Selasa, 20 Februari 2018

Solo Kenalkan Lagi Dolanan Anak

Oleh :

Tempo.co

Minggu, 19 Mei 2013 05:09 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Solo Kenalkan Lagi Dolanan Anak

    Anak-anak dari sanggar Meta Budaya tampil dalam Festival Dolanan Bocah di Plaza Taman Sriwedari, Solo, Minggu (20/5). Festival yang menampilkan nyanyian, tarian, dan permainan tradisional anak-anak itu berlangsung 18-20 Mei. Tempo/ Andry Prasetyo

    TEMPO.CO, Surakarta-- Lagu dolanan (permainan) anak itu meluncur dari bibir anak-anak di atas panggung yang berada di Taman Sriwedari, Solo, Sabtu sore 18 Maret 2013. Mereka tengah mengikuti Festival Dolanan Bocah yang diselenggarakan oleh Sanggar Suryo Sumirat Mangkunegaran bersana Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta.

    Cublak Cublak suweng
    Suwenge ting gelenter
    mambu ketundung gudel
    Pak Empong lela lele
    Sapa ngguyu ndelikake
    Sir pong dele gosong sir
    Sir pong dele gosong

    Panggung permanen yang berada di Taman Sriwedari itu memang agak basah karena usai diguyur hujan. Genangan air memang belum kering betul meski sudah dibersihkan. Kondisi tersebut tidak menyurutkan anak-anak dalam mengikuti festival yang rutin terselenggara selama empat tahun terakhir.

    Dalam festival itu, peserta dari empat sanggar kesenian anak tersebut tidak memainkan dolanan bocah dengan sungguhan. Mereka mengemasnya dalam sebuah pertunjukan. Di setiap pementasan, mereka memperagakan beraneka macam dolanan anak serta lagu dolanan.

    Anak-anak dari Sanggar Semarak Candra Kirana misalnya, mereka memperagakan sejumlah dolanan anak melalui sebuah sandiwara. Dalam pertunjukan yang diberi judul Guyub tersebut mereka bercerita tentang kekompakan anak-anak kampung dalam bermain bersama.

    Mereka memperagakan sekelompok anak yang sedang bermain bersama. Ada sejumlah permainan tradisional yang dilakukan, seperti cublak-cublak suweng, jelungan, dakon dan ombak banyu. Meski hanya sepotong-sepotong, mereka mencoba mempertontonkan kembali dolanan bocah yang sudah mulai langka dimainkan tersebut.

    Lalu, datanglah sekelompok anak nakal yang mengganggu permainan tersebut. Bukannya bertengkar, kelompok anak yang merasa terganggu mencoba mengajak mereka untuk berkawan. Akhirnya, dua kelompok anak itu bisa bermain, menari dan bernyanyi bersama.

    Kelompok yang lain, Krido Budoyo lebih mengeksporasi lagu dolanan anak yang dibawakan sembari menari. Lagu-lagu seperti Cublak Cublak Suweng, Padhang mBulan serta Ilir Ilir. Selain itu, mereka juga menyajikan permainan lawas Gobak Sodor serta permainan lompat tali dengan karet gelang yang dirangkai sedemikian rupa.

    Menurut pelaksana kegiatan dari Suryo Sumirat Mangkunegaran, Esti Andrini, festival itu sengaja digelar untuk menghidupkan kembali dolanan anak yang semakin tersingkir oleh berbagai permainan modern. "Dolanan anak yang kebanyakan dilakukan secara berkelompok mampu melatih anak untuk berinteraksi dan bersikap sportif," katanya.

    Berbagai permainan modern seperti game online, video games dituding sebagai salah satu penyebab tersingkirnya permainan tradisional. "Padahal permainan itu membuat anak jarang berkomunikasi dengan kawan-kawannya," katanya. Dia berharap festival tersebut mampu menghidupkan kembali tradisi dolanan anak.

    Salah satu anak yang menonton, Kurnia Putra mengaku sudah tidak begitu mengenal permainan yang dipentaskan. "Kalau lagunya sih kadang-kadang dengar," kata siswa sekolah dasar tersebut. Menurutnya, teman-teman di sekolah serta di kampungnya memang sudah tidak pernah memainkan dolanan anak itu.

    Menurutnya, dia memang tidak memiliki banyak waktu untuk bermain dengan teman-temannya. "Tiap sore les dan ikut bimbingan belajar," kata anak Kampung Baron tersebut. Pada waktu luang, dia biasa memainkan permainan yang ada dalam perangkat telepon genggam yang dimiliki.

    Sayang, pembukaan kegiatan itu sempat molor hingga hampir satu jam dari jadwal. Padahal, anak-anak sudah siap di dekat panggung lengkap dengan kostum dan make up-nya. Rupanya, mereka harus menunggu kehadiran sejumlah pejabat daerah setempat yang terlambat mendatangi acara.

    AHMAD RAFIQ

    Topik terhangat:

    PKS Vs KPK
    | E-KTP | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh

    Berita lainnya:

    EDISI KHUSUS Cinta dan Wanita Ahmad Fathanah

    Para Pria Ini Merasakan Sakitnya Melahirkan

    7 Langkah Menjaga Kesehatan Alat Vital

    Waspada 6 Jenis Makanan Ini

    Mengenal Penyakit Sclerosis


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Nomor Urut Partai Politik Peserta Pemilu 2019

    Ketua KPU Arief Budiman memimpin pengundian nomor urut untuk partai politik peserta Pemilu 2019 pada Sabtu 17 Februari 2018, Golkar dapat nomor 4.