Ikuti Perayaan Tradisi Seba Warga Baduy

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan menuju Pendopo Gubernuran saat menjelang acara Seba di Serang, Banten, 14 Mei 2016. Mereka berjalan tanpa mengenalan alas kaki sejauh 115 kilometer. TEMPO/Amston Probel

    Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan menuju Pendopo Gubernuran saat menjelang acara Seba di Serang, Banten, 14 Mei 2016. Mereka berjalan tanpa mengenalan alas kaki sejauh 115 kilometer. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO,  Lebak - Warga Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mulai berdatangan ke Kota Rangkasbitung untuk merayakan tradisi Seba di Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak, Jumat, 28 April 2017 petang.

    "Kami lebih awal tiba di Rangkasbitung karena bisa berjalan-jalan sambil bermain," kata Santa (45) warga Baduy Penamping yang tinggal di Kampung Cipiit, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

    Tradisi Seba itu merupakan upacara persembahan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas dilimpahkan rezeki hasil tanaman pangan selama setahun.

    Santa mengatakan, dirinya mengikuti Seba ingin menjalin kebersamaan dan silaturahmi dengan pemerintah daerah.

    Ribuan warga Baduy mulai tiba di Rangkasbitung pukul 15.00 WIB menggunakan truk, sekalipun banyak juga yang berjalan kaki menempuh jarak 40 kilometer dan tiba di Rangkasbitung pukul 16.00 WIB.

    Mereka mengungkapan syukur tersebut diwujudkan dengan menyerahkan hasil bumi, seperti padi, pisang, gula, petai, dan buah-buahan kepada Bupati Lebak, Iti Octavia, sebagai wakil wali negara atau pejabat negara.

    "Semua produk hasil bumi itu diserahkan kepada Bupati Lebak, Iti Octavia, juga pejabat lainnya untuk merayakan peringatan Seba," katanya.

    Saija, pemuka adat Baduy, yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, mengatakan bahwa peringatan upacara adat tersebut dilaksanakan sejak turun-temurun sebagai bukti kesetiaan terhadap kepala pemerintah.

    Pelaksanaan adat ini dilakukan setelah menjalankan tradisi Kawalu, yakni puasa selama tiga bulan dan wilayah Baduy tertutup bagi warga luar.

    Peringatan Seba selain silaturahmi dengan pejabat pemerintah juga memberikan hasil pertanian sekaligus menyampaikan berbagai pesan keluhuran atau kearifan lokal tradisi Baduy.

    "Juga menyampaikan pesan kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten sebagai kepala pemerintah daerah," katanya.

    Pelaksanaan Seba tahun 2017 dinamakan "Seba Gede" karena dihadiri ribuan orang, dan berbeda dengan "Seba Leutik" yang hanya dihadiri ratusan orang.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.