Senin, 22 Oktober 2018

Cerita Keraton Yogya Kecoh Belanda Lewat Kuliner

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah abdi dalem membawa gunungan Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta di halaman Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, 29 Juli 2014. Gunungan ini terdiri dari sejumlah hasil bumi. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Sejumlah abdi dalem membawa gunungan Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta di halaman Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, 29 Juli 2014. Gunungan ini terdiri dari sejumlah hasil bumi. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Alkisah di akhir 1930-an, Raja Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono VIII berencana melakukan suksesi kepemimpinan kepada putranya, Pangeran Dorojatun. Waktu itu, sang Raja mulai sakit-sakitan sehingga harus segera digantikan oleh penerusnya.

    Namun pada waktu itu, kekuasaan pemerintah kolonial Belanda masih kuat di Indonesia. Hamengku Buwono tak mau Pangeran Dorojatun yang kelak menggantikan dia diganggu dan dipengaruhi para penjajah. (Baca: Sultan HB IX, Makan 7 Sendok dari Selir-selirnya)

    Untuk mengalihkan perhatian orang Belanda dari proses peralihan kekuasaan di Keraton Kesultanan Yogyakarta itu, Hamengku Buwono VIII punya cara unik. Sang Raja memanjakan lidah orang Belanda dengan makanan enak serta menampilkan hiburan berupa tari-tarian setiap hari.

    "Dengan begitu, mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi di lingkungan keraton," kata Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat, cucu dari almarhum Sultan Hamengku Buwono VIII, saat ditemui di kantornya, Tepas Dwarapuro, di kompleks Keraton Yogyakarta, Kamis, 6 November 2014. (Baca: Nasi Blawong, Makanan Sakral Sultan Yogyakarta)

    Jatiningrat atau sering disapa Romo Tirun itu, ketika itu orang pemerintahan kolonial Belanda sering berkunjung ke keraton. "Orang Belanda sering datang pagi-pagi untuk menyaksikan latihan para penari kerajaan di emper Bangsal Kencana, di sana keraton menyajikan aneka hidangan."

    Makanan yang disajikan untuk menjamu para tamu itu tidak hanya khas keraton, melainkan juga makanan khas Eropa yang kental dengan mentega, keju, dan susu. "Tapi resep Eropa itu diolah dengan cara Jawa," kata Tirun. "Karena itulah pada zaman Hamengku Buwono VIII, banyak resep baru keraton yang lahir."

    Sultan Hamengku Buwono VIII pun, ujar Tirun, merupakan penggila kuliner. "Beliau sangat gemar makan, dan menyukai makanan Eropa seperti keju, mentega, kentang, makanya beliau sakit gula."

    Siasat kuliner itu berhasil. Orang Belanda yang dijamu dengan olahan makanan khas keraton tidak memperhatikan bahwa Hamengku Buwono VIII tengah sakit keras. Pada tahun 1939, raja kedelapan Yogyakarta itu mangkat. Pangeran Dorojatun pun naik takhta dengan lancar dan diangkat menjadi Hamengku Buwono IX.

    Topik: #KULINER

    TIM TEMPO


    Berita terkait:
    Kelas-kelas Kuliner di Solo
    Jakarta Ibu Kota Negara, Medan Ibu Kota Kuliner
    Di Solo, Sekat Sosial Hilang Lewat Perut
    Makanan Indonesia adalah...?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.