Senin, 22 Oktober 2018

Icip-icip Rujak Buah Pala ala Natsepa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah peserta dengan dandanan ala Suku Indian membuat rujak secara bersama-sama saat Festival Rujak Uleg, disepanjang jalan Kembang Jepun, Surabaya, Minggu (13/5). TEMPO/Fully Syafi

    Sejumlah peserta dengan dandanan ala Suku Indian membuat rujak secara bersama-sama saat Festival Rujak Uleg, disepanjang jalan Kembang Jepun, Surabaya, Minggu (13/5). TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.COAmbon - Di sepanjang tepian Pantai Natsepa di Ambon, berdiri belasan warung kecil dengan rangka kayu dan atap seng. Bangunan warung-warung itu persis sama satu dengan yang lain, lengkap dengan spanduk berlatar merah bertuliskan nama penjualnya yang semua perempuan. Inilah warung rujak buah ala Natsepa yang terkenal istimewa.

    Warung-warung ini tak cuma istimewa karena rujak buah yang dijual sedikit berbeda dengan umumnya rujak buah di daerah lain. Di Pulau Jawa, misalnya, orang-orang sudah akrab dengan rujak buah sebagai kudapan yang dijual oleh penjual-penjual kaki lima. Namun, di Ambon, rujak buah hanya dijual di tempat-tempat tertentu. Menurut Mama Lili Maatita yang sudah berjualan rujak buah di pinggir Pantai Natsepa selama 20 tahun, rujak buah hanya bisa ditemukan di tiga tempat. Selain di Natsepa, penjual rujak buah ada di daerah Benteng Amsterdam dan daerah Pantai Tapal Kuda.

    Bahan dasar dan bumbu yang digunakan dalam olahan rujak Natsepa sebenarnya tak jauh beda dengan rujak-rujak yang lain. Hanya, bumbu rujak Natsepa boleh dibilang berskala masif jika dibandingkan rujak biasa. “Kami memakai banyak sekali kacang tanah,” kata Mama Lili saat Tempo berkunjung ke warungnya, Sabtu pagi dua pekan lalu.

    Mama Lili menaruh sekitar dua genggam penuh kacang tanah goreng di atas cobek untuk membuat satu porsi bumbu rujak buah. Kacang ini diulek kasar bersama satu bongkah besar gula aren. Menurut Mama Lili, gula yang digunakan harus gula Makassar karena gula Ambon tak cukup baik dan mudah mencair. Bumbu yang ia tambahkan antara lain garam, cabai, dan terasi dari Namlea, salah satu wilayah penghasil terasi di Ambon.

    Lalu, ini dia yang membedakan rujak Natsepa dengan rujak lainnya. Mama Lili dan penjual rujak lainnya di tempat ini menggunakan buah pala yang diparut kasar lalu diulek bersama bumbu lainnya untuk memberi rasa asam. Selain buah pala, biasanya ditambahkan buah lobi-lobi atau tomi-tomi. Namun pagi itu Mama Lili sedang kehabisan buah lobi-lobi/tomi-tomi, jadi dia menambahkan irisan pangkal buah belimbing untuk menggantikannya.

    “Sebenarnya bisa juga pakai buah asam, tapi yang utuh dan tidak dicampur air,” kata Mama Lili. Ini adalah kunci lain yang membedakan rujak Ambon dengan rujak lainnya. Bumbu rujak tak dicampur air sehingga bumbunya lekat dan padat seperti pasta. Karena tak dicampur dengan air (di Jawa bumbu rujak buah biasanya diulek dengan air asam Jawa), bumbu ini bisa tahan lama. Karena itu, banyak pembeli yang hanya membeli bumbu sebagai oleh-oleh.

    Rasa bumbu ini memang istimewa, apalagi bagi para penyuka kacang tanah. Anda bakal sangat terpuaskan. Legit dengan gumpalan kacang yang sangat terasa dan tak bakal menetes mengotori meja meski dicomot banyak-banyak. Saking banyaknya kacang dan gula aren yang digunakan, bumbu rujak Natsepa tampak seolah lebih banyak ketimbang buah yang disajikan. Rujak ini disajikan di piring kecil berbahan plastik yang sering digunakan sebagai tatakan gelas. Bumbunya ditangkupkan di atas potongan buah.

    Mama Lili merampungkan racikan bumbunya lebih dulu, baru memotong buah-buahan dalam irisan yang kecil-kecil. Ada jenis nanas yang khas ditemui di Ambon. Buahnya berwarna putih dengan besar tiga kali nanas pada umumnya. Lalu, ada bengkoang, jambu air, timun, kedondong, belimbing, pepaya, dan mangga golek berukuran ekstra besar dari Pulau Seram yang rasanya manis. Nah, ini yang berbeda. Di antara irisan buah itu, Mama Lili memasukkan irisan ubi jalar muda. Ubi ini berukuran kecil-kecil, jenis yang ditanam di Ambon. Rasanya mirip bengkoang tapi lebih tawar dan kering.

    Rujak ini biasanya dimakan bersama es kelapa muda sebagai pendamping. Warung rujak di tepi Pantai Natsepa buka sejak pukul 10.00 waktu Indonesia timur hingga pukul 22.00. “Biasanya mulai ramai di atas jam 1 sampai sore saat pulang kerja. Semakin sore semakin ramai,” kata Mama Lili yang belajar meracik rujak dari ibunya yang juga penjual rujak.

    KARTIKA CANDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.