Selasa, 22 Agustus 2017

Danau Rawapening Ambarawa Masuk 15 Kawasan Prioritas Pemulihan  

Minggu, 06 Agustus 2017 | 08:12 WIB
Pemandangan perbukitan yang dilihat dari dalam gerbong kereta wisata antara Stasiun Ambarawa-Stasiun Tuntang, Semarang, Jateng, 28 Desember 2014. Selama musim liburan, PT KAI menjalankan kereta wisata dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tuntang melewati tepian Rawapening. TEMPO/Budi Purwanto

Pemandangan perbukitan yang dilihat dari dalam gerbong kereta wisata antara Stasiun Ambarawa-Stasiun Tuntang, Semarang, Jateng, 28 Desember 2014. Selama musim liburan, PT KAI menjalankan kereta wisata dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tuntang melewati tepian Rawapening. TEMPO/Budi Purwanto.

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan Danau Rawapening di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, masuk dalam 15 danau prioritas pemulihan.

"Permasalahan di Danau Rawapening, yakni eceng gondok dan sedimentasi," kata Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung KLHK Hilman Nugroho di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu, 5/8.

Hal tersebut diungkapkannya usai peluncuran iklan terbaru "Kuku Bima Energi", salah satu produk unggulan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul yang mengambil lokasi di Danau Rawapening.

Untuk permasalahan eceng gondok, kata dia, Sido Muncul telah menemukan solusi melalui penelitian untuk mengolahnya menjadi bahan bakar alternatif. "Tetapi jangan dihabiskan semua eceng gondoknya," kata dia.Menyusuri danau Rawapening dengan perahu motor. Antara/Noveradika

Saat ini, kondisi danau seluas 2.700 hektare yang dikenal dengan legenda "Baruklinthing" itu telah tertutupi 70 persen permukaannya dengan tanaman eceng gondok. Meski demikian, ia mengingatkan tanaman eceng gondok juga salah satu bagian dari ekosistem danau sehingga jika salah satunya dihilangkan bisa memutus mata rantai dalam ekosistem.


"Tinggalkan 20 persennya (eceng gondok, red.), jangan hilangkan semuanya. Sebab, jika eceng gondok yang menjadi salah satu mata rantai maka dalam ekosistem ada mata rantai yang terputus," katanya.

Persoalan lainnya, kata dia, sedimentasi yang penyelesaiannya harus berjalan bersama dari hulu dan hilir. Sebab akan percuma di hilir dikurangi jika kondisi di hulunya tidak dibenahi.

Daerah hulu sebagai tangkapan air harus aman. Hal itu bisa dilakukan dengan melakukan penanaman tanaman kayu, bukan dengan tanaman-tanaman kecil dan sayuran yang justru memperparah sedimentasi di hilir.

ANTARA

Lihat video Ini 5 Destinasi Wajib di Yogyakarta di bawah ini: 

 


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?