Senin, 22 Oktober 2018

WISATA PANTAI: Legenda Naga Kepala Tujuh di Laut Flores

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyeberangan kapal dari Pulau Flores, Larantuka menuju Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur. TEMPO/Subekti

    Penyeberangan kapal dari Pulau Flores, Larantuka menuju Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Perjalanan menembus hutan dan mendaki tebing yang menguras keringat selama setengah jam itu terbayar lunas ketika kami tiba di pantai berpasir putih kecokelatan dengan batu besar berdinding tajam. Pantai Kateki, Tanjung Bunga, Flores Timur.

    Kami menyusuri bibir pantai lalu menjejakkan kaki pada halusnya pasir. Hanya ada keheningan karena industri wisata belum menjamah tempat ini. Matheus berdesis kepada kami. Kepalanya ditolehkan pada satu titik di cakrawala. “Di situlah sang naga berkepala tujuh tinggal,” kata Matheus Kasaluron pada awal Oktober lalu. Matheus adalah pria 26 tahun yang mengantar kami ke sana.

    Sang naga yang dimaksud Matheus adalah legenda dalam cerita rakyat di Tanjung Bunga. Tempat tinggalnya berupa gua panjang disebut Tanabela. Saban awal tahun, ketika angin muson barat tiba, naga keluar dari sarangnya. Dia memuntahkan rezeki untuk mereka yang mencari sumber penghidupan di laut. “Kami tinggal menyendokkan tangan ke air untuk meraup ikan,” ujarnya.

    Sang naga berkepala tujuh, naga kotom pito, menjadi mitos yang dituturkan dari mulut ke mulut dan melekat dalam tradisi setempat. Suku Lamaholot di Tanjung Bunga tak memiliki tradisi tulisan. Aneka cerita tentang leluhur dituturkan secara lisan dan diwariskan secara turun-temurun.

    Matheus menuturkan kepercayaan tertinggi mereka adalah Lera Wulan Tanah Ekanyang berarti Tuhan Matahari, Bulan, dan Bumi. Lera Wulan diyakini sebagai penguasa langit dan Tanah Ekan merupakan sosok yang berkuasa atas bumi. Lera Wulan Tanah Ekan merupakan orang tua yang menciptakan mereka. Karena itulah mereka memegang teguh prinsip Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan, yang berarti Tuhan mempunyai mata untuk melihat dan akan bertindak adil. 

    Matheus menuturkan semua yang ada di dunia juga bakal kembali kepada sang pencipta. Ketika ada kematian, mereka akan berdoa, "Lera Wulan Tanah Ekan guti na-en", atau Tuhan mengambil pulang milik-Nya.

    WAYAN AGUS PURNOMO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.