Muara Angke Diprioritaskan Jadi Daerah Wisata Pelabuhan

Rabu, 17 Mei 2017 | 07:13 WIB
Muara Angke Diprioritaskan Jadi Daerah Wisata Pelabuhan
Foto udara kawasan Pelabuhan Ikan Muara Angke, Jakarta, 17 Juli 2016. Ahok berencana akan membangun apartemen atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di area tersebut dan akan membongkar tempat pemanggangan ikan yang lama. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta -Panitia khusus penataan Pelabuhan Muara Angke berharap kawasan itu dapat menjadi menjadi kawasan wisata alternatif. Kemarin panitia khusus tersebut mengadakan rapat perdana dalam rangka koordinasi dan pendalaman rencana penataan pelabuhan.



Rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Ferrial Sofyan, membahas prioritas penataan kawasan pelabuhan mulai dari akses jalan, perencanaan kawasan pelabuhan serta perencanaan bisnis.



Ferrial memiliki ekspektasi tinggi terhadap penataan Pelabuhan Muara Angke. "Potensi Pulau Seribu begitu besar dengan jumlah pengunjung 4.000-10.000 saat hari libur," ujar dia.



Dikatakan, Muara Angke diharapkan dapat menjadi akses utama menuju Pulau Seribu serta menjadi kawasan wisata alternatif.



"Kita coba bandingkan dengan Pelabuhan di Probolinggo. Dengan lahan terbatas pelabuhan tersebut dapat berjalan. Target kita adalah pelabuhan dapat dikelola oleh pemda." ujar Ferrial.



Pelabuhan Muara Angke dengan luas kawasan 65 hektare tersebut akan menjadi pelabuhan pariwisata dan perikanan.



Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Capt. Subandi, mengatakan saat ini fokus penataan pelabuhan yang paling memungkinkan adalah membangun dua terminal untuk pariwisata dan perikanan.



"Saya sarankan kawasan Muara Angke sebaiknya dibuat 2 terminal. Baru kita cari untuk terminal barang."



Pansus penataan Pelabuhan Muara Angke menjadwalkan kunjungan ke Pelabuhan Muara Angke pada hari ini dan Ahad. Mereka juga akan mengunjungi Pelabuhan Probolinggo guna mengkaji lebih lanjut perencanaan yang sudah dicanangkan sebelumnya oleh SKPD.



BISNIS.COM



 



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan