Pembangunan Pariwisata, Indonesia Ranking ke-130

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wapres Jusuf Kalla (ketiga kanan) mendapat penjelasan dari Dirut PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M Mansoer (kedua kanan) mengenai rencana pengembangan kawasan wisata Mandalika saat peresmian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, 12 Desember 2015. ANTARA FOTO

    Wapres Jusuf Kalla (ketiga kanan) mendapat penjelasan dari Dirut PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M Mansoer (kedua kanan) mengenai rencana pengembangan kawasan wisata Mandalika saat peresmian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, 12 Desember 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Beijing - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan komitmen Indonesia dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, terutama aspek lingkungan, menempati posisi 130 dari 144 negara.

    "Itulah penilaian dunia. Sangat memalukan. Kita dinilai tidak peka terhadap lingkungan dalam pembangunan pariwisata yang berkelanjutan," kata Arief menjawab Antara seusai rangkaian kunjungan kerja ke Beijing, 19-20 Mei 2016.

    Dalam kunjungan kerja ke Beijing, Menteri Arief menghadiri Konferensi Pertama Dunia Pariwisata untuk Pembangunan, yang dihadiri 600 perwakilan pejabat dan pelaku industri pariwisata dari 107 negara.

    Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon, dalam sambutan singkat yang dibacakan, menyampaikan pariwisata merupakan industri yang melibatkan seluruh aspek sosial-ekonomi, pelestarian budaya, dan mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus jembatan untuk saling pengertian antarmasyarakat dunia.

    Terkait dengan komitmen Indonesia dalam mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan, Kementerian Pariwisata telah bekerja sama dengan Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).

    "Termasuk juga dengan Global Sustainable Tourism Council (GSTC), yang akan menerbitkan Sustainable Tourism Certificate (STC)," ungkap Menteri Arief.

    Kementerian Pariwisata juga sudah menetapkan tiga wilayah sebagai proyek percontohan pembangunan pariwisata berkelanjutan, yakni Pangandaran (Jawa Barat), Kulonprogo (Yogyakarta), dan Mandalika (Lombok).

    "Tim UNWTO telah datang langsung ketiga lokasi tersebut dan diharapkan pada tahun ini juga Indonesia telah memiliki sertifikat pembangunan pariwisata berkelanjutan berdasarkan kriteria atau standar GSTC. Kalau kita mau maju, ya standar kita juga harus standar global," katanya.

    Arief menambahkan, sertifikasi tersebut kemudian akan diberlakukan di sepuluh destinasi utama yang telah ditetapkan untuk secara bertahap diterapkan secara menyeluruh di seluruh destinasi wisata lain di Indonesia.

    "Sehingga Indonesia diharapkan dapat memperbaiki performa pembangunan pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan, ramah secara sosial, dan menyejahterakan masyarakat secara ekonomi," tuturnya.

    GSTC menetapkan empat kriteria pembangunan pariwisata berkelanjutan, yakni manajemen berkelanjutan, dampak sosial ekonomi, dampak budaya, dan dampak lingkungan, antara lain mencakup konsumsi sumber daya alam, polusi, konservasi keragaman hayati, dan lanskap.

    Industri pariwisata Indonesia berdasar data Kementerian Pariwisata memberikan kontribusi sebesar 9 persen pendapatan domestik bruto (PDB) pada 2014.

    Pada 2019, kontribusi pariwisata terhadap PDB ditargetkan mencapai 15 persen dengan nilai Rp 275 triliun, dengan kontribusi terhadap kesempatan kerja 13 juta orang.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.