Selasa, 20 November 2018

Sawahlunto, dari Kota Hantu Jadi Kota Nyaman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kota Sawahlunto, Padang, Sumatra Barat. TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana kota Sawahlunto, Padang, Sumatra Barat. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah ekonomi Kota Sawahlunto bergeliat dari sebelumnya seperti mati suri, Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur, 67 tahun, menarik orang-orang dari luar Sawahlunto untuk datang. Obyek-obyek wisata baru dibangun. Terowongan tambang yang sudah ditinggalkan dibuka lagi. Setelah diperbaiki dan standar keselamatannya dijamin, terowongan itu juga dijadikan daya tarik.

    Bangunan-bangunan peninggalan Belanda direnovasi sesuai bentuk aslinya.

    Khusus di bidang pariwisata, menurut Amran, “Ini bisnis, bukan program. Sawahlunto harus untung,” katanya. Keuntungan itu untuk menggenjot pendapatan asli daerah. Sebelum menjabat wali kota, Amran memang adalah pengusaha Jakarta. Salah satu jenis usahanya adalah menjadi pemasok alat penyulingan air bersih.

    Ia jeli melihat peluang. Pada 2006, di Sawahlunto ia bangun water boom, yang pertama di Sumatera Barat. Tiga tahun kemudian, pemerintah Sawahlunto mulai menangguk laba.

    Dalam mengelola Sawahlunto, ia menerapkan gaya manajer perusahaan. Investasi pemerintah daerah, seperti pembangunan water boom, tadi dihitung betul kapan balik modal, kapan mulai untung. “Bedanya, perusahaan mencari profit untuk pemilik saham, Sawahlunto mencari benefit untuk masyarakat.”

    Walhasil, di bawah sang manajer, angka kemiskinan merosot tajam. Dari 17,18 persen pada 2005, tinggal 2,42 persen pada 2009—terendah kedua di Indonesia setelah Denpasar. Sawahlunto pun kini dikenal sebagai kota wisata.

    Kendati begitu, gaya kepemimpinannya bukan tak mengundang kritik. Amran dianggap sering memutasi bawahan. Soal ini, kata Amran yang Sarjana Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung ini, “Saya keras. Kalau tak mau kerja, saya parkir mereka ke tempat lain.”

    Amran adalah salah satu dari tujuh bupati/wali kota yang dipilih majalah Tempo dalam Liputan Khusus Kepala Daerah Pilihan 2012. Baca selengkapnya di Majalah Tempo Edisi Minggu, 9 Desember 2012: Bukan Bupati Biasa


    ANTON SEPTIAN | FEBRIANTI (PADANG)

    Berita Lainnya:
    Amran Nur, Pengusaha Jakarta Jadi Bupati Sawahlunto 

    Bupati Kubu Raya Coret Dana Rumah Dinas 

    Bupati Ini Kerahkan Preman Jaga Kerukunan Beragama

    Bupati Kubu Raya Pilih di Rumah daripada ke Kantor

    Cara Amran Nur Menyulap Kota Hantu Sawahlunto

    Wali Kota Depok Naik Sepeda Motor ke KPK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.