Rabu, 21 November 2018

Regenerasi Budaya Suku Dayak Bahau  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bocah suku Dayak Bahau pamer kemampuan menari di hadapan para tetuah mereka sebagai bentuk pengormatan mewarisi budaya leluhur, Selasa (12/3). di Samarinda, Kalimantan Timur. TEMPO/Firman Hidayat

    Bocah suku Dayak Bahau pamer kemampuan menari di hadapan para tetuah mereka sebagai bentuk pengormatan mewarisi budaya leluhur, Selasa (12/3). di Samarinda, Kalimantan Timur. TEMPO/Firman Hidayat

    TEMPO.CO, Samarinda- Tak ingin terkikis kemajuan jaman, Suku Dayak Bahau di Samarinda, Kalimantan Timur menurunkan budaya kepada anak-anak mereka. Keberhasilan regenarasi itu dipamerkan oleh puluhan bocah suku Dayak Bahau dengan menari, Selasa, 12 Maret 2013.

    Menurut Damianus Johan, tokoh suku Dayak Bahau di Samarinda melestarikan budaya harus dengan mewarisi kepada generasi yang lebih muda. Melalui Sanggar Tari Apau Puyaat, Damianus Johan berani menampilkan kesenian binaannya meski baru berusia tak lebih dari tiga bulan. "Kami tak ingin dicap sebagai suku yang tak menghargai budaya nenek moyang," kata Damianus Johan, Selasa, 12 Maret 2013.

    Dia mengatakan di pertengahan Maret seperti saat ini biasanya di kampung suku Dayak Bahau di Long Pahangai, Kabupaten Kutai Barat di gelar pesta. Masa sekarang menurut dia masa setelah panen. Menari bagian dari ritual suku Dayak Bahau mengucap terima kasih kepada Penguasa atas berkah panen. Jenis tariannya pun beraneka ragam.

    Para bocah dalam penampilannya, menari tarian yang temanya menanam dengan menugal. Menugal dilakukan oleh para pria dengan tongkat melubangi tanah. Sementara perempuan di belakangnya menabur benih ke dalam tugalan.

    Di Suku Dayak Bahau masih membudayakan menanam padi gunung, bukan padi tadah hujan. Padi gunung panen setiap enam bulan sekali. Tak hanya itu, para suku Dayak Bahau di pedalaman Kalimantan Timur juga menyajikan berbagai penganan kuliner khas mereka.

    Para bocah dan remaja menari, sedang para orang tua menyiapkan makanan untuk santap siang bersama. Di Samarinda, karena ketersediaan bahan terbatas, karena tak ada hutan dan sungai, makanan yang diolah terbatas. Namun tak menghilangkan kebiasaan memasak suku Dayak Bahau dengan cara serba bakar. Memasak nasi, mereka mengolah seperti lamang. Beras dibungkus daun pit dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar selama kurang lebih dua jam. Begitu pula dengan lauk, juga dimasak dengan menggunakan bambu.

    "Memasak dengan memasukkan bahan makan ke dalam bambu itu bagi kami sama saja dengan merebus. Itu kebiasaan kami sebelum mengenal perangkat memasak dari logam," kata dia.

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.