Jumat, 23 Februari 2018

Trekking Dusun Pancot Menguak Rahasia Aliran Grojogan Sewu

Oleh :

Tempo.co

Sabtu, 7 Januari 2017 08:34 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Trekking Dusun Pancot Menguak Rahasia Aliran Grojogan Sewu

    Jalur trekking Dusun Pancot ke kawasan Grojokan Sewu di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Tempo/Tulus Wijanarko

    TEMPO.CO, Karanganyar -Dari manakah aliran Grojogan Sewu di Tawangmangu itu berasal? Air terjun kondang setinggai 81 meter itu sudah lama menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Saat memandang ke ujung atas air terjun seraya mendengar suaranya yang gemuruh, kadang terbersit pertanyaan itu: dari manakah muasal grujugan airnya itu?

    Rasa penasaran itu terjawab saat saya bersama rombongan melakukan trekking di dukuh Pancot, Desa Blumbang, Tawangmangu, 31 Desember 2016 lalu. Di dukuh ini mengalir Kali Ngombang-ombang yang jika diikuti akan sampai ke “muara”, yakni Grojogan Sewu di arah bawah.

    Perjalanan dimulai dari kawasan Taman Balekambang saat matahari belum sepenggalah. Udara segar sekali setelah sehari sebelumnya kawasan ini diterpa hujan deras. Beberapa tukang kuda segera mendekat menawarkan jasa. Tentu saja tidak diterima, karena kami memang hendak menggunakan kaki sendiri saat mendaki pebukitan menuju Dukuh Pancot. Jalur trekking di kawasan wisata Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

    Pendakian itu dimulai sekitar 100 meter dari titik keberangkatan. Kami berhadapan dengan jalan setapak yang telah dikeraskan dengan semen selebar sekitar 1 meter. Bagai tak ada pemanasan, otot kaki sudah harus menegang menyusuri jalanan terjal dengan kemiringan sekitar 30 derajat itu.

    Tetapi jangan kuatir, tanjakan itu bak ucapan selamat datang saja. Karena selanjutnya medan menyajikan berbagai kemungkinan, ada turunan dan belokan-belokan tajam. Di pertengahan perjalanan akan bahkan brtemu sebuah kali yang menyempurnakan panorama.

    Semak yang rapat dan pepohonan tinggi di kiri-kanan jalan lumayan meneduhkan lintasan. Pandangan mata pun terasa nyaman. Tak setiap hari kita menemukan nunsa hijau pepohonan dan semak yang demikian rimbun di kota besar, bukan?

    Tetapi rupanya jalur ini juga menjadi salah satu rute wisata naik kuda bagi para pelancong. Beberapa kali kami berpapasan dengan kuda wisata dan pawangnya dari arah atas. Dan, berhati-hatilah melangkah, karena cukup banyak bekas kotoran hewan berkaki empat itu menciptakan ranjau-ranjau di sela trek.

    Baca juga: 

    Pendakian Rinjani Mulai Dibuka, Hanya sampai Plawangan

    Pulau Rinca Membuat Fam Trip Singapura

    TakjubTrekking Asyik Curug Bidadari-Gunung Pancar

    Setelah sekitar 30 menit rombongan sampai di Dukuh Pancot. Panorama seketika berubah. Karena kini hamparan tanah yang luas itu terbagi menjadi petak-petak yang ditanami beragam sayuran. Vegetasi menyehatkan itu ditanam berselang-seling: cabai, tomat, sawi, loncang, rebung, dan lain-lain.

    Jika anda kebetulan bertemu dengan pekebun, mereka akan senang sekali diajak ngobrol. “Iya, ini memang sudah saatnya dipetik,” kata salah seorang dari mereka yang kami temui tengah asyik memanen salah satu tanamannya.Petanu sayur di Dusun Pancot, Lereng Gunung Lawu, Kecamatan Karanganyar. Tempo/Tulus Wijanarko

    Area kebun-kebun itu dibatasi oleh sebuah jalan setapak yang telah dibeton selebar 1 meter. Lintasan inilah yang juga memisahkan ladang itu dengan Kali Ngombang-ombang di sebelah kiri. Disarankan untuk tetap melangkah di atas lintasan beton. Sebab tebing sungai di sisi kiri itu cukup curam dan dalam, sedang batas jurang tersamarkan semak. Jika berjalan terlalu ke pinggir dan kaki salah melangkah, bukan tak mungkin bisa jatuh bebas ke sungi yang jauh di bawah.

