentu bukan untuk satu mengalahkan yang lain, tapi untuk kemakmuran bersama," tuturnya.

    Hilmar menjelaskan, Nusantara bila ditinjau melalui sejarah maritim merupakan pola hubungan dalam masyarakat. Hilmar mengatakan bahwa tidak ada kekuatan yang kuat dan menonjol. Bila diambil contoh bahan bacaan dari Kitab Negara Kertagama atau dikenal pula sebagai Kakawin Desawarnana tentang kekuasaan Majapahit, yang hampir seluruh hubungannya disebut wilayah yang "ditaklukan".

    "Sebetulnya bentuk-bentuk pengakuan lokal terhadap kekuasaan Majapahit. Tapi beda misalnya dengan semangat kalah mengalahkan, kuasa menguasai," katanya.

    Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid saat menjadi pembicara dalam diskusi Ngobrol @tempo di Museum Nasional, Jakarta, 22 Agustus 2019. Diskusi tersebut bertema Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya "dari Dharmasraya ada sejarah Indonesia yang patut diluruskan, yakni Ekspedisi Pamalayu". TEMPO/M Taufan Rengganis

    Maka, dalam momentum peluncuran Festival Pamalayu itu, Hilmar menegaskan perlu adanya kreasi untuk menarasikan ulang tentang sejarah. "Tentu ini ajakan, mungkin enggak diwujudkan adanya film tentang Pamalayu dan Dharmasraya?" tuturnya.

    Seluruh rangkaian Festival Pamalayu ini diadakan di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat yang akan berakhir pada 7 Januari 2020. Waktu akhir diadakannya festival itu bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Dharmasraya yang ke-16. Festival Pamalayu memiliki ragam acara, di antaranya lomba fotografi, menulis, lokakarya warisan kebudayaan, dan pesta rakyat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe