Wayang Buddha, Bukan Wayang Biasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Zabur Karuru

    ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO , Solo: Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo memamerkan sejumlah wayang yang berbeda dengan wayang biasa. Mereka menyebutnya sebagai Wayang Buddha. Wayang itu merupakan hasil kolaborasi para seniman di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah sekitar 40 tahun silam.

    Wayang Buddha yang dipamerkan itu merupakan karya tiga seniman yang berbeda. Mereka adalah Hajar Satoto, Bambang Suwarno dan Bibit Jrabang Waluyo Wibowo. Masing-masing mewakili perkembangan dan eksplorasi Wayang Buddha.

    Wayang berukuran besar menyambut pengunjung di bagian terdepan ruang pamer tersebut. Wayangnya berbentuk lebar dan menggambarkan karakter empat tokoh sekaligus. Benda yang terbuat dari kulit itu merupakan karya Hajar Satoto yang saat ini tersimpan di Museum Ronggowarsito.

    Karya tersebut mewakili masa awal berkembangnya Wayang Buddha. Bentuk wayang tersebut mirip dengan wayang asal Thailand, Wayang Nang. Wayang itu dilengkapi dua tongkat sebagai pegangan bagi dalang yang memainkan. Sedangkan di bagian dalam banyak diisi dengan wayang yang berukuran lebih kecil. Tiap wayang menggambarkan karakter satu tokoh dalam cerita Sutasoma. Wayang-wayang itu hanya dilengkapi dengan satu tongkat sebagai pegangan bagi dalangnya. Di sekitar wayang itu terdapat foto-foto pertunjukan. Karya yang dipamerkan itu memang pernah dipentaskan secara spektakuler melalui kolaborasi sejumlah seniman.

    Bentuk Wayang Buddha pertama kali lahir melalui tangan mendiang Hajar Satoto empat puluh tahun silam. Saat itu, Hajar Satoto membuatnya dari seng, sehingga sempat dinamakan Wayang Seng. Dia menawarkan karyanya itu kepada Suprapto Suryodarmo untuk dipentaskan.

    Pementasan Wayang Seng di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah Sasana Mulya itu menarik perhatian. Suprapto meramu pertunjukannya sebagai kolaborasi seni pedalangan, musik, karawitan hingga seni rupa. Salah satunya adalah panitia peringatan Waisak yang meminta mereka untuk pentas di Candi Mendut.

    Pertunjukan pada Hari Waisak di Candi Mendut itulah yang akhirnya melahirkan sebutan Wayang Buddha. "Penggunaan seng diganti dengan kulit," kata Supraprto Suryodarmo. Alasannya, wayang berbahan seng cukup berat sehingga sulit untuk dimainkan. Sebenarnya, penggunaan bahan seng memiliki kelebihan. "Saat lembaran seng digerakkan selalu memunculkan suara-suara aneh," katanya melanjutkan.

    Wayang karya Hajar Satoto itu kemudian dipentaskan juga di Pekan Penata Tari Muda di Taman Ismail Marzuki pada 1978. Pementasan tersebut mendapat sambutan yang sangat besar dari para penonton. Wayang Buddha masih sering dipentaskan hingga sekitar 1982. Pentunjukan wayang itu mulai berhenti karena Suprapto mulai sering pergi ke Eropa. Baru kemudian 2006 Wayang Buddha kembali dipentaskan. Pementasan saat itu menggunakan wayang yang dibuat oleh Bambang Suwarno.

    Karya Wayang Buddho kembali dipentaskan lagi di Borobudur Internasinal Festival 2013 lalu. Pementasan tersebut dilakukan oleh generasi baru tanpa keterlibatan para perintis Wayang Budhha. Pertunjukkan tersebut menggunakan wayang yang dibuat oleh Bibit Jrabang Waluyo Wibowo. (baca: Sensasi Lima Dalang Wayang Golek Pesisiran)

    AHMAD RAFIQ

    Baca berita lainnya:
    Jelajahi Waktu di Museum Tengah Kebun
    Mengulik Lima Kisah Klasik di Relief Candi Jago
    Sensasi Lima Dalang Wayang Golek Pesisiran


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?