Rabu, 16 Agustus 2017

Desa Wisata di Sleman Sulit Dijual

Jum'at, 07 Juni 2013 | 05:01 WIB
Objek Wisata Kali Urang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 4 Mei 2012. TEMPO/Subekti. 20120504.

Objek Wisata Kali Urang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 4 Mei 2012. TEMPO/Subekti. 20120504..

TEMPO.CO, Sleman--Managemen perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta kesulitan memasarkan desa-desa wisata di Kabupaten Sleman. Sebab, banyak desa yang sudah terdaftar sebagai desa wisata tetapi belum mempunyai keunggulan, keunikan dan kekhasan tetapi sudah dijual ke wisatawan.

Akibatnya, desa-desa wisata dinilai hanya datar-datar saja. Maka daya jualnya pun sangat kurang. Di Sleman ada sebanyak 38 desa yang sudah terdaftar sebagai desa wisata. Namun baru 12 di antaranya yang layak dikunjungi.

"Desa wisata perlu diseleksi lagi supaa masuk kategori desa yang layak kunjung wisatawan," kata Deddy Pranowo Eryono, Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (6/6).

Usulannya, di setiap kecamatan hanya ada dua desa wisata. Sebab, keunikan budaya daerah yang berdekatan kebanyakan mirip-mirip saja. Dengan hanya sedkit desa yang dicanangkan sebagai desa wisata maka pengelolaannya pun lebih fokus.

Ia juga menyoroti lokasi wisata di Kaliurang yang minim hiburan di malam hari. Seperi kafe maupun hiburan lainnya tidak ada di malam hari. Akibatnya, tamu-tamu hotel maupun penginapan tidak banyak yang menambah waktu menginap karena minim hiburan di malam hari. "Itu agar suasana Kaliurang bisa 'hidup' di malam hari," kata dia.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi menyatakan, desa-desa wisata di Sleman pada 2012 dan 2013 mendapatkan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata. Dana pada 2012 untuk 16 desa wisata. Sedangkan pada 2013 dana itu untuk 13 desa wisata, 3 desa mendapatkan Rp 75 juta dan 10 desa masing masing mendapar dana Rp 100 juta.

"Dana itu untuk meningkatkan mutu desa wisata, pelatihan dan peningkatan sumber daya manusia dan lain-lain," kata dia.

Kini, sudah ada 12 desa wisata yang bisa mandiri. Sebelumnya hanya 10 desa yang mandiri. Yaitu mandiri dalam pemasarannya, mandiri dalam managemennya, mandiri dalam pergelaran event-event budayanya dan lain-lain. "Yang lainnya masih dalam tahap tumbuh-kembang," ucap dia.


Tahun ini ia menargetkan sebanyak 15 desa sudah menjadi desa wisata mandiri. Dengan pendampingan-pendampingan kepariwisataan semakin banyak desa yang layak kunjung wisatawan.

Beberapa desa wisata yang sudah mandiri antara lain Desa Petingsari (Cangkringan), Grogol (Seyegan), Tanjung, Brayut (Ngaglik), Pulesari (Turi) dan lain-lain. Desa wisata harus mempunyai keunikan-keunikan yang tidak ada di desa lainnya.

Ada tiga syarat utuk menjadikan desa wisata. Ytaitu mempunyai lembaga, keunikan atraksi budaya unggulan dan sudah dikunjungi wisatawan. Untuk keunikan atraksi ada unsur alam, budaya, ekonomi produktif dan heritage.  "Pihak desa tidak boleh gembar-gembor menjual desa sebagai desa wisata kalau belum mempunyai syarat-syarat itu," kata dia.

MUH SYAIFULLAH

Terhangat:
Penembakan Tito Kei
| Tarif Baru KRL | Kisruh Kartu Jakarta Sehat | PKS Membangkang | Ahmad Fathanah


Baca juga:
Gagal Bungkam Mulut Bambang, Fahri Hamzah WO

Tito Kei Ditembak, Polisi Redam John Kei

Cara Van Persie Hilangkan Jenuh di Shangri La

Kasus Video Mesum, Wakil Bupati Bogor Menghindar


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?