Trekking Dusun Pancot Menguak Rahasia Aliran Grojogan Sewu

Sabtu, 07 Januari 2017 | 08:34 WIB
Trekking Dusun Pancot Menguak Rahasia Aliran Grojogan Sewu
Jalur trekking di Dujuh Pancot, Tawangmangu, Karangayar. Setelah menysuri area kebun sayur, perjalanan bisa diteruskan memasuki hutan pinus hingga sampai ke Grojokan Sewu. Foto diambil, Sabtu, 31 Desember 2016. TEMPO/Tulus Wijanarko

TEMPO.CO, Karanganyar -Dari manakah aliran Grojogan Sewu di Tawangmangu itu berasal? Air terjun kondang setinggai 81 meter itu sudah lama menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Saat memandang ke ujung atas air terjun seraya mendengar suaranya yang gemuruh, kadang terbersit pertanyaan itu: dari manakah muasal grujugan airnya itu?



Rasa penasaran itu terjawab saat saya bersama rombongan melakukan trekking di dukuh Pancot, Desa Blumbang, Tawangmangu, 31 Desember 2016 lalu. Di dukuh ini mengalir Kali Ngombang-ombang yang jika diikuti akan sampai ke “muara”, yakni Grojogan Sewu di arah bawah.



Perjalanan dimulai dari kawasan Taman Balekambang saat matahari belum sepenggalah. Udara segar sekali setelah sehari sebelumnya kawasan ini diterpa hujan deras. Beberapa tukang kuda segera mendekat menawarkan jasa. Tentu saja tidak diterima, karena kami memang hendak menggunakan kaki sendiri saat mendaki pebukitan menuju Dukuh Pancot.



Pendakian itu dimulai sekitar 100 meter dari titik keberangkatan. Kami berhadapan dengan jalan setapak yang telah dikeraskan dengan semen selebar sekitar 1 meter. Bagai tak ada pemanasan, otot kaki sudah harus menegang menyusuri jalanan terjal dengan kemiringan sekitar 30 derajat itu.



Tetapi jangan kuatir, tanjakan itu bak ucapan selamat datang saja. Karena selanjutnya medan menyajikan berbagai kemungkinan, ada turunan dan belokan-belokan tajam. Di pertengahan perjalanan akan bahkan brtemu sebuah kali yang menyempurnakan panorama.



Semak yang rapat dan pepohonan tinggi di kiri-kanan jalan lumayan meneduhkan lintasan. Pandangan mata pun terasa nyaman. Tak setiap hari kita menemukan nunsa hijau pepohonan dan semak yang demikian rimbun di kota besar, bukan?



Tetapi rupanya jalur ini juga menjadi salah satu rute wisata naik kuda bagi para pelancong. Beberapa kali kami berpapasan dengan kuda wisata dan pawangnya dari arah atas. Dan, berhati-hatilah melangkah, karena cukup banyak bekas kotoran hewan berkaki empat itu menciptakan ranjau-ranjau di sela trek.



Baca: 



Pendakian Rinjani Mulai Dibuka, Hanya sampai Plawangan



Pulau Rinca Membuat Fam Trip Singapura Takjub



Trekking Asyik Curug Bidadari-Gunung Pancar



 



Setelah sekitar 30 menit rombongan sampai di Dukuh Pancot. Panorama seketika berubah. Karena kini hamparan tanah yang luas itu terbagi menjadi petak-petak yang ditanami beragam sayuran. Vegetasi menyehatkan itu ditanam berselang-seling: cabai, tomat, sawi, loncang, rebung, dan lain-lain.



Jika anda kebetulan bertemu dengan pekebun, mereka akan senang sekali diajak ngobrol. “Iya, ini memang sudah saatnya dipetik,” kata salah seorang dari mereka yang kami temui tengah asyik memanen salah satu tanamannya.



Area kebun-kebun itu dibatasi oleh sebuah jalan setapak yang telah dibeton selebar 1 meter. Lintasan inilah yang juga memisahkan ladang itu dengan Kali Ngombang-ombang di sebelah kiri. Disarankan untuk tetap melangkah di atas lintasan beton. Sebab tebing sungai di sisi kiri itu cukup curam dan dalam, sedang batas jurang tersamarkan semak. Jika berjalan terlalu ke pinggir dan kaki salah melangkah, bukan tak mungkin bisa jatuh bebas ke sungi yang jauh di bawah.



Tulus Wijanarko



Tiba-tiba Berhadapan Dengan Alam Liar



Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan