Minggu, 18 November 2018

Berburu 'Berkah' Situ Cisanti dan Mitos Jodoh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan menikmati nuansa tenang nan indah yang disajikan di Situ Cisanti yang merupakan mata air Sungai Citarum di Gunung Wayang, Desa Tarumajaya, Kertasari, Bandung, Jawa Barat, 14 Desember 2014. TEMPO/Prima Mulia

    Wisatawan menikmati nuansa tenang nan indah yang disajikan di Situ Cisanti yang merupakan mata air Sungai Citarum di Gunung Wayang, Desa Tarumajaya, Kertasari, Bandung, Jawa Barat, 14 Desember 2014. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Dua orang ibu bersama tiga anaknya tampak membasuh mukanya dengan air jernih yang keluar dari mata air Pangsiraman Situ Cisanti, lalu mereka masuk ke sebuah bangunan mirip pos satpam yang di dalamnya terdapat makam. Pangsiraman Situ Cisanti  di  Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ahad, 14 Desember 2014 cukup ramai dikunjungi penziarah dan wisatawan.

    “Selalu ada peziarah yang datang ke sini, mereka memanjatkan doa di  makam ini, tapi mohon maaf saya tidak mengizinkan Anda memotret di area makam,” ujar Mang Atep, juru pelihara makam kepada saya.

    Entah mulai kapan kebiasaan warga berziarah di kawasan Arboretum Gunung Wayang Windu itu, namunwarga  meyakini mitos yang menyebutkan kawasan Cisanti merupakan tempat petilasan Sembah Dalem Dipati Ukur yang merupakan tokoh sejarah Sunda. Ia adalah Wedana para Bupati Priangan bawahan Mataram pada abad ke-17 yang ikut  memimpin sebuah pasukan besar untuk menyerang Belanda di Batavia (1628) atas perintah Mataram.

    Suasana mistis di wanawisata pegunungan Bandung Selatan itu terasa  dengan adanya makam Pangeran Ranggawulung Mayang Ciwe di dekat mata air Pangsiraman, Situs petilasan Dipati Ukur, dan Pangeran Jagatrasa Situ Cisanti merupakan danau buatan yang menampung air dari 7 mata air utama Sungai Citarum. Yakni mata air Pangsiraman, Cikolebere, Cikawadukan, Cikahuripan, Cisadana, Cihaniwung, dan Cisanti. Warga sekitar menyebut kawasan mata air ini dengan sebutan terhormat, yaitu mastaka Citarum atau kepala Citarum.

    Mang Atep bercerita, setiap mata air  konon memiliki kesaktian. Misalnya mata air Pangsiraman  menjadi tempat mandi bagi mereka yang ingin mencari jodoh, jabatan atau kekayaan.Air Cikahuripan untuk  mendapatkan ketenangan batin, air Cikawadukan untuk memperoleh kesaktian. Mitos ini masih tetap menjadi cerita di kalangan masyarakat Sunda. “Bahkan, masih ada sejumlah pejabat yang datang ke sini untuk  mandi di sejumlah mata air di Situ Cisanti,” kata Mang Atep yang enggan menyebut nama-nama pejabat itu.

    Situ Cisanti seluas  7 hektare itu dikelilingi  perkebunan Talun Santosa, puncak Gunung Wayang, Windu, dan Gunung Rakutak. Udaranya dingin dan mudah berkabut. Di pagi hari, ketika matahari menyinari bagian tengah danau dan meninggalkan garis cahaya keemasan di rerumputan pinggir danau. Kabut tipis dan gulungan awan hitam memayungi hutan di punggung dan puncak gunung.

    Wisatawan umumnya melakukan hiking mengelilingi pinggiran danau atau ke hutan-hutan di punggung bukit, berperahu keliling danau, makan bersama atau botram, atau sekadar kongko bersama teman-teman sambil melepas penat melihat kebun saya dan pohon kopi.

    Jarak menuju Situ Cisanti sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Bandung. Kondisi jalan menuju tempat wisata sebagian besar sudah mulus beraspal dan beton. Beberapa ruas jalan masih jelek namun jaraknya pendek saja karena pengerjaan yang belum selesai. Tiket masuk ke kawasan itu,  Rp 5.000 per orang dan parkir kendaraan Rp 2.500. Tidak ada rumah makan, hanya warung-warung kopi dan beberapa pedagang makanan pikulan di sekitar danau.

    Setelah dua jam berlalu, dua perempuan tadi dan tiga anaknya  yang tadi masuk ke area makam tampak keluar. “Kami sekeluarga rutin atang ke sini untuk  memanjatkan doa bagi para leluhur dan  memohon segala kebaikan untuk keluarga. Kalau anak-anak hanya untuk berwisata,” kata Rina, 40 tahun, warga Kabupaten Bandung.

    Kabut mulai turun gunung, meski jarum jam di arloji saya baru bergeser dari angka dua. Awan hitam memayungi Arboretum Gunung Wayang Windu. Itu pertanda saya  harus  segera turun gunung. Khawatir hujan yang akan membuat perjalanan pulang saya terganggu akibat lumpur dari kebun kentang dan sayuran.

    PRIMA MULIA| ENI S

    Terpopuler:
    Dihujat FPI Soal Natal, Jokowi Dibela Ketua NU
    Pilot Dimaki Dhani, Garuda: Baru Pertama Terjadi
    Soal Natal, FPI Anggap Presiden Jokowi Murtad 
    Ketua PBNU: Ucapan 'Selamat Natal' Tak Haram
    Ini Nama-Nama Penerima Aliran Dana Hambalang
    Jokowi Natalan di Tiga Kota Papua


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.