Mengayuh Pedal di Tepi Swan River (Bagian 2)  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pabrik bir Swan Brewery dan Bell Tower. Tempo/Gilang Rahadian

    Pabrik bir Swan Brewery dan Bell Tower. Tempo/Gilang Rahadian

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelajahi Kota Perth dengan sepeda patut dicoba sebagai salah satu pilihan wisata. Kota yang terletak di Australia Barat ini memang ramah untuk pesepeda dan pejalan kaki. (Baca : Mengayuh Pedal di Tepi Swan River (Bagian 1)

    Salah satu jalur favorit bagi pesepeda adalah pelipiran Swan River, yang merupakan urat nadi Kota Perth. Swan River memiliki jalur sepeda dengan panjang sekitar 50 kilometer di tepiannya. Mengular dari sisi barat, utara, dan timur, jalur sepeda itu melintasi mulut Sungai Canning hingga ke selatan menuju kota tua Freemantle. 

    Setelah mengunjungi Matilda Bay Reserve dan Swan Brewery, sampailah saya ke lokasi berikutnya:

    3. Bell Tower
    Memasuki City, saya disambut dengan Bell Tower. Terkenal sebagai maskot utama Kota Perth, menara setinggi 82,5 meter ini menjadi rumah bagi 12 belas lonceng bersejarah dari Inggris.

    Lonceng akan berbunyi setiap hari pada pukul 12.00-13.00. Kawasan Bell Tower yang dinamakan Barrack Square terdiri atas taman dan plaza yang dilengkapi kafe dengan pemandangan sungai, toko cendera mata, juga dermaga tempat perahu wisata mengantar turis menyusuri Swan River hingga Freemantle. Di sini pula lokasi salah satu terminal transit bus gratisan yang beroperasi di pusat Kota Perth, atau yang biasa disebut CAT (Central Area Transit System).

    Saya memarkir sepeda untuk menarik napas, duduk di kursi taman sembari melepas pandangan ke arah kota. Deretan gedung di sepanjang kawasan distrik bisnis terasa dekat. Yang paling mencolok tentunya gedung Central Park, 108 St Georges Terrace, dan menara kembar Brookfield Place, karena ketiganya adalah pencakar langit tertinggi di Perth.

    4. Barrack Street
    Dari Bell Tower sepeda melaju ke Barrack Street, memasuki jantung kota tua Perth. Kali ini saya berpisah sejenak dengan Swan River untuk mencari makan siang di sekitar kawasan bisnis. Menurut Google Map, restoran cepat saji terdekat ada di Hay Street East. Artinya, hanya perlu menggowes satu blok dari Bell Tower saya bisa mendapatkan penganan burger dan kentang goreng. Betul saja, tak lebih dari 15 menit sepeda sudah terparkir di depan restoran itu.

    Sambil mengisi perut, saya menikmati arsitektur gedung Town Hall yang berada tepat di seberang jalan. Dinding bata merah dengan hiasan pot bunga warna-warni membuat gedung itu tampak mencolok.

    Bangunan bergaya Victorian Gothic itu sudah berdiri di sudut Hay Street sejak tahun 1870. Di Hay Street terdapat deretan gedung lawas lainnya, terutama di sekitar arcade. Yang paling terkenal dari kawasan ini adalah London Court, sebuah gang sepanjang 300 meter yang dijejali toko-toko tua berarsitektur Gothic dan Tudor khas Britania. Eloknya bangunan-bangunan tua di sepanjang Hay Street bisa bersanding serasi dengan gedung-gedung modern. (Baca : Mengayuh Pedal di Tepi Swan River (Bagian 3)



    GILANG RAHADIAN

    Berita Lainnya :
    9 Kilometer Menjelajah Lereng Gunung Merapi
    Jepang Bebaskan Visa untuk Wisatawan Indonesia
    Presiden Terpilih Agar Prioritaskan Industri MICE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?