Rabu, 23 Agustus 2017

Tradisi Lebaran Ketupat di Pantai Sanur Berlangsung Meriah  

Rabu, 13 Juli 2016 | 18:46 WIB
Seorang warga Kampung Islam Wanasari menyiapkan ketupat dan hidangan lainnya saat Lebaran Ketupat di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, 13 Juli 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

Seorang warga Kampung Islam Wanasari menyiapkan ketupat dan hidangan lainnya saat Lebaran Ketupat di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, 13 Juli 2016. TEMPO/Johannes P. Christo.

TEMPO.CODenpasar - Ribuan warga Kampung Jawa, Denpasar memadati Pantai Sanur pada Rabu, 13 Juli 2016 sore, untuk merayakan Lebaran Ketupat. Kampung Jawa merupakan sebutan untuk Dusun Wanasari, Kelurahan Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Bali. Mayoritas penduduknya adalah umat Islam yang berasal dari etnis Madura.

Warga Kampung Jawa ke Pantai Sanur membawa tikar dan lauk-pauk untuk makan bersama. Aktivitas mereka dimulai sejak pukul 15.00 Wita sampai 18.00 Wita. Sejak satu jam sebelumnya, area parkir di Pantai Sanur penuh hingga tidak cukup menampung kendaraan roda empat (mobil). 

Nur Sri Dewi, warga RT 2 Kampung Jawa, mengatakan ia bersama keluarga besarnya setiap tahun rutin mengunjungi Pantai Sanur saat Lebaran Ketupat. "Bagi kami ini sudah seperti tradisi setiap tahun. Saya ke sini bersama keluarga besar 20 orang, menyewa angkot," katanya di Pantai Sanur, Rabu.

Nur, 53 tahun, membawa ketupat, opor, ayam goreng, plecing kangkung, dan rujak. "Kami tidak bawa nasi untuk makan lauk-pauk pakai ketupat supaya lebih memaknai suasana Lebaran Ketupat," ujarnya.

Ia menuturkan, hal yang paling menyenangkan saat merayakan Lebaran Ketupat adalah menikmati kebersamaan bersama keluarga besar. "Cucu saya ada tiga, semuanya ikut. Mereka senang bermain air dan mandi di pantai," ucapnya.

Adapun Kholiq (47), warga RT 8 Kampung Jawa, mengatakan setiap tahun ia selalu meluangkan waktu merayakan Lebaran Ketupat bersama keluarga besar di Pantai Sanur. "Kalau tidak ke sini (Pantai Sanur) saat Lebaran Ketupat kok rasanya aneh, ada yang kurang," katanya.

Kholiq yang merasa kurang sehat sempat tidak ingin ikut. "Hari ini saya agak enggak enak badan, pusing, tidak mau ikut, tapi akhirnya saya menyusul sendirian naik sepeda motor. Kumpul bersama keluarga malah saya merasa sudah sehat," ujarnya sambil tertawa. "Saya bersama keluarga besar jumlahnya 40 orang ke sini."

Bapak tiga anak itu menjelaskan, ia bersama keluarga besarnya membawa aneka lauk-pauk, yaitu opor ayam, urap, ketupat, dan rendang. Persiapan bahan-bahan makanan, kata dia, sudah dilakukan sejak kemarin. "Kemarin kami potong ayam. Semua makanan sudah matang dari pagi tadi. Masing-masing keluarga bawa makanan, jadi terkumpul banyak," katanya.

Kholiq menuturkan, dia memaknai berkumpul makan bersama keluarga besar di Pantai Sanur saat Lebaran Ketupat bagaikan tradisi turun-temurun bagi warga Kampung Jawa. "Dahulu waktu saya kecil orang tua selalu ajak saya, sekarang saya ajak anak-anak saya. Kalau Lebaran Ketupat begini angkot-angkot sudah masuk di Kampung Jawa," tuturnya.

Ketut Chika, salah satu penyewa balon pelampung di Pantai Sanur, mengatakan pada saat Lebaran Ketupat, penghasilannya meningkat sampai 100 persen dibanding saat libur akhir pekan. "Saya menyewakan balon pelampung Rp 10 ribu per balon sepuasnya. Penghasilan hari ini bisa lebih dari Rp 350 ribu," katanya.

BRAM SETIAWAN


Grafis

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Ini jalur alternatif menghadapi rencana Dinas Perhubungan DKI Jakarta memperluas larangan sepeda motor di jalan Sudirman, Imam Bonjol, dan Rasuna Said.