Minggu, 18 November 2018

Harum Tongseng Ayam Kampung Bantul Yogyakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tongseng ayam kampung, Bantul Yogyakarta. (TEMPO/Shinta Maharani)

    Tongseng ayam kampung, Bantul Yogyakarta. (TEMPO/Shinta Maharani)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Harum campuran rempah dalam kuah bersantan menusuk hidung. Wangi bawang merah, bawang putih, serai, dan daun salam tercium kuat. Bumbu ini bercampur dengan santan encer berwarna kuning pucat. Potongan daging ayam kampung tanpa tulang berteman irisan tomat segar dan cabai rawit mengisi kuah. Kubis mentah yang diiris tipis menjadi tambahan sajian sedap itu. (Baca: Belajar ke Lumbung Pangan Nol Pestisida)

    Kuliner ndeso ini adalah tongseng ayam kampung warung rumahan bernama Moro Seneng di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Warung ini berada di 50 meter sebelah utara kompleks kantor Pemerintah Kabupaten Bantul. Sebagian warung ini berdinding gedeg atau anyaman bambu. (Baca: Balik ke Beras Lokal, Sehat dan Berdaulat)

    Pemilik warung, Supartini, 50 tahun, meneruskan usaha almarhum ibunya, Mugirah. Tahun 1960-an, Mugirah membuka warung tongseng ayam kampung di Pasar Bantul. Waktu itu dia tak hanya menjual tongseng ayam kampung, melainkan juga gulai dan sego atau nasi kuah tempe. Mugirah meninggal pada 1987. Kemudian usaha tongseng ayam rumahan itu diteruskan anak-anaknya. "Warung kami semakin bertambah jumlahnya di Bantul," kata Supartini, Rabu, 7 Januari 2015. (Baca: Pelesir dan Belanja Sayur Organik di Yogyakarta)

    Menurut dia, selain di belakang kantor Pemerintah Kabupaten Bantul, warung yang sama juga berdiri di kawasan Pasar Bantul, Manding, Cepit, dan Imogiri. Warung tongseng yang berada di kawasan pasar tak pernah sepi pembeli. Ketika makan siang, misalnya, orang mengantre untuk menyantap masakan ini. Penjual, yang merupakan adik Supartini, bahkan harus menyiapkan kursi kayu panjang tambahan di emper warung.

    Tongseng ayam khas Bantul ini mempertahankan cita rasa bahan masakan, di antaranya ayam kampung dan bumbu rempah. Cara memasaknya pun masih tradisional, yakni menggunakan arang dan tungku. (Baca: Parangtritis Dipadati Pelancong Libur Tahun Baru)

    Selain melahap tongseng, pembeli juga bisa menikmati gulai, sate, dan nasi goreng di warung Moro Seneng. Ada pula tempe bacem dari kacang koro. Minumannya andalannya adalah teh panas legi kenthel alias manis kental menggunakan gula batu. Warga Yogyakarta biasa menyebutnya teh nasgithel.

    Supartini mengatakan memilih tongseng berbahan ayam kampung yang memiliki rasa gurih dan teksturnya tidak terlalu lembut seperti ayam potong. Selain itu, ayam kampung juga lebih sehat dimakan. Budi daya ayam ras pedaging selama ini menggunakan suntik vaksin dan berbagai macam vitamin supaya memiliki bobot maksimal. (Baca: Kuliner Sehat Berbahan Pangan Lokal 'Ndeso' )

    Pekerja warung tongseng, Wulan, mengatakan setiap hari warung itu memotong sepuluh ayam kampung yang dimasak bersama rempah. Harga satu porsi tongseng ayam bersama nasi Rp 10.000. Warung ini buka pada pukul 08.00-16.00. Warung ramai pengunjung pada Sabtu, Ahad, dan hari libur. "Per hari pendapatan kami rata-rata Rp 3 juta," katanya.

    SHINTA MAHARANI

    Baca berita lainnya:
    Menteri Jonan: Kenapa Saya Harus Tunduk pada Singapura?
    10 Kartun Charlie Hebdo yang Kontroversial

    Jonan: Dirjen Perhubungan Udara Bubarkan Saja

    PKL Beri Amplop Lurah Susan, Apa Reaksinya?  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.