    Saya bahkan tak bisa melihat permukaan sungai karena tertutup semak dan dahan pohon. Hanya terdengar gericik airnya yang mengalir menuju sang legendaris: Grojogan Sewu. Tidak satu atau dua kali saya mengingatkan anggota rombongan yang masih anak-anak untuk menjauhi tebing.  

    Rute ini memang unik. Di kanan tersaji pemandangan menawan yang diciptakan oleh hamparan perkebunan. Di kejauhan ada pebukitan yang membatasi pandangan. Di sisi kiri adalah tebing curam menuju kali yang saya cari, namun menyimpan bahaya jika tak hati-hati bertindak.

    Namun ini juga rute yang disukai rombongan karena medannya datar. Juga bebas ranjau kotoran kuda. Anda akan leluasa menghirup udara bersih tanpa diinterupsi bau tak sedap seperti di lintasan sebelumnya. Tentu saja ini juga lokasi yang cocok untuk berfoto ria.

    Di ujung area perkebunan rute yang lebih liar telah menunggu. Jalan yang diperkeras sudah habis. Dan trek tak lagi datar. Kini berganti menjadi turunan-turunan curam, dengan jalan setapak dari tanah. Hutan pinus pun menggantikan suasana sekitar. “Bagian ini sudah lama tidak dilintasi orang, sehingga jalurnya sudah tertutup semak-semak,” kata warga setempat yang memandu kami.

    Mempertimbangkan banyak anak-anak (salah satunya masih sekolah di TK) yang ikut trekking, dia memberi pilihan apakah akan meneruskan perjalanan atau cukup sampai di sini. Suara rombongan rupanya terpecah. Maka diambil jalan tengah. Pak pemandu dan salah seorang dari kami, Sunu W, akan menjajagi medan. Mereka akan menuruni lereng ini beberapa lama, dan nanti kembali untuk menyampaikan hasilnya.

    Saya membatin, medan ini memang lebih mirip jalur pendakian Gunung Lawu dari gerbang Cemoro Kandang. Lintasannya masih alami, dan jika kecuramannya yang lebih dari 45 derajat itu ajeg sampai ke Grojogan Sewu, memang dibutuhkah tenaga ekstra.

    Setelah kami menunggu sekitar 40 menit, akhirnya “Tim Perintis” itu muncul kembali. Kesimpulan mereka tak jauh dari perkiraan saya. Medan agak berat dilalui anak-anak, meskipun kalau dengan persiapan lebih baik hal itu tidak mustahil. Untuk mencapai finish pun masih agak jauh. “Setelah berjalan beberapa lama, saya belum juga mendengar gemuruh Grojogan Sewu,” kata Sunu W.

    Tampaknya, ini memang akhir dari penjelajahan—untuk hari itu. Saya selalu mengingat hikmah yang kupetik dari pergaulan dengan alam terbuka selama ini: jangan pernah meremehkan alam, seenteng apapun kelihatannya ia dijelajahi. Cara terbaik menyusuri rahasianya, adalah dengan persiapan terbaik. Sesederhana itu.

    Tadi kami memang hanya melakukan persiapan seadanya, tak menduga akan berhadapan dengan medan yang jarang dijamah orang ini. Rute yang tersisa ini kami anggap saja sebagai undangan yang akan dipenuhi kapan-kapan. Alias, suatu saat nanti “hutang” perjalanan itu bisa dilunasi dengan persiapan yang lebih memadai.

    Toh, hari itu kami sudah cukup puas mereguk keindahan panorama yang dihamparkan Dusun Pancot nan permai ini. Itu adalah bonus akhir tahun yang sangat berharga.

    Salam lestari!

    Tulus Wijanarko (Karanganyar)

     


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Deretan Kasus Rizieq Shihab, 11 Tuntutan dalam 9 Bulan

    Kabar kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 membuat banyak pihak heboh karena sejak 2016, tercatat Rizieq sudah 11 kali dilaporkanke polisi.