Makan Dilarang Jaim

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota keluarga Palestina membentuk lingkarang saat makan bersama di ruang sekolah PBB di Gaza (3/9). AP/Khalil Hamra

    Sejumlah anggota keluarga Palestina membentuk lingkarang saat makan bersama di ruang sekolah PBB di Gaza (3/9). AP/Khalil Hamra

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha asal Solo, Jawa Tengah, punya ungkapan menarik ihwal kuliner. "Tidak ada kolesterol di meja makan. Yang ada hanya makanan enak. Kolesterol hanya ada di laboratorium."

    Abdullah Suwarno, pengusaha lokal yang berasal dari Laweyan, membenarkan hal itu. Ihwal perut, kata Suwarno, para pengusaha memang tak pernah pelit dan berpikir panjang.

    Mereka memakan segalanya, tak peduli makanan tersebut mengandung kolesterol tinggi, seperti nasi liwet, thengkleng, sate jeroan, keripik paru, atau ceker ayam. "Wajar jika banyak yang mati muda," kata Suwarno. (Baca: Makanan Indonesia adalah...?)

    Kebiasaan makan yang tak menjaga image alias jaim ini disebut Suwarno sebagai kebiasaan turun-temurun. Saat masih kecil, ia kerap menyaksikan para pengusaha batik di Laweyan menyantap banyak makanan dalam sehari.

    Pada sore hari, misalnya, para pengusaha batik menunggu pedagang sate kambing keliling. Sate ini adalah makanan pengisi perut sebelum bersantap malam.

    Uniknya, sembari menunggu pedatang sate melintas, para pengusaha itu juga menyantap thengkleng. "Thengkleng menjadi pengganjal perut, biasa dimakan tanpa nasi," kata Suwarno lagi, mengingat kenangan masa kecilnya.

    Kisah kebiasaan makan warga Solo ini bisa disimak dalam edisi kuliner majalah Tempo yang terbit pada Senin, 1 Desember 2014.

    Topik: #EdsusKuliner

    TIM TEMPO


    Berita terkait:
    Edisi Khusus Kuliner: Kisah Rasa, Cerita Bangsa
    Kopi Gratis di Festival 10 Ribu Cangkir Kopi
    Jejak Genetik Kopi Kalosi



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